Belajar Mengenal Orangutan

Jujur, saya bukan seorang aktivis lingkungan hidup, satwa, ataupun aktivis lainnya. Tetapi, saya masih menaruh rasa cinta dan peduli terhadap lingkungan sekitar, termasuk alam dan mahkluk hidup lainnya. Saya berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan untuk mereka yang membutuhkan. Sesuai dengan kapasitas diri sendiri.

Sekitar awal Oktober 2012 silam, Mas Iwan Pribadi memberikan informasi adanya pameran foto di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Jakarta. Bertajuk “Orangutan: Rhyme and Blues”, pameran ini dipersembahkan oleh pewarta foto Antara Regina Safri (1/10/2102). Perempuan muda. Keren, saya kagum. Foto-foto yang dipamerkan dikurasi Oscar Motuloh.

Katanya Mas Iwan yang juga sebagai Communication Specialist The Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), foto-foto yang disuguhkan adalah hasil reportase Mba Regina bersama BOSF. Saya yang awam terhadap kehidupan orangutan pun tertarik untuk melihat. Apalagi, sebelumnya saya pernah mewawancarai Mas Iwan dan sempat menyinggung beberapa hal terkait kehidupan makhluk yang kini perlahan-lahan membuat manusia lebih mengasah kepekaan.

Berikut beberapa gambar yang sempat saya rekam. Semampu saya.

1a

1

2

3a

4

“Lucu ya…” Mas Iwan sempat cerita, respons inilah yang sering kali ia dengar ketika seseorang melihat orangutan yang masih kecil. Akan tetapi, apakah mereka sekadar “lucu”?

5

 

6

7

8

9

10

Ada secuil cerita Mas Iwan yang benar-benar menjadi pengetahuan baru bagi saya. Salah satu visi dan misi BOSF adalah merealisasikan konservasi orangutan Borneo, mempercepat pelepasliaran orangutan, membantu keperluan penelitian dan pendidikan, serta pelestarian habitat. Perlu dicatat, BOSF sendiri merupakan organisasi nirlaba yang berpusat di Indonesia. Kantornya ada di Bogor.

Menurut hasil wawancara terakhir (16/8/2012), kini BOSF menangani sekitar 850 orangutan. Organisasi ini memanfaatkan akun Twitter untuk memberikan live tweet pada saat aktivitas pelepasliaran orangutan. Ada pula situs resmi serta dua blog yang memublikasikan aktivitas pelepasliaran dan monitoring orangutan di Nyaru Menteng dan Samboja Lestari.

Di dalam situs resminya, BOSF menyajikan informasi lebih lengkap sehingga publik dapat memahami lebih dalam mengenai profil maupun aktivitas yang telah dilakukan. Menariknya, situs resmi dan microblogging dihadirkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Hal ini dilakukan agar informasi dapat tersampaikan secara global, tak hanya mencakup nasional.

BOSF mengharapkan publik dapat berpartisipasi dalam memberikan donasi dan mendukung kegiatan organisasi tersebut. Menurut Mas Iwan, satu orangutan membutuhkan biaya perawatan sekitar Rp 35 juta selama satu tahun. Bentuk partisipasi dapat dalam pemberian uang tunai, mengadopsi orangutan, atau membeli suvenir dan cenderamata yang diproduksi oleh BOSF. Tak lupa juga mengharapkan publik memahami pentingnya melestarikan orangutan dan habitatnya.

t-shirt BOSF

Ini kaos yang saya beli. Apik kan? Kamu juga bisa punya.

Kata Mas Iwan, “Orangutan merupakan umbrella species yang mampu menjaga kelestarian hutan dan keragaman hayati di hutan, salah satunya dengan menjadi penebar biji yang paling efektif dibandingkan burung.” Kehadiran orangutan sangat penting bagi kelangsungan alam di bumi. Makanya-tanpa berniat menyepelekan-, hewan yang menjadi icon pencegahan global warming seharusnya tak hanya beruang kutub, tetapi juga orangutan.

Orangutan yang berusia dewasa akan lihai meracik apa yang ada di alam sebagai obat sendiri. Obat yang diracik tersebut pun dikaji para peneliti dan juga bisa dimanfaatkan untuk manusia. Dibandingkan dengan tikus, jumlah kromosom yang dimiliki orangutan justru lebih mendekati kromosom manusia.

post card from BOSF

Oleh-oleh sepulang dari menonton pameran, kartu pos bergambar Aldrin. Known as “the kissing orangutan”, Aldrin was really cute and longing for attention when brought in to BOS-Wanariset Reintroduction Center, East Borneo, Indonesia. He loves to be around people and kiss the caretakers whenever he sees them to show his affection.

Setiap orang mampu melakukan apa pun, bagaimana pun caranya; di mana pun dan kapan pun. Bukankah demikian?

Terima kasih, Mas Iwan atas ilmu barunya… Terima kasih juga karena saya jadi bisa menikmati Navicula secara langsung untuk pertama kalinya, meski saya bukan bagian dari fans berat. Mereka itu keren!

Tak dinyana pula,  saya justru bertemu dengan Mike alias Mas Eko, senior sewaktu duduk di bangku SD, anak dari guru SD saya, sekaligus senior di kampus. Awkward!🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s