Perhatian (Lagi)

Baru saja membuat tulisan tentang perhatian satu hari yang lalu. Ternyata, semesta memberikan kejutan lagi. Kali ini datang dari salah satu sahabat yang saya kenal sejak duduk di bangku SMA, Visca Pakarti.

“Ndezooo, semalam gue mimpi elu…”

Itulah bunyi pesan dari BlackBerry Messenger (BBM) yang diterima tadi pagi (28/9). Ya, “Ndezo” adalah nama yang kerap ia pakai untuk memanggil saya. Ah, sudah berapa lama saya tak mendengar sapaan itu. Sudah lama juga kami tak bersua dan saling bertukar cerita, tentunya bersama dengan beberapa sahabat kami lainnya: Sari Indah, Stephanie Denady, Setenia Sasmita, Galih Pamungkas, dan Ditra Yudha.

Kapan terakhir kami berkumpul dengan lengkap? Mungkin, sekitar empat tahun yang lalu, sebelum kami menjalani kehidupan baru menjadi mahasiswa. Saya, Sari, Ditra, dan Galih memutuskan untuk kuliah di Jogjakarta. Sementara Visca, Setenia, dan Stephanie memutuskan untuk kuliah di Jakarta dan sekitarnya. Sejak saat itu, setiap tahun kami memutuskan untuk mengadakan acara kumpul bareng di rumah Visca untuk berbagi cerita, tawa, dan tangis.

Sayangnya, menyamakan waktu tujuh kepala rasanya pusing tujuh keliling. Alhasil, pertemuan pun sering kali dibagi menjadi beberapa kloter layaknya umat yang ingin naik haji. Lebih ironis lagi ketika sebagian besar kami sudah berada di dalam satu kota, pertemuan pun masih berakhir menjadi wacana. Beruntunglah, kami masih bisa memanfaatkan media komunikasi untuk terus menjalin keakraban.

Interaksi yang kian berkurang dan tergerus oleh kesibukan masing-masing membuat kami saling merindukan diam-diam. Meskipun kami telah memiliki kehidupan masing-masing, sahabat dekat yang baru, atau pun mimpi-mimpi yang terwujud meski tak sempat dibagi, saya yakin bahwa tak ada istilah “mantan sahabat”. Apa pun yang terjadi, rasa saling memiliki tetap ada di dalam diri kami masing-masing.

“Gue mimpi kalau elu meninggal, trus gentayangin gue. Jadi kangen…”

Visca melanjutkan apa yang menjadi bunga tidurnya. Saya yang waktu itu masih di dalam angkutan kota menuju kantor tak mampu menyembunyikan lengkung senyum di bibir; merasa bahagia bahwa masih ada orang yang memimpikan  dan merindukan saya. Ini kejujuran alam.

Belum usai

Baru saja mengetik dua paragraf  tulisan ini, ternyata kejutan datang dari Ibu Anita, dosen pembimbing skripsi saya. Bentuk perhatian datang dari SMS yang beliau kirim. Sebenarnya, berita yang beliau sampaikan bisa saja hanya soal kecil bagi orang lain, tapi bagi saya itu adalah sebuah penghargaan. Setidaknya, apa yang telah saya kerjakan masih dapat dikemas ulang dan berguna bagi orang lain. Terima kasih, Bu…

Kini saya tak gamang lagi dalam bersikap. Peka dan hargailah orang-orang yang ada di sekitar, terutama mereka yang masih bersedia memberikan perhatian meskipun acap kali terabaikan.

Terima kasih, semesta!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s