Di Stasiun Kereta Malam Ini

12 Desember 2011

Pukul 21.30 WIB

 

Sendiri di Stasiun Tugu,

entah siapa yang ia tunggu

Orang-orang datang dan lalu,

ia cuma termangu

 

Membaca sajak Sitok Srengenge malam ini seperti sedang menertawai diri sendiri. Konyol. Seandainya aku adalah penyair, tentu lihai menjadikan stasiun seperti taman bermain, mengundang imajinasi yang tak terbatas. Ribuan kata akan terus terangkai dan sejuta makna akan tercipta. Sementara aku, hanya bisa memainkan kedua bola mataku, merekam apa yang terjadi malam ini dan membandingkannya dengan ingatan.

“Halo… Aku udah di peron deket jalur lima…”

Nyaris tidak ada yang berubah dari sebelumnya. Rasa panik yang hadir karena harus mengejar waktu keberangkatan. Kita harus mengurangi percakapan di detik-detik terakhir pertemuan agar kereta tak meninggalkanku. Sebenarnya, itu aneh. Aku justru ingin berpisah denganmu dan seolah-olah tak sabar ingin bertemu dengan kereta. “Tak apa, itu berarti kau tahu bagaimana menciptakan rindu di antara kita,” itulah kalimat penghiburanmu sambil menyembunyikan kesenduan. Nyaris tidak ada yang berubah, kecuali satu…

Nyaris tidak ada yang berubah dari sebelumnya. Masih saja ada rasa bersalah karena telah menipu petugas stasiun, ada yang menyusup tanpa tiket keberangkatan. Nyaris tidak ada yang berubah, kecuali satu…

“Lingga… gokil! Bikin deg-deg-an, nih!” Teriak Mba Siti yang sebenarnya masih berjarak beberapa meter dari tempat dudukku. Langsung saja aku bangkit berdiri dan memberikan bahasa isyarat agar ia mengecilkan volume suaranya. Ya, yang berbeda adalah sosok yang menyambangiku ketika tiba di peron, sosok penghilang cemas sebelum perpisahan. Malam ini tak seperti malam yang sudah-sudah.

“Ternyata, kamu benar. Petugas peron itu percaya kalau aku mau ngambil uang di ATM BNI. Lalu, pura-pura masuk ke dalam ATM, lalu keluar. Menuju ke arah pintu keluar, tapi beberapa menit kemudian berputar arah dan menembus blok sebelum mushola. Olala! Kita bertemu…” Sosok yang kukenal bijaksana ini terlihat ekspresif sekali. Jangan-jangan ini pertama kalinya ia berbuat kriminal.

“Awalnya, aku juga nggak yakin kalau ini berhasil. Ternyata, petugas itu tak belajar dari kesalahan…” jawabku dengan senyum singkat. Entahlah, mungkin hanya di stasiun ini saja seorang penyusup bisa bersenjatakan alibi untuk menembus birokrasi PT KAI tentang pembatasan akses peron bagi pengantar.

“Tapi, mengapa kau tetap memberi tahu cara itu kepadaku?” Tanya perempuan yang usianya dua tahun lebih tua dariku itu sangat penasaran.

“Karena itu satu-satunya cara yang biasa dilakukan dan telah terbukti ampuh untuk mengelabui petugas selama dua tahun, Mba…” Baru kali ini aku menatap matanya, melepaskan perhatian sejenak dari sajak Kereta yang sudah kubaca berkali-kali di malam ini. Membayangkan ada yang menyuarakannya di telingaku sambil diiringi deru laju kereta. Mimpi!

  ***

Kereta Api Eksektutif Bima jurusan Solo-Yogyakarta menuju Jakarta sesaat lagi akan memasuki jalur lima. Para penumpang harap bersiap-siap.

“Keretamu to?” Tanya Mba Siti mengonfirmasi. Lebih tepatnya, mengingatkan agar aku tak larut dalam lamunan dan melupakan keberangkatan. Aku pun terhenyak dan spontan memantau waktu pada jam tanganku. Pukul 21.55 WIB

“Iya, Mba. Tumben, tepat waktu…”

“Ya, malah apik to?”

