Yogyakarta: Perihal Luka dan Pertanda

Tangerang, malam itu.

“Ma, adek pamit ke Jogja lagi ya akhir bulan…”

Ini adalah permintaan kedua pada November 2012 silam. Permintaan pertama saya ajukan dengan alasan untuk menyimak perayaan kelulusan kawan-kawan seperjuangan. Tentu saja mama sangat heran mengapa saya begitu rajin pergi ke Jogja. Meski mengiyakan, saya tahu bahwa beliau tidak cukup rela “melepaskan” saya.

“Carilah tempat untuk melakukan recovery,” ujar salah satu senior di kantor. Entahlah, saya justru memilih Jogja. Tujuan utama adalah Ganjuran, tempat yang paling diidam-idamkan. Ironisnya, belum pernah sekali pun saya mengunjunginya, padahal sudah menghabiskan waktu empat tahun di Jogja untuk menimba ilmu.

Barangkali, ini akan terdengar sepele dan klise karena saya sudah bertahun-tahun menikmati kota ini. Tapi, tidak bagi saya. Saya masih belum mengenal Jogja, belum banyak tempat yang saya ketahui. Malioboro, Babarsari, Jalan Solo, Selokan Mataram, Babarsari, Malioboro, Kota Baru, Babarsari, dan Malioboro. Itu-itu saja yang familier di telinga. Maklum, hobi “kurang pergaulan” masih melekat sewaktu duduk di bangku kuliah. Alhasil, perlu ada penebusan dosa agar tak lagi menganggapnya sebagai kota yang asing.

Perjalanan eat, pray, eat akhirnya dimulai dari 30 November hingga 3 Desember 2012.

eat-pray-eat

Hari pertama, menuju Stasiun Pasar Senen

Berkereta bersama KA Fajar Utama

Tak banyak yang saya rekam, tapi tetap menyenangkan. Terjebak dengan rombongan ibu-ibu yang hendak mengadakan acara gathering di Kali Urang. Terjebak dengan barang bawaan mereka yang membuat kaki susah selonjor. Di luar kereta, banyak anak yang menanti lemparan uang dari penumpang kereta.

20121130-1 copy

20121130-1a copy

20130303-kereta

“Saya kasih kue, malah dibuang lagi. Mereka pengennya receh. Padahal, kuenya enak. Saya bela-belain buat mereka,” ujar salah satu penumpang yang duduknya di belakang saya.

Sesampainya di Stasiun Tugu Jogjakarta, tiba-tiba terasa sesak. Rasanya, udara menjelma menjadi benda padat berbentuk peluru yang siap menghunjam jantung. Mata pun tak berani menatap petugas yang berjaga di dekat pintu timur. Semoga tidak bertemu dengan petugas yang sama seperti lima hari yang lalu.

20121130-20121130_151750 copy

Tiba di stasiun, ada yang berbeda. Tak ada yang menunggu. Kali ini, saya yang harus menunggu, tukang ojek. Beruntung, admin Liburan Jogja merekomendasikan O’jack Taxi Motor, jasa taksi motor yang tak perlu dinego. Keberuntungan berlipat, saya mendapat driver perempuan, sebut saja Mba Ida.

Punggung Mba Ida

Punggung Mba Ida

Melarutkan lampau pada malam

Semoga ini menjadi perjalanan yang menyenangkan, tanpa harus merasa berada di antara keterasingan.

20121202-5 copy

Buku yang menjadi bekal perjalanan. Semoga Bung tidak memintanya kembali🙂

Pagi pertama

Berdasarkan itinerary yang saya buat sendiri, perjalanan dimulai dari Museum Anak Kolong Tangga. Jujur, informasi mengenai museum ini baru didapat melalui pencarian di internet beberapa hari sebelum kepergian. Begitulah. Sesampainya di sana, terlihat banyak mainan anak-anak yang sering kita jumpai maupun langka. Kesimpulan yang menarik adalah ternyata anak-anak di seluruh dunia memilih permainan yang “serupa tetapi tak sama”, salah satunya permainan enggrang yang juga ada di Amerika. Menarik, bukan?

2 copy

Petugas yang lagi jaga kala itu namanya Mas Eka.

Tak begitu lama, saya langsung meluncur ke Museum Gula Gondang Baru yang terdapat di komplek wisata Agro Gondang Winangoen. Tentu saja, meminta tolong Mba Ida untuk mengantarkan ke depan Mirota Kampus Babarsari agar bisa naik bus Jogja-Solo. Mengapa harus ke sini? Setiap menempuh perjalanan dari Jogja menuju rumah eyang di