Siapa yang Lebih Cerdas daripada Siapa?

“Bisa jadi, Ndes. Dia merasa minder karena perempuannya itu lebih pintar. Kalau sama perempuan dengan status sosial lebih tinggi, cowok juga bakal minder.”

“Iya, Ndes. Cuman di FTV, ada perempuan yang mau diajak makan di angkringan dan pacaran sama cowok bermotor.”

Obrolan tentang dunia mars dan venus selalu saja menarik. Apalagi, menanyakan soal karakteristik pria kepada kaumnya sendiri. Doni dan Janu saling menimpali ketika menanggapi cerita perumpamaan saya. Mereka memberikan sudut pandang sendiri dari kaum mereka.

“Tapi, mengapa harus minder? Bukankah setiap orang punya kelebihan masing-masing? Pintar pun banyak konteksnya. Pintar dalam akademik, pintar dalam memasak, menggambar, mengatur waktu, dan masih banyak lagi. Mengapa harus takut? Satu lagi, masih ada perempuan, kok yang senang diajak ke angkringan. Jogja dan angkringan adalah kombinasi yang romantis, bukan?”

Pertanyaan-pertanyaan menggelinjang. Sebagian saya lontarkan kepada mereka, sebagian lagi saya simpan dalam hati sebagai bekal untuk perjalanan ketika kembali pulang.

Setelah hujan, dinding KFC. Jogjakarta, 24 November 2012

Percakapan dengan dua orang kawan yang luar biasa sewaktu mampir di Jogjakarta pada 24 November 2012 lalu hingga kini masih saja saya ingat. Waktu itu, tak ada obrolan serius, saya pun sudah terlalu lelah mengernyitkan dahi. Bagi saya yang hanya bisa memanfaatkan waktu dua hari satu malam, rasanya terlalu sayang jika tak menikmati Jogjakarta dengan santai dan tentu saja nyaman. Lagipula, sedikit obrolan tentang kejujuran sambil diiringi tawa justru akan bisa mengasah kepekaan terhadap sesama.

Sembari mencari waktu untuk menulis tentang apa yang didapat ketika berada di Jogja pada tiga bulan yang lalu, saya diperlihatkan dengan hal-hal yang masih saling berhubungan.

Jogjakarta, 3 Desember 2012

Setelah kembali lagi ke Jogjakarta dan berkelana sendiri pada 30 November 2012, saya pamit pulang ke Tangerang. Sembari diiringi suara “penenang” dari laju kereta, sejumlah pesan singkat (SMS) saya kirimkan. Berterima kasih kepada kawan-kawan karena sudah menjadi teman bermain dan penuntun jalan yang baik. Di antara sekian banyak balasan, muncullah salah satu pesan pendek dari seorang kawan.

“…. hati-hati di jalan, Gandes yang cerdas…”

Percayalah, saya bukanlah orang cerdas seperti yang ia duga. Selendang cum laude saja enggan singgah di bahu. Kawan saya yang satu itu memang selalu saja begitu.

“Kamu juga cerdas. Lebih paham mengenai otomotif, teknik fotografi, bahkan persoalan politik. Ngomongin soal jurnalistik? Tentu kamu juga lebih paham dibandingkan saya yang lebih sering mendapat mata kuliah periklanan dan pemasaran. Itu semua hal yang tidak banyak aku ketahui. Jadi, semua orang juga cerdas.” Tapi, ocehan ini saya simpan hanya di dalam hati. Percuma juga kalau harus berdebat.

“Terima kasih. Ah, aku cerdas juga berkat orang-orang yang ada di sekitarku, kok… :)”

Itu balasan yang saya kirimkan kepadanya. Lebih singkat daripada ocehan yang dipendam, bukan? Selain kecerdasan milik semua orang, kecerdasan seseorang juga bukan hanya berasal dari upaya diri sendiri. Bukan hanya hasil dari membaca buku, memperhatikan guru, atau belajar dari pengalaman orang yang lebih hebat. Siapa pun yang ada di sekitar bisa mencerdaskan diri kita, tergantung bagaimana menyikapinya.

Misalnya, ada orang yang kita anggap kurang pandai. Bagaimana ia bisa mencerdaskan kita? Kalau kita berniat untuk membantunya dalam memahami sesuatu yang tidak ia mengerti, bukankah kita bisa menjadi orang “cerdas” dalam memberi penjelasan? Atau, kita bisa menjadi cerdas dalam mencerdaskan orang lain?

Ia pun membalas dengan singkat. “Wah, kalau begitu… bahagianya orang-orang yang ada di sekitarmu…” Semoga.

Tangerang, Januari 2013

Diambil dari Majalah Insight edisi VIII, 2012

Diambil dari majalah Insight edisi VIII, 2012

Sebenarnya, majalah ini sudah berada di tangan sejak November 2012 silam. Namun, baru awal tahun saya membaca satu per satu artikel yang ada. Hingga akhirnya, mata tertuju pada artikel yang mengulas profil Sigi Wimala, sosok perempuan idola sejak ia menjadi gadis sampul majalah Gadis era 1990-an. Kutipan yang menjadi intro di dalam artikel itu pun semakin membuat saya takjub.

Ya, siapa yang tak ingin memiliki pasangan inspiratif? Betapa tak membahagiakan hidup bersama pasangan yang menjadi sumber inspirasi? Namun, apakah ini masih menghasilkan stigma bahwa hanya orang cerdas-berdasarkan status pendidikan-yang hanya bisa menginspirasi? Saya pikir, tidak. Siapa pun, berhak terinspirasi dan menginspirasi orang lain.

Bahkan, kesalahan orang lain pun bisa menjadi sumber inspirasi. Hal-hal negatif mampu membawa hal positif. Ah, jadi ingat salah satu tweet milik penggawa Twitter-meminjam istilah dari Purba, kira-kira begini bunyinya: “Patah hati adalah sumber inspirasi bagi para penyair”. Nah!

Tangerang, 8 Februari 2013

Percakapan di linimasa dimulai dari kicauan Ade. Saya menanggapinya, namun kawan saya yang ahli soal dunia Public Relations ini malah meragukannya.😦

Apa yang saya katakan bukanlah omong kosong. Bayangkan saja. Kita diperlihatkan begitu banyak kata yang terlontar dari orang-orang yang di-follow. Pasti ada satu-dua kata yang nyangkut di pikiran dan seolah-olah berkata “Ayo! Otak-atik aku!”

Sebagai contoh, ada yang nge-tweet tentang asyiknya minum kopi bersama bapaknya. Lalu, bisa saja kita malah tergoda untuk membuat sajak atau perumpamaan tentang kopi. Bahkan, terbawa arus untuk ikut bercerita tentang pengalaman pribadi ketika menyeruput kopi. Bukan, begitu?

Tangerang, 9 Februari 2013

Selesai terpapar dunia maya, ternyata alam kian menggiring pemikiran-pemikiran saya ke alam nyata. Halaman koran Sabtu waktu itu memberikan penegasan atas buah pikiran sebelumnya.

Everything can inspire you-all the random things that happen around you, within you and beyond.” ~ Rene Suhardono dalam harian Kompas (9/2).

Barangkali, kutipan dari sang motivator ini bisa menjadi kesimpulan dari apa yang telah diracaukan. Ini adalah penegasan bahwa aku-kamu-kita cerdas dalam cara masing-masing. Aku-kamu-kita bisa menginspirasi dan terinspirasi siapa pun dengan cara masing-masing pula. Tabik!

terima kasih untuk kalian yang telah menginspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s