Ketika Lampu Merah Membawa Berkah

Agustus 2012

Waktu itu adalah Ramadhan pertama bagi saya dengan status baru sebagai pekerja. Bedanya adalah saya harus membuat artikel tentang kisah inspiratif yang berkenaan dengan ritual keagamaan umat Islam tersebut. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk mewawancarai lelaki tua yang hampir setiap hari saya lihat di perempatan Slipi “bawah”, Jakarta.

Ya, berangkat ke kantor dari arah Tangerang, mau tak mau saya harus turun di Slipi bawah lalu menyeberang ke arah Pasar Palmerah. Sekitar pukul 08.00-08.30 WIB, saya selalu berpapasan dengan lelaki yang juga tunanetra itu.

Syukur Tak Terbatas dari Keterbatasan

Sebagian besar pengendara boleh saja mengeluh karena nyala lampu merah. Akan tetapi, bagi Suwandi (50), lampu merah adalah pemberi harapan untuk menyambung hidup. Berharap masih ada pengendara yang bersedia menepi ke sisi trotoar dan berbagi rezeki padanya.

Hampir setiap hari Suwandi (50) menaruh harapan kepada para pengendara yang sedang diberhentikan lampu merah perempatan Slipi bawah.

Hampir setiap hari Suwandi (peci putih) memilin harapan kepada lampu merah di perempatan Slipi “bawah”, berdoa agar selalu ada rezeki yang hadir dari kemurahan hati para pengendara (16/11/2012).

Hampir setiap hari lelaki tuna netra ini berdiri di trotoar perempatan lampu merah kawasan Jakarta Barat. Sesekali ia terlihat sendiri sambil menggenggam erat tongkatnya, sesekali pula terlihat berdua dengan lelaki muda yang setia menggenggam erat tangannya. Lelaki muda itu bernama Irwan (18), anak ketiganya. Namun, “menanti” rezeki di perempatan lampu merah bukanlah pilihan terakhir bagi mereka. Selalu ada harapan untuk menjalani pilihan lain yang lebih baik.

“Sebelumnya, saya jadi tukang pijat keliling dan ditemani oleh anak pertama. Sejak dia sudah berkeluarga dan tinggal terpisah, akhirnya Irwan yang menggantikan. Sayangnya, uang yang dihasilkan enggak cukup buat beli makan,” ungkap lelaki yang kini tinggal di Cengkareng setelah berpindah-pindah tempat.

“Saya juga kadang-kadang masih suka ngamen. Dari pagi sampai siang nemenin bapak. Malam harinya, saya sekolah Paket C,” ujar Irwan yang kini duduk di bangku kelas 3 SMA.

Di sela-sela perjuangannya, Irwan masih memiliki harapan yang lebih baik. “Tahun depan saya harus lulus dan enggak nemenin bapak lagi karena mau ikut abang kerja di pabrik kaleng. Kalau bapak mau kerja sendiri, nanti uangnya buat bapak aja. Tapi, kalau bapak enggak berani, biar tunggu di rumah sama adik yang sekarang kelas 6 SD,” tidak ada keraguan saat menceritakan angan-angan yang menjadi pilihannya kelak.

Bertarung dengan debu kendaraan dan terik matahari yang terus mendera, tidak membuat mereka lalai menjalani kewajibannya sebagai umat Islam untuk berpuasa.

“Puasa itu jangan dipikirin, tapi dijalanin. Di luar sana masih ada orang yang enggak bisa makan selama dua hari. Saya bersyukur masih ada yang bisa dimakan untuk buka puasa,” keterbatasan yang menyelimuti Suwandi menjadi pengingat untuk selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan Sang Khalik.

Tidak terasa sudah 15 tahun Suwandi merasakan bulan Ramadhan tanpa sang istri yang telah dipanggil Tuhan karena penyakit kanker. Anak pertama dan kedua yang telah berkeluarga pun tidak pernah menentu untuk menjenguknya. Kini hanya Irwan dan si bungsu yang mampu membuatnya tidak pernah merasa kesepian. “Semoga diberi umur panjang, selalu ingat sama Allah, rajin shalat, dan enggak lupa berpuasa,” inilah doa yang kerap ia rapalkan untuk buah hatinya.

Teks: Kompas, halaman 27, 10 Agustus 2012

“Saudara-saudara semua enggak ada yang mau ketemu lagi, enggak tahu kenapa. Mungkin, gara-gara bapak saya buta. ” Di antara keresahan, Irwan masih memiliki semangat untuk terus bertahan bersama ayah dan adiknya. Bahkan, dengan tekadnya kelak menjadi pekerja pabrik, ia ingin menafkahi keluarga. Ia barangkali masih merindukan kehadiran keluarga besar, tapi “kehilangan” keluarga besar tak akan membuatnya patah semangat.

Saya melirik jam tangan yang nyaris menunjukkan pukul 08.30 WIB. Ah, mau tak mau saya harus berpamitan dan segera menuju kantor agar tidak semakin terjebak dengan ulah angkutan umum yang selalu saja “parkir” di depan Pasar Palmerah.

Hingga kini, saya masih sering berpapasan dengan Pak Suwandi maupun Irwan. Bahkan, seruan “Halo, Kak…” di pagi hari nyaris selalu absen dari bibir Irwan yang juga menorehkan senyuman tulus.  Menyenangkan bisa mendengarkan sedikit kisah inspiratif mereka. Menyenangkan pula bisa berbagi (sesuatu yang tak perlu digembor-gemborkan di sini) dengan mereka.

Terima kasih untuk pencerahan di dalam pos polisi perempatan Slipi. Terima kasih, kepekaan…🙂


				

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s