“Hehehe.. Iya. Mungkin, aku tak boleh berlama-lama di sini, apalagi tak mengajakmu berbincang-bincang…”

“Tak apa, Lingga. Diammu telah menyiratkan banyak kata yang terbaca.” Ia tahu kalau wajahku tetap saja datar meski sempat kuselingi tawa. Ada hati yang masih saja buncah dan pipi yang kujaga dari basah. Ah, rasanya ingin sekali memeluk dirinya yang sudah kuanggap kakak sendiri. Tapi, aku takut air mata yang dari tadi susah payah kubendung ini tiba-tiba mengalir begitu derasnya.

DRRRTTT…

Seketika aku bangkit berdiri, ada pesan singkat yang masuk di ponselku.

Stasiun Tugu, 25 November 2012

Stasiun Tugu, Yogyakarta, 25 November 2012

Selamat malam, Mba Lingga…

Maaf, kami tak bisa mengantar ke stasiun.

Terima kasih ya sudah mau datang jauh-jauh.

Hati-hati di jalan, Mba.

Salam dari Mas Robi.

-Vira-

“Istrinya ngirim SMS, Mba…”

“Lingga….”

“Tak apa-apa, Mba… I’m okay. Mungkin, suara laju kereta nanti bisa membuatku tidur nyenyak, mengabaikan luka, melupakan air mata. Biarkan segala ingatan tinggal di sini dan aku pun benar-benar bisa meninggalkannya.”

“Kapan kamu akan kembali ke sini?”

“Entahlah. Tapi, aku yakin bahwa selalu ada alasan untuk kembali…”

Take care, Lingga…” Akhirnya, kami berpelukan. Nyaris tidak ada yang berubah. Kehangatan dalam pelukan selalu menjadi adegan menenangkan sebelum kembali merasakan kecemasan di detik selanjutnya. Yang berubah hanyalah sosok yang kupeluk, bukan kamu.

***

Kereta telah berada di depan mata. Kusarankan Mba Siti untuk tetap berada di peron agar petugas berseragam tak memergokinya di belakang garis kuning.

“Sendiri saja, mba?” Tiba-tiba seorang petugas berseragam cokelat menegurku.

“Iya,” jawabku singkat karena kuanggap ia sedang bertindak sok kenal saja.

“Jadi, malam ini tak ada sosok lelaki yang saya usir dari dalam kereta, nih?”

Dugaanku salah. Ternyata, petugas itu benar-benar mengenalku dan mencermati tindakan kriminalku selama ini. “Bukankah itu menyenangkan?”

“Terkadang, saya merindukannya, apalagi kalau saya tidak mendapat giliran berjaga. Wah, malam ini nggak ada tantangan, dong.”

“Saya juga merindukannya. Dan, hari-hari ke depan, mas sebaiknya bersyukur karena satu penyusup tak akan mengulangi dosa yang sama.”

 ***

Berada di dekat jendela adalah posisi ideal ketika berkereta. Sesekali menerawang keramaian yang tetap hadir di tengah kesunyian malam. Sesekali melihat pantulan wajah sendiri; mengajak diri untuk “berkaca”.

Lima menit lagi kereta akan berangkat. Aku membidik pandangan ke arah Mba Siti yang masih berdiri di peron menunggu keretaku melaju. Aku mengeluarkan earphone dan memainkan playlist di ponsel sambil menunggu adegan penutup dari sebuah perpisahan: lambaian tangan. Tak berbeda dengan yang sudah-sudah, yang membedakan adalah tak ada lambaian sayu dari tangan yang kokoh.

Hey, I’ll move out of the way for you

Hey, I’ll move out of the way for her too

I never thought we’d end up here in seperate cages.

It doesn’t go like this

You’ve left out some pages

Tak ada yang mengelak bahwa hari ini memiliki deretan angka unik nan cantik. Tapi, mungkin salah satu dari kita ada yang mengingkarinya.

Dua tahun yang lalu kereta bermuatan rindu membawaku kepadamu. Waktu yang mempertemukan kita dan kenyamanan yang mempertahankan kita. Tapi, hari ini… Tuhan mempertemukan kau dengan Vira dalam satu janji yang tak akan pernah bisa kau ingkari kelak. Jadi, siapakah yang telah berkhianat jika Tuhan tak bisa dipersalahkan: aku, kamu, waktu, atau ingatan(ku) yang belum bisa mengikhlaskan masa lalu?

Can I move out of the way tomorrow?

Can I move into the way tonight?

[Ingrid-Let Go]

Tangerang, 12 Desember 2012
12:12 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s