Menunggu Giliran

Ma, tunggu ya… adek mau foto sama temen-temen…

Berkali-kali saya mengucapkan kalimat itu kepada mama yang menemani seremonial kelulusan saya, tepat setahun yang lalu. Beruntunglah, ia ditemani sepupu saya. Setidaknya, kesedihan mama tak bisa memboyong bapak ke Yogyakarta bisa terabaikan. Mungkin, sedikit.

Bolehlah saya mengakui bahwa ada ego besar untuk bertemu dengan kawan-kawan saat itu. Saya merasa butuh keramaian sebelum akhirnya menikmati perjalanan Yogyakarta-Klaten dalam kesadaran bahwa tak ada kakak dan bapak yang menemani. Semua memang luput dari rencana dan mimpi, tapi bukankah kebahagiaan adalah pilihan?

Bagi sebagian orang, wisuda hanya seremonial. Kelulusan itu keharusan. Bagi saya, setiap orang memiliki alasan sendiri apakah akan mengikuti wisuda atau tidak. Kadang kala, ada hal-hal personal dan emosional yang tak bisa dipahami oleh orang lain. Bagi saya, wisuda itu pilihan dan kelulusan jelas sebagai keharusan.

Setahun yang lalu, 29 Oktober 2011

Saya meminta tolong kepada teman-teman 12,9 kine UAJY untuk berkumpul. Inilah (sebagian dari) mereka.

IA MEMILIH SECARA ACAK siapa yang akan mendapatkan giliran untuk mencicipi kejutan.

PERTANYAAN RETORIS. Apa jadinya jika saya tak memilih berkuliah di sini?

Di saat itu, saya justru berpikir dalam hati. Semua pasti ada gilirannya. Bukan soal cepat, lambat, atau bahkan tepat waktu (4 tahun). Frase yang digunakan adalah “waktu yang tepat”.

Bukan kebetulan, sebagian teman yang berfoto bersama saya kini telah memiliki gilirannya. Sombret alias Nikko Sugiyanto menyusul pertama. Selanjutnya, diikuti Winant Marcelino (Ino)Valent Leva, Yudo Nugroho, dan Giras Pasopati. Senang? Tentu saja saya ikut senang. Untuk yang lain, saya masih menunggu giliran kalian. Kapan pun itu, pasti akan saya tunggu. Bukankah tak ada istilah “terlambat” untuk sebuah kabar gembira?

Semoga tulisan ini tak berlebihan untuk seorang kawan yang sedang merindukan sekumpulan kawan di seberang sana.🙂

~terima kasih untuk alam dan waktu

yang telah berkoalisi memberikan kejutan-kejutan yang “terencana”

*sejumlah kenangan dalam perayaan terekam di album unattached intellectuals

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s