Dopping

Deru suara mesin kipas angin terus menggebu menghantarkan angin pembawa kesakitan, menyumbang riuh bersama suara tuts keyboard yang hingga larut malam ini terus kutekan. Ah, konyol adalah ketika aku masih saja bisa mendengarkan semua sumber suara itu dengan kondisi kedua telinga yang tersumpal earphone memainkan lagu yang diulang-ulang.

TERUS BERPACU dalam bekerja tanpa luput menaruh rindu padanya.

Di tengah-tengah pelarianku akibat deadline tulisan, masih saja pikiranku melayang ke mana-mana. Baru saja melanjutkan dua paragraf setelah bersusah payah menemukan lead yang pas, tanganku justru memilih untuk angkat kaki dari keyboard. Ponsel yang ada di sisi kiriku yang dituju. Ah, konyol adalah ketika aku tahu bahwa tak ada pesan atau notifikasi yang masuk, namun masih saja terus-menerus menengok kotak masuk dan aplikasi chatting. Pikiran buntu seketika dan kian membuncah. Kutegak satu pil kecil berwarna putih yang ada di sebelah kananku.

Satu pil memberikan ketenangan dalam berpikir dan juga dapat memacuku untuk terus berlari di depan monitor komputer. Anggap saja seperti perokok yang membutuhkan sebatang lintingan nikotin untuk melepas cemas dan memacunya untuk kembali berkarya.

Mengajak jariku terus menghentakkan keyboard, menghentikan aliran kata tiba-tiba, menyaksikan diam di dalam ponsel, kebutuan pikir, penumpukkan cemas, menelan satu pil, dan akhirnya kembali berlari. Inilah yang terjadi setiap malam. Malam ini adalah malam yang ke-342.

***

Tiga setengah jam berada di depan monitor ternyata tak sia-sia, dua tulisan terselesaikan dan saatnya menuntaskan satu tulisan lagi. Pil andalanku memang sangat membantu, meski sudah tiga bulan ini aku mangkir untuk berkonsultasi dengan psikiatri Retno.

Sebelum melanjutkan topik selanjutnya, kutengok jam di monitor komputer yang sudah menuju pukul dua dini hari. Akan menyisakan waktuku untuk beristirahat jika aku berlari dengan kecepatan dua kali lipat dan tak memelintirkan fokus ke arah ponsel.

Kusetel kipas angin pada level dua. Derunya yang semakin kencang memacuku untuk terus menggerakkan jari lebih cepat. Berpikir untuk bekerja lebih cepat lagi, tangan kananku mencoba untuk meraih botol obat penyemangatku, sementara kedua mataku fokus memeriksa kembali ratusan kata yang ada di monitor. Anehnya, baru kali ini tanganku membutuhkan waktu lebih dari dua detik untuk merengkuh botol itu.

Ma, hentikan…

Seketika aku terhenyak. Sekali lagi, meski kedua telingaku tersumpal earphone, aku masih bisa mendengar suara-suara lainnya, termasuk suara anak perempuanku yang muncul di sampingku tanpa disadari.

Lingga, mengapa kamu belum tidur?

Aku terbangun karena mama.  

Maafkan mama, nak. Mama akan matikan kipas angin ini.

Bukan itu, ma…

Lalu?

Aku terbangun karena suara tangis mama.

Hehehe… Mama tidak menangis, Lingga. Mama sedang mengetik.

Tangan lembut dari gadis berusia 14 tahun itu menarik tanganku yang sedikit bergetar. Menggenggam erat dan mengarahkannya pada pipiku.

Basah kan, ma?

Aku tersenyum. Segala suara masih kudengar, tapi aku justru tidak bisa mendengarkan suara tangisku sendiri? Apa karena aku sendiri yang tanpa sadar memilih untuk mengabaikannya?

Tidur, yuk ma…

Mama sedang dikejar deadline, Lingga… Sabar ya. Kamu yang seharusnya tidur. Kamu harus sekolah.

Mama tidak punya deadline. Mama hanyalah mantan karyawan bagian promosi penerbit buku yang ditinggal mati oleh seorang jurnalis ketika bertugas. Yang mama lakukan tiap malam hanyalah rekaan ulang dari apa yang papa lakukan setiap malam: mengetik sambil menunggu kabar mama pulang dari acara road show di luar kota. Mama perlu istirahat.

Apa yang ia ucapkan adalah kebenaran yang benar-benar membuatku tertampar.

Lingga, rupanya kau sudah dewasa…

Lukamu yang mendewasakanku, ma… Ayo, kita tidur. Besok sore kita harus bertemu dokter Retno. Oke, ma?

Okay, my dear….

***

Anggap saja seperti Lance Amstrong yang tertangkap basah mengonsumsi dopping. Kini aku juga tertangkap basah oleh anakku sendiri, meski aku sendiri tak menyadari bahwa aku membasahi pipiku sendiri.

#np Glorious Time – The Adams

*terima kasih untuk kawan yang pernah memberikan kalimat:
“Karena semua pertumbuhan dan perkembangan itu diawali dari sakit…

2 thoughts on “Dopping

    • Hehehe… aku suka bikin cerita kayak gini, mas…Kalau ini kejadian, bisa jadi kita justru tak akan menganggapnya sebagai penderitaan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s