Rumah

Ketika hidup dimaknai sebagai perjalanan, maka itu menandakan bahwa hidup memang harus dijalani, apa pun yang terjadi.

Sama halnya dengan apa yang sedang kulakukan sore ini. Berjalan-jalan menikmati udara usai hujan dengan pohon tanjung yang terus mengikuti sepanjang jalan. Berjalan-jalan menyusuri bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri sebagai penghias kota, saksi bisu atas segala wira-wiri yang terjadi di jalanan. Retak-retak halus yang terukir di tembok bangunan itu mungkin seperti gurat keriput di wajah manusia, menandakan usia, atau bahkan menyimpan sejuta cerita tak terkira.

ru·mah n 1 bangunan untuk tempat tinggal; 2 bangunan pd umumnya (spt gedung) -KBBI

home noun 1 the place where one lives permanently, especially as a member of a family or household; 2 an institution for people needing professional care or supervision; 3 the finishing point in a race -Oxford Dictionary

Di usiaku yang belum lewat seperempat abad ini, barangkali terlalu dini jika membicarakan soal rumah. Atau, apakah harus segera memikirkan tempat tinggal yang menjadi titik persinggahan ketika lelah berkelana?

Aku terus berkeliling, bertemu banyak rumah, namun tak selintas pun berniat untuk mengetuk pintu satu per satu. Aku masih merasa asyik berkelana, menebar asa.

Akan tetapi, tiba-tiba aku memutuskan untuk berhenti di depan rumah tua nan usang, tampak tak terawat. Kuberanikan diri untuk mendekatinya dan perlahan-lahan tanganku melekat di dindingnya, bergerak mengikuti retak halus yang kasatmata.

“Rumah itu sangat kotor dan berantakan, waktumu akan habis hanya untuk membersihkan dan menatanya ulang. Pergilah!”

Ada sesosok lelaki tua dari pinggir jalan yang menegurku. Tampaknya, dia tinggal beberapa blok dari sini. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan langkahku semakin mapan.

***

Ingatanku tentangmu tak akan pernah hilang dan aku pun tak akan mau menghilangkannya.

Menemukanmu dalam keadaan tidak baik-baik saja bukanlah sebuah penyesalan, melainkan sebuah pembelajaran atas kesabaran. Lalu, ketika aku harus meninggalkanmu dalam keadaan yang lebih baik bukanlah sebuah pengkhianatan, melainkan sebuah kedewasaan dan keikhlasan.

Sial. Sampai kapan aku terus memelukmu seperti ini?

Sudah lebih dari dua jam aku memeluk dinding rumah ini, tempat persinggahan ketika lelah berkelana. Sudah lebih dari dua jam air mata terus membasahi dinding yang telah kucat dengan warna putih susu, membuatnya lebih rapi, namun tetap lembut. Sudah lebih dari dua jam aku memutar kembali bagaimana pertemuan terjadi di masa lalu. Sudah lebih dari dua jam pula kubiarkan tas ransel ini kosong, tak tahu mana yang harus lebih dulu kukemas: harapan atau luka? Sudah lebih dari dua jam aku memikirkan sebuah realita.

Hei, adakah pesan terakhirmu untukku? Atau, kau akan memilih untuk membisu, menyimpan kata-kata, dan membiarkan kesedihan tak tersingkap?

Kulepaskan pelukanku dan melemparkan pandangan di setiap sudutmu. Dapur, yang dulu menjadi tempat pembelajaranku menyediakan kopi untukmu di setiap pagi. Ruang keluarga, yang dulu menjadi tempat kita bercengkrama, bertukar tawa, dan meredam amarah dengan rindu yang bertalu-talu tersimpan. Bahkan, kau tak sungkan mengecup kedua kelopak mataku yang kerap kali menangis sebelum keberangkatan kereta. Lalu, apakah kau ingat dengan teras depan rumah? Ya, di sanalah kita menikmati senja bersama dengan secangkir teh hangat, sambil menyapa para tetangga yang melintas.

Ah, sudahlah.

Ada kalanya kita meninggalkan rumah yang telah menjadi tempat tinggal bertahun-tahun dan membiarkan orang lain merasakan kenyamannya sama seperti kita yang menikmati lebih dulu.

***

Belum ada satu kilometer aku meninggalkanmu, kupalingkan wajah ke belakang, merekam wajahmu untuk terakhir kalinya. Beruntungnya dirimu. Terlihat seorang perempuan menapaki jejaknya perlahan-lahan mendekatimu, membelai dindingmu yang kini tak menampakkan lagi retak halus. Semoga ia dapat merawatmu lebih baik dan berbagi kesabaran yang lebih untukmu.

 

Tak akan ada lagi lantunan senandung Pulang milik Andien di perjalanan kali ini sebab aku kembali tak mengenal kata “pulang”. Kini aku tuna wisma.

Tangerang, 10 November 2012

Untuk yang telah menjadi rumah, hatimu.

2 thoughts on “Rumah

  1. sik sik sik… “Akan tetapi, tiba-tiba aku memutuskan untuk berhenti di depan rumah tua nan usang, tampak tak terawat. Kuberanikan diri untuk mendekatinya dan perlahan-lahan tanganku melekat di dindingnya, bergerak mengikuti retak halus yang kasatmata.”

    Apa latar belakang untuk memutuskan memilih rumah ini? Karena senangkah, karena keunikannyakah, karena mbangane selak dituku uwongkah.. Atau apa? Trigger e opo iki..😀

    • intuisi?
      Melalui tangannya yang bergerak mengikuti retak halus dinding rumah, perempuan itu bisa merasakan kenyamanan. Kehangatan yang sebenarnya hadir di balik arsitektur yang (terlihat) usang.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s