Stranger will be A Stranger

Sekitar dua tahun yang lalu, saya kembali bergabung dalam kelas Mata Kuliah Teori Komunikasi. Ya, tanggung jawab menjadi asisten dosen mewajibkan saya untuk kembali belajar dan terus memperkaya ilmu. Waktu itu teori yang dibahas adalah Penetrasi Sosial, salah satu teori komunikasi yang mudah untuk dicerna. Saya yakin, beberapa teman (yang mengambil Ilmu Komunikasi) juga mengakuinya.

Sang dosen, Ibu Yudi Perbawaningsih, memperlihatkan “irisan lapisan bawang” yang menjadi salah satu inti dari Penetrasi Sosial. Irisan yang menunjukkan tahap dua orang menjalin komunikasi interpersonal. Yang tadinya tidak memiliki relasi yang dekat, kemudian berangsur-angsur menjadi dekat. Yang awalnya berada di lapisan luar, semakin lama berada di lapisan inti. “Seperti seseorang yang sedang melakukan pendekatan (PDKT) saja,” saya lebih senang membuat pemahaman praktis seperti itu.

***

Menjalin Hubungan dengan Analogi Lapisan Bawang
Altman dan Taylor mengambil perumpamaan dari struktur kulit bawang. Mereka percaya, seseorang dapat dianalogikan sebuah bawang, dengan beberapa layer dari bawang yang menggambarkan berbagai aspek dari personalitas seseorang. Sedangkan lapisan yang lebih luar lagi, merupakan public image seseorang atau apa yang bisa ditangkap dengan mata telanjang.
Reciprocity, hal timbal balik atau proses seseorang membuka peranan keorang lain. Ini adalah sebagai komponen pokok dalam Teori Penetrasi Sosial. Oleh karena itu, suatu hubungan tidak akan berjalan dengan lancar tanpa adanya reciprocity, yaitu keterbukaan yang dilakukan satu orang ke yang lainnya, adanya “saling”.
Penetrasi sosial dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu: keluasan dan kedalaman (breadth dan depth).
Breadth mengarah pada angka dari berbagai macam topik yang didiskusikan di dalam hubungan, breadth time menyinggung pada banyaknya waktu yang dinikmati ketika berkomunikasi tentang bermacam-macam topik.
Breadth adalah banyaknya topik yang didiskusikan dalam sebuah hubungan. Sedangkan definisi dari breadth time adalah banyaknya waktu yang dipakai pasangan ketika membahas berbagai macam topik. Depth ialah tingkatan dari keintiman yang menjadi topik utama untuk didiskusikan.
Depth mengarah ke tingkatan dari keintiman yang menjadi topik diskusi. Ketika hubungan berpindah ke arah intim, kita mengharapkan topik pembicaraan yang didiskusikan semakin luas, dengan beberapa topik yang diperdalam.
Sebagai catatan, topik yang dinilai intim adalah topik yang dinilai sangat privasi (umumnya, soal keluarga, seks, atau hal personal), namun tiap orang memiliki kadar privasi yang berbeda-beda.

onion

 ***

Di tengah penjelasan dosen, tiba-tiba ada mahasiswa yang bertanya, “Bu, apakah irisan tersebut juga bisa mengarah ke luar?” Dengan yakin dan mantap, Ibu Yudi menjawab, “Bisa saja.”

Ya, bisa saja. Terkadang saya percaya bahwa orang asing yang tadinya menjadi orang terdekat pun akan kembali menjadi orang asing bagi kita. Bahkan, ia berangsur-angsur lebih nyaman jika saling menjaga jarak, meski awalnya sempat merasakan keakraban yang menghangatkan. Atau sebenarnya, selama ini yang terjadi hanyalah memaksakan keakraban di tengah keterasingan?

It’s amazing when strangers become friends but it’s sad when friends become strangers.” Kalimat yang dilihat Budiman Hakim di halaman Facebook (Sex After Dugem: Catatan Seorang Copywriter, halaman 325)

Tangerang, 11 Desember 2012
Pukul 23.17 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s