Berapa Banyak Perempuanmu, Ayah?

“Kelak kau dewasa, jangan sampai kau mendapatkan suami seperti ayahmu, nak,” pesan ibu kepadaku dua puluh lima tahun yang lalu. Tak tahu apa yang membuatnya bicara seperti itu kepadaku saat kami berada di dalam bajaj, menyusuri pemukiman padat di daerah Menteng. Berpindah tempat dari Tanjung Priok menuju pusat Jakarta tidak membuat jumlah zat karbon yang kami hisap sedikit berkurang.

“Pokoknya, jangan sampai! Ingat, ya nak…” Entah apa yang ada di pikirannya saat  itu. Raut wajahku tampak buncah, namun ibu masih saja melanjutkan ceramah. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, tak peduli kalau ia sedang berbicara pada bocah yang berusia empat tahun.

Tak banyak yang aku ingat bagaimana kejadian persisnya pada waktu itu. Yang kuingat hanyalah tangis ibu setelah tiba di rumah uti, ibu dari ayah. Masih terngiang gambaran jelas, ibu dari ayahku memeluk erat ibuku. Sementara aku, masih berdiri di depan pintu, memainkan ujung bajuku, sambil sesekali menyeka ingusku sendiri. Jangan salah tafsir. Aku tidak ikut terharu. Aku memang sedang menjadi bocah ingusan waktu itu.

“… Siti… Rani… Ani… Nina… Rosa… Evi… Tika…”

Terdengar ibu menyebut nama yang berbeda-beda sambil terbata-bata. Entah nama siapa yang ia sebut. Aku justru membayangkannya seperti ibu guru di sekolahku yang sedang mengecek daftar hadir murid-muridnya. Anehnya, yang disebut ibu tidak seperti apa yang disebut oleh ibu guru. Ibu hanya menyebut sederet nama perempuan.

“… Rima… Sari… Atika… Warni…”

Mengapa ibu begitu hapal dengan nama-nama itu? Ibu seperti sedang kerasukan dan merapal mantra. Sementara aku, bersila di depan pintu, memainkan ujung baju, sambil sesekali menyeka ingusku sendiri.

***

“Lingga…”

Meski tak terdengar lantang, suara itu cukup membuatku terhenyak. Lamunanku pun melesap. Sial. Alam bawah sadarku mampu membuat seseorang di depanku terabaikan selama 20 menit.

“Masih asyik melamun?” Tanya lelaki di depanku sambil tersenyum.

“Maaf. Mungkin aku terlalu terbawa derasnya arus rindu,” jawabku sambil menyesap cangkir yang berisikan hot jasmine tea. Semoga ini bisa dikategorikan sebagai apologi.

“Lalu, apa yang hendak kau tanyakan?” Tanpa tending aling-aling, lelaki yang berumur 71 tahun langsung menanyakan apa yang menjadi tujuanku di balik pertemuan ini. Apakah hidup terlalu singkat untuk sebuah basa-basi?

Aku menatapnya lekat. Melihat garis-garis keriput dari paras seseorang sama seperti melihat garis yang melingkar pada bagian penampang kayu gelondong. Kita bisa memperkirakan umur dari garis-garis tersebut. Sementara cara ia bertutur, dapat memperlihatkan jenis asam garam seperti apa yang telah ia santap selama ini.

“Siti, Rani, Ani, Nina, Rosa, Evi, Tika, Rima, Sari, Atika, dan Warni. Apakah kau mengenalinya?” Kupastikan tidak ada nama yang terlewat atau pun salah eja.

“Dari mana kau mengetahui nama-nama itu?” Konyol. Sekarang justru ia yang berbalik menginterogasiku.

“Dari sela-sela tangis ibu dua puluh lima tahun yang lalu.”

“Lelaki itu pemuja perempuan. Wajar saja jika ia mengagumi perempuan-perempuan lain, selain ibu, ibu mertua, dan istrinya. Jadi, seharusnya ibumu tak perlu menangisi hal-hal seperti itu.” Tak ada minuman yang ia pesan. Kekosongan gestur ia lampiaskan dengan memainkan sapu tangan yang ada di genggamannya.

“Persis seperti yang dikatakan uti dua puluh lima tahun yang lalu. Apa karena ia telah benar-benar mengenal ayah. Sementara ibu yang menangis karena deretan nama perempuan lain itu, belum mengenal ayah?”

“Ibumu belum mengenal lelaki seutuhnya, Lingga… Makanya, jika kamu belum memahami sifat dasar lelaki, maka jangan pernah membuat keputusan untuk menikah dengan lelaki.” Ia memainkan sapu tangan lebih cepat, seolah-olah mengalihkan kegelisahannya. Anehnya, gaya bicaranya tampak tenang. Antara muak dan salut untuk lelaki tua ini.

Aku mencoba untuk menenangkan diri sejenak. Memberi jeda pada percakapan kami.

***

“Baiklah. Terima kasih, sudah mau datang, Pak Sumitro.” Kataku seusai membereskan ponsel dan dompet yang tergeletak di atas meja.

“Sudah? Itu saja yang kau tanyakan?”

“Iya, itu saja…” Aku pun beranjak dari kursi, tanpa memberikan jabatan tangan tanda perpisahan.

Lelaki tua yang memakai kemeja putih bergaris dengan celana kain hitam itu pun ikut berdiri. “Lingga, kapan kau  menikah?”

Pertanyaannya membuat langkahku terhenti. “Aku belum memahami sifat dasar lelaki, jadi aku belum membuat keputusan untuk menikah dengan seorang lelaki mana pun. Bukankah itu yang kau ajarkan padaku barusan?”

Aku menunggu respons darinya. Sayangnya, ia justru bergeming.

“Sudah? Itu saja yang kau tanyakan?” Tanyaku balik.

“Ada satu lagi. Rindu seperti apa yang bisa membuatmu larut dalam lamunan tadi?”

“Aku  merindukan kita. Aku, ibu, dan kamu, ayah…” Semoga ia dapat melihat ketulusan dari senyuman yang kuberi di akhir jawaban. Dengan segera aku membalikkan badan, meninggalkan lelaki yang sudah lebih dari 10 tahun tidak lagi kupanggil ayah. Dengan segera aku membiarkannya menikmati punggungku dari kejauhan tanpa kalimat perpisahan.

“Ibu, maafkan anakmu yang telah menemuinya. Aku hanya ingin mengurangi rindu ini, meski tak pernah tuntas…” Ucapku dalam hati sambil menatap langit merah diterpa senja. Semoga permintaan maafku tak mengganggu peristirahatan abadinya.

Jakarta pada Juli 2012, seusai senja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s