Tamparan

Sabtu Wage, 1 Desember 2012

Pukul 23:10 WIB

 

“Sudah, belum? Masih kurang?” Tanya seorang perempuan 28 tahun yang duduk bersila di depanku.

Aku menatapnya, lalu kembali melayangkan telapak tangan kananku ke pipiku. Sama seperti apa yang kulakukan sepuluh menit yang lalu.

“Hentikan, Lingga. Ini tidak akan berhasil,” perempuan yang bernama Mba Siti itu mengingatkan, meski tanpa mencegah ulah tangan kananku.

“Bisa…” Jawabku dengan nada datar.

“Pipimu akan terasa sakit dan luka di hatimu tak akan pernah bisa sembuh. Tidak ada korelasinya. Berpikirlah dengan logis…”

Aku mencoba meraba pipiku, ujung jempolku mendapati cairan pekat berwarna merah. Ujung bibirku sobek. Tidak sakit, sama sekali tidak. Ya, mungkin Mba Siti benar: hatiku yang sakit.

“Seribu kali kau menampar pipimu tak akan bisa menyadarkanmu. Seimbangkanlah hati dan pikiranmu, Lingga…”

***

Beruntung, memiliki sahabat seperti Mba Siti. Ia tak pernah bosan mengingatkanku untuk menyeimbangkan hati dan pikiran, padahal aku tak pernah benar-benar bisa konsisten. Entahlah, ini malam ke berapa dan merasa harus mengambil cara singkat untuk kembali sadar, yaitu dengan menampar pipi sendiri. Ya, ini bukan malam pertama aku mencari kesadaran sebab terkadang aku masih terbang melayang-layang dengan harapan yang membuatku terbuai hingga lupa berpijak. Feel like I’m a fool.

“Lingga, pakai ini…” Mba Siti membuyarkan lamunanku. Ia menawarkan sehelai tisu, bukan untuk air mataku. Malam ini aku tak menangis. Entahlah, mungkin sudah terkuras habis atau memang tak ada yang harus ditangisi lagi? Apakah itu pertanda bahwa aku sudah benar-benar bisa sadar?

Kugunakan tisu itu untuk menyeka darah yang ada di ujung bibirku. Ah, jika ada kamu, mungkin aku lebih membutuhkan bibirmu untuk menghapusnya. Bahkan, tak ada darah yang akan tumpah, bukan? Sial! Aku kembali terbuai dengan pengandaian (lagi)!

***

“Lingga, ada SMS masuk,” katanya sambil memberikan ponselku yang berada di dekatnya. Ah, lagi-lagi Mba Siti memecahkan lamunanku.

Deretan angka tanpa nama, namun aku hapal siapa pemiliknya. Orang yang sengaja mencari nomor ponsel yang jika dijumlah menghasilkan tujuh, angka kesukaanmu. Iya, aku masih mengetahui pemiliknya meski namamu tak ada lagi di dalam ponselku sejak dua tahun yang lalu.

“Hei, apa kabar? Minggu depan aku akan menikah dengan perempuan yang bersedia menerima masa laluku, mendukungku hari ini, dan merangkai cita di masa depan. Aku selalu mempercayaimu, termasuk mempercayai doa-doamu yang mengharapkan aku segera menikah. Aku percaya bahwa kau akan benar-benar mengikhlaskanku demi perempuan lain. Beruntung, selama perpisahan dua tahun yang lalu, aku terus mempercayaimu dari kejauhan. Inilah buah dari sebuah kepercayaan. Terima kasih, Lingga… Semoga kau bisa hadir.”

Kata orang, kiamat baru akan datang pada 21 Desember besok, mengapa tiba-tiba aku merasakan langit runtuh malam ini? Apakah kiamat datang lebih cepat?  Atau, langit berusaha mendekat untuk menghantarkan awan untuk kupeluk?

“Luapkan, Lingga…”

Mataku terpejam, menghentikan napas sejenak, tubuhku pun terhempas di pelukan Mba Siti . Tak ada kata, hanya air mata yang perlahan-lahan menghantarkan luka agar hati lega.

Terima kasih telah mempercayaiku setelah pertemuan dan perpisahan, bahkan mempercayai doa-doa dan keikhlasan yang sebenarnya masih terus kutabung hingga kini. Entahlah, apakah aku harus senang atau menyesal karena berpura-pura tegar selama ini?

“Ikhlaskan, Lingga… Layaknya awan melepaskan air hujan…” Untuk kesekian kalinya, Mba Siti mengingatkan.

“Iya, Mba. Aku sudah benar-benar sadar… Ini adalah tamparan yang sebenarnya…”

Terima kasih, kepercayaan...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s