Pacar Harap Lapor!

“Kesel nggak, sih kalau pacar kita tuh kalau pergi nggak pamit dulu?! Padahal, kalau kita yang pergi, harus pamit.”

 “Nah, dia kayak gitu karena ‘balas dendam’ sama kamu. Tapi, tenang aja. Setelah itu, dia pasti pamit sama kamu, kok.”

Berada di antara kedua teman saya itu, mau tak mau menyimak apa yang sedang mereka perbincangkan. Saya sih, senyum-senyum kecil saja. Ya, masalah kecil yang terjadi saat sedang menjalin hubungan interpersonal dengan seseorang justru sebenarnya bisa menjadi hal yang menggelikan bagi orang lain. Terdengar lucu – yang dalam arti menghibur.

“Dih, males banget kalau dia sampai balas dendam, gitu. Ya, emang, sih.. dulu aku dijemput sama temenku yang cowok, tapi gak bilang-bilang dulu sama dia…”

Soal lapor-melapor dalam berpacaran tampaknya sudah menjadi hukum wajib bagi sebagian besar pasangan. Kalau mau pergi sama temen, pamit dulu. Kalau mau berangkat ke kampus atau ke kantor, bilang dulu. Bahkan, pamit sebelum tidur juga menjadi hal umum (yang seharusnya secara otomatis) dilakukan. Tapi, apakah pembicaraan (keluhan, lebih tepatnya) teman saya tadi juga menjadi trending topic bagi teman-teman yang lain?

Ilustrasi oleh: Dipewein

 

Satu persen lainnya

Sebanyak 99 persen pasangan boleh saja memiliki aturan soal lapor-melapor, tapi kita juga tak bisa menampik bahwa 1 persen pasangan lainnya tidak menerapkan “hukum wajib” tersebut. Seorang teman-yang juga menjalani LDR- mengaku kalau tidak begitu rajin melapor kepada pasangannya.

“Sebenarnya, waktu masih PDKT lebih rajin laporan. Setelah jadian, malah makin jarang. Kami punya ‘kesadaran’ melapor kalau pamit sebelum melakukan perjalanan jauh, pulang ke rumah lebih malam karena ada acara, atau saat menghadiri acara-acara tertentu yang menyenangkan. Kalau pergi sama teman, pulang bareng sama teman, nganterin teman yang lawan jenis, atau sekadar pergi ke kantor, kami malah jarang kasih kabar. Hehehe…” Katanya begitu.

Saya sendiri tak mau menghakimi atau menilai apakah aturan dalam berhubungan bisa menjadi salah satu indikator tingkat kedewasaan suatu hubungan atau tidak. Bagaimana pun juga, ibaratnya sebuah rumah, tentu punya aturan (etika) yang berbeda-beda. Lain ladang, lain belalang. Begitu juga dalam menjalani hubungan interpersonal, setiap pasangan punya aturan masing-masing yang telah menjadi konsesus bersama demi sebuah kenyamanan.

“Karena ngikutin rule waktu PDKT dulu, eh malah kebawa pas udah jadian. Aku sempat kirim SMS untuk nanya kabar karena hampir seharian nggak ada komunikasi. Eh, malah kena omel: ‘Memangnya setiap hari aku harus melapor ke kamu 1×24 jam? Kalau aku nggak kasih kabar, belum tentu aku kenapa-kenapa.’ Nyesek banget, deh! Hahaha…” Tambahnya dengan raut wajah yang tidak dapat saya deskripsikan: antara sedih atau geli.

 

*Catatan Selomeso pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s