[Repost] Jempolku Cedera Gara-gara Gadget

Berapa jam jemarimu menari di atas keyboard komputer atau keypad ponsel setiap harinya?

Senin hingga Jumat, jemari saya menari di atas keyboard komputer rata-rata selama 10 jam. Waktu rehat biasanya maksimal selama satu jam. Memiliki tanggung jawab sebagai penulis artikel dan social media administrator membuat jemari saya harus marathon.

Lalu, selama perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, saya kerap menghabiskannya dengan berkicau di linimasa. Dalam waktu 2,5 jam, saya bisa menyebarkan polusi lebih dari 1000 karakter. Tapi, bagian ini bisa diabaikan.

Sesampainya di rumah, saya kembali berhadapan dengan komputer. Biasanya ada dua hal yang saya kerjakan: menyelesaikan lemburan atau kembali berkicau, rata-rata bisa menghabiskan waktu selama enam jam. Jari-jari bisa mulai mengatur napas mulai pukul 21.00 hingga 02.00 WIB.

Jadi, dalam satu hari, jari-jari saya berolahraga lari selama 16 jam. Jika perhitungan satu hari adalah 24 jam, maka mereka hanya memiliki waktu “senggang” selama delapan jam.

Lalu? Apa akibatnya?

Bulan November silam, tiba-tiba jari saya terasa nyeri sebelum tidur, untuk pertama kalinya. Tapi, kejadian ini semakin sering terjadi pada Desember. Bahkan, saat saya menulis ini pun, jari telunjuk kanan dan kiri terasa nyeri. Sesekali saya mengistirahatkan sejenak dan memijatnya perlahan-lahan.

Takut sekali terkena  sindrom Carpal Tunnel. Sebelumnya, saya tahu penyakit ini dari tayangan di Trans TV. Wartawan adalah salah satu profesi yang rawan menjadi penderita. 

Berikut tulisan mengenai penyakit yang menyerang jari. Tulisan ini saya salin dari artikel yang pernah terbit di Kompas. Sengaja saya posting ulang karena informasinya sangat berguna, apalagi tampaknya cocok dengan kondisi saat ini. Terutama, bagi kalian yang senang menjadikan keypad gadget sebagai tempat pelarian para jemari.

Sumber: Harian KOMPAS (Nasional) – Minggu, 01 April 2012, hal 17

Penulis: Mawar Kusuma

Di era modern ini, banyak orang begitu bergantung pada kecanggihan teknologi peranti (gadget). Hidup seakan tak lengkap jika jari-jari tak menari di atas telepon seluler, iPad, atau komputer. Tapi hati-hati, jari-jari yang dipaksa bekerja melebihi kemampuannya ini bisa melukai tendon.

Anto (38) tiba-tiba panik ketika jempolnya tak bisa ditekuk ke arah dalam. Awalnya, ia mengira ibu jari tangannya itu keseleo akibat terjatuh. ”Begitu tahu jempolku tak bisa digerakkan, dokter langsung memastikan penyebabnya karena kebanyakan menggunakan telepon seluler,” kata Anto.

Dokter menyatakan Anto terkena sindrom De Quervain. Padahal, bagi Anto, jempol menjadi bagian tubuh yang paling aktif digunakan. Dengan jempolnya, Anto bekerja mengetik, berkomunikasi mengirim pesan singkat, berselancar di dunia maya, hingga bermain game.

Karena jempol tangan kanannya cedera, dokter meminta Anto istirahat total selama dua pekan. Pada tahap awal penyembuhan, ia diobati dengan injeksi steroid ke dalam pembungkus tendon untuk mengurangi peradangan. Pergelangan tangannya pun dibidai untuk mengurangi gerakan.

Seusai pelepasan bidai ternyata Anto masih merasakan sesekali sakit di tangannya. Ia pun lantas memilih membatasi penggunaan telepon seluler. ”Pantangan yang sulit dilakukan karena sehari-hari sudah sangat tergantung pada peranti-peranti itu,” keluh Anto.

Anto merasa penggunaan gadgetnya sehari-hari masih pada taraf wajar. Namun, ia mengakui sering kali mengisi waktu dengan bermain telepon seluler tiap kali terkena insomnia.

Sindrom Carpal Tunnel

Tak hanya sindrom De Quervain, penggunaan jari yang berlebihan juga bisa memunculkan sindrom Carpal Tunnel. Jempol tangan kanan dan kiri Yopi (36) didiagnosis dokter terkena sindrom Carpal Tunnel. Hingga kini, Yopi merasa tidak pernah benar-benar sembuh.

