Curhat kepada Tuan Sapardi

Tuan Sapardi, sajakmu membuat ingatanku kembali menyeruak.

Hari ini suratku sampai di Yogya.

Di tengah-tengah kemacetan Jakarta, aku berusaha mengirimkan surat.

Ia tak pernah mengirim apa pun.

Aku tahu itu. Ia sedang terjebak kenyamanan akan sebuah ingatan

Ketika suatu malam selalu saja terburu-buru mengantarku ke stasiun.

Ia tak sempat menulis apa pun akhir-akhir ini

Ia suka membayangkan aku dibonceng sepeda motor sekitar Malioboro

Berhenti di warung bakso dengan kuah yang terlalu bening untuk seukuran kuah bakso.

Membicarakan pengunjung yang asyik memperbincangkan pemeran FTV yang sedang disetel

Mungkinkah segalanya seperti dulu?

Bayangkan kalau nanti kami ke sana lagi! Di surat itu ada gambar gang sempit, bermuara di sebuah kegelisahan tempat kami suka nyasar

Menuliskan tentang pantai, kekokohan gunung, dan taman

yang ingin kami lewati: gelas yang tak pernah penuh. Hahaha, dasar!

Kami suka membaca ulang percakapan yang tersimpan,

catatan kenangan yang tak akan pernah dibawa lagi untuk masa depan

sebuah  alasan mengapa kupilih sonet 11-mu, Tuan…

Tangerang, 13 November 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s