Beda

Siang itu, 6 Oktober 2012, saya bersua dengan salah satu sahabat semasa kuliah, Katarina Hyber. Rasanya, tentu saja menyenangkan. Dia datang jauh-jauh dari Yogyakarta dan meluangkan waktu untuk bertukar cerita setelah empat bulan minim komunikasi. Kami bertemu di sebuah mal di Jakarta Barat, mengobrol di tempat makan yang menyediakan menu mie.

Tawa saya tiba-tiba berhenti saat menuangkan sambal ke dalam kuah mie. Melihat dua benda cair tersebut yang tak menyatu begitu saja. Seketika jadi mengingat pelajaran IPA tentang massa jenis air dan minyak yang berbeda. Ya, berbeda dan tak dapat menyatu. Ah, apakah perbedaan akan selalu begitu?

Lupakan sejenak tentang keceriaan saya dengan Rina yang tak akan pernah terlupakan.

Lupakan sejenak tentang massa jenis air dan minyak yang entah apa yang mau dilupakan karena tak ada yang diingat sedikit pun.

Saya mencoba untuk fokus memikirkan perbedaan dan penyatuan.

TAK BISA MENYATU bukan berarti tak bisa memberikan kenikmatan baru.

Ada kalanya perbedaan tak bisa disamakan atau menuntut untuk disamakan. Ada kalanya perbedaan dibiarkan apa adanya sebagai pengingat bahwa ada keseragaman juga bisa menghadirkan kebosanan.

Ini rumusan yang pernah saya buat pada tahun 2007 silam.

Apakah kita mau diseragamkan dengan orang Tibet atau eskimo yang setiap harinya berpakaian tebal? Tentu saja tidak. Pakaian itu disesuaikan dengan kondisi lingkungan mereka. Sebagian dari kita tentu tak ingin disamakan dengan masa lalu dari orang yang sedang berhubungan dengan kita.

Ada pula soal agama atau keyakinan yang memiliki kadar kenyamanan yang berbeda-beda dan tak bisa disamakan. Masih banyak hal-hal prinsipil lainnya yang juga tak menuntut untuk disamakan.

Tapi, apakah perbedaan tak bisa membentuk persatuan?

Apakah perbedaan tak bisa menyatukan hubungan antarmanusia yang memiliki kesamaan rasa?

Apakah perbedaan tak bisa menghadirkan keindahan pada kesamaan rasa?

Bagi saya, perbedaan itu dapat mengingatkan. Anggap saja ini sebuah bentuk keoptimisan bahwa perbedaan memiliki fungsi positif ketika ia diciptakan. Kehadirannya tak semata sebagai perusak.

Bukankah alam semesta menciptakan segala sesuatu dengan dua sisi dan tergantung pemanfaatan yang dilakukan oleh manusia? Tapi, seberapa jauh seseorang dapat menerima perbedaan? Ini adalah pertanyaan yang saya ajukan pada teman-teman di Peace Generation Jogja, komunitas yang mengusung  pesan perdamaian di atas keberagaman .🙂

 

*terima kasih untuk Rina yang telah mengajak saya makan di sana sehingga bisa bertanya seperti ini  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s