Jika tidak membatasi penggunaan telepon selulernya, rasa sakit di kedua jempol tangan yang mulai diderita sejak 2008 ini biasanya akan kambuh. Gara-gara sering kelamaan menelepon sambil tiduran, kini jari manis tangan kiri Yopi juga mulai terasa sakit dan berbunyi kletak-kletuk ketika digerakkan.

Awalnya, kedua jempol tangan Yopi bengkak memerah setelah ia bermain dengan alat pengendali game (game console) selama dua pekan berturut-turut. Tiap kali bermain game, ia biasa menghabiskan waktu tiga hingga empat jam. Jari-jarinya sempat sampai gemetar tiap kali memegang sesuatu.

Stik game (alat pengendali) yang runcing itu menekan batas antara telapak tangan dan jempol sehingga terasa sakit. Pertama kali merasa sakit, Yopi mengira tangannya keseleo. Ia pun lantas pergi ke tukang urut. Akibat diurut, kedua jempolnya justru semakin terasa sakit.

Baru sebulan setelah merasa sakit, Yopi memutuskan berobat ke dokter. Ia disarankan beristirahat total selama dua pekan dan terus-menerus mengompres jari-jarinya dengan air dingin. ”Bukan tulang yang terkena, melainkan otot tendonnya yang sobek. Jangan menggunakan jari tanpa istirahat selama lebih dari lima jam,” ujar Yopi.

Gaya hidup modern

Dokter Kemal Hastasubrata membenarkan bahwa gaya hidup manusia modern seperti penggunaan telepon seluler yang berlebihan bisa memicu sindrom De Quervain. Penyakit ini, menurut Kemal, menimbulkan rasa nyeri pada daerah Prossesus Stiloideus tulang Radius akibat inflamasi atau peradangan.

Akibat peradangan itu timbul bengkak pada jaringan pembungkus tendon otot Abduktor Pollicis Longus dan Ekstensor Pollicis Brevis. ”Penyakit ini bisa disembuhkan, tidak berbahaya atau mengancam nyawa, tetapi akan menyebabkan perasaan tidak nyaman sehingga mengganggu aktivitas,” kata Kemal.

Sindrom De Quervain dipicu oleh gerakan yang berulang-ulang, berlebihan, dan tidak biasa pada ibu jari seperti memeras kain dan permainan game. Selain itu, sindrom De Quervain juga bisa terjadi spontan pada wanita usia pertengahan dan ibu hamil. Dampak terburuk penyakit ini, pasien tidak dapat menggerakkan sendi pangkal ibu jari tangan.

Menurut dokter Kemal, sindrom De Quervain bisa dikenali berdasarkan keluhan pasien berupa nyeri ibu jari terutama saat adduksi pasif dari pergelangan tangan dan ibu jari. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan nyeri tekan pada daerah pergelangan tangan. Ibu jari juga bisa mengalami nodul (benjolan).

Pemeriksaan medis dilakukan dengan tes Finkelstein, yaitu melipat ibu jari ke arah telapak tangan, ditekan oleh empat jari yang lain dan seluruh tangan ditekuk ke arah kelingking (ulnar). Pasien dengan sindrom ini akan kesulitan menggerakkan ibu jari ke arah dalam.

Dokter biasanya akan memberikan injeksi steroid dan bidai pergelangan tangan di tahapan awal. ”Pada kasus yang lebih berat diperlukan tindakan operasi dengan memotong pembungkus tendon,” tambah Kemal.

Dokter Rika Haryono menambahkan, sindrom Carpal Tunnel hampir mirip dengan sindrom De Quervain, tetapi sindrom Carpal Tunnel ini menyerang bagian tengah pergelangan tangan. Sindrom Carpal Tunnel terjadi akibat peningkatan tekanan pada saraf median dan tendon di terowongan karpal.

Gerakan berulang menekuk pergelangan tangan dan gerakan terus-menerus mencengkeram bisa memicu sindrom Carpal Tunnel. Sindrom Carpal Tunnel juga dapat disebabkan oleh kondisi medis seperti diabetes, kehamilan, dan obesitas. ”Supaya otot tidak tegang, penggunaan ponsel, dan mouse (tetikus) komputer harus diselingi istirahat,” kata Rika. (Mawar Kusuma)

Tambahan:

Penggunaan mouse dan keyboard komputer yang berlebihan dapat menyebabkan penggunanya terkena Carpel Tunnel Syndrome. Tanda-tanda terkena sindrom ini adalah rasa sakit pada pergelangan tangan, lengan terasa lemas, atau mati rasa pada tangan.

Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan penggunanya terkena sindrom De Quervain. Sindrom ini dipicu oleh gerakan yang berulang-ulang, berlebihan, dan tidak biasa pada ibu jari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s