Cinta Adalah (Sebuah Mosi Tidak Percaya)

Cinta adalah memaafkan

Cinta itu memaafkan, begitu katanya. Namun, apa yang terjadi padaku? Kini aku berada di dalam penjara atas tuduhan melukai perasaan orang lain. Kau bilang bahwa kau mencintaiku, sedangkan aku tidak. Aku pun divonis seumur hidup karena kau butuh waktu untuk memaafkanku. Itukah yang disebut dengan cinta, wahai lelaki?

 

Cinta adalah apa adanya

Cinta itu apa adanya, begitu katanya. Namun, apa yang terjadi padaku? Kamu bilang bahwa rokok itu tidak baik untukku. Bagiku, rokok adalah kuncianku untuk melampiaskan emosi. Itu lebih baik daripada melakukan kekerasan kepadamu. Kamu bilang bahwa rambut panjangku membuat diriku tidak rapi dan ibumu meledekku seperti lelaki jejadian. Bagiku, itu adalah salah satu ekspresi kenyamananku sebagai diriku apa adanya. Aku pun tidak pernah protes ketika kau memakai baju minim dan berargumen atas nama kenyamanan diri.

Satu lagi. Kau bilang kalau ukiran tato di tangan ini membuat diriku seperti anak berandalan. Bagiku, itu salah satu cara agar terus bisa mengenang ibuku yang telah meninggal. Rosiana, sebuah nama yang terukir mungil di pergelangan tangan kananku. “Aku kayak gini karna aku cinta sama kamu!” Begitu katamu. Sekarang, aku lebih merindukan diriku sendiri daripada merindukanmu, wahai perempuanku.

 

Cinta adalah sabar

Cinta itu sabar, begitu katanya. Namun, apa yang terjadi padaku? Aku adalah perempuan yang mengagumimu sejak 20 tahun yang lalu. Pernah kuungkapkan rasa, namun kau menolak.

Di satu sisi, acap kali aku menatap matamu, aku justru yakin bahwa kau masih ada harapan untukku suatu saat nanti. Kau sudah berkeluarga dan aku masih di sini menunggumu. Aku bilang, ini adalah seni dari yang namanya cinta, yaitu menunggu. Tapi, kau bilang kalau aku ini gila. Oleh karena itu, kau memasukkanku ke dalam Rumah Sakit Jiwa agar aku disadarkan supaya tak menunggumu lagi. Tapi kau salah, kini aku justru semakin terpenjara oleh masa lalu.

 

Cinta adalah hak semua orang di dunia ini

Cinta itu universal, di mana semua orang berhak dicintai dan mencitai, begitu katanya. Namun, apa yang terjadi padaku? Semua berawal dari ketika aku memperkenalkanmu di depan ayahku, “Pak, ini pacarku yang baru. Kami ingin menjalani hubungan yang serius.” 

Tanpa menahan volumenya, beliau pun menghajarku dengan kata-kata,“Bocah edan! Kui pacarmu?” Aku membalasnya, Kata ibu, dia cantik kok, pak.. Kenapa bapak begitu marah?” Dia pun menegaskan alasan yang sebenarnya sudah dapat kuduga, Ndhuk, kowe ki cah wedhok.. Masa’ pacaran sama.. Mau nikah, meneh! Nek kowe nekat nikah karo pacarmu kui, kowe minggat wae!” Aku meratap ke arah ibu, dia berkata lirih yang membuatku semakin pedih, “Ibu manut karo bapakmu, ndhuk..” 

Namun, apa yang terjadi padaku? Aku tetap menikah denganmu namun aku kini di penjara wanita. Sebulan sebelum pernikahan kita, aku diam-diam menusuk jantung ayahku dengan pisau dapur. Itu semua kulakukan agar dapat menikah denganmu. Bapakku seharusnya tahu bahwa aku berhak mencintai siapa pun.

Sayangnya, ketika kau menengok di sel penjara ini, kau berkata “Sayang, aku mencintai perempuan lain semenjak kau di penjara..” Aku pun marah hingga membuatmu menangis. Lalu kau mengucap kata bercampur air mata, “Mengapa kamu marah? Bukankah kau pernah bilang bahwa semua orang berhak untuk mencintai dan dicintai? Itu kan, yang kau ucapkan kepada bapakmu?” Kau semakin membuatku terpenjara oleh karma.

 

 

*ini bukan untuk dijadikan perdebatan bagi yang mengimani dan tidak mengimani cinta. Tabik!

Sebuah catatan yang pernah tertulis pada 12 Januari 2011 di ruang yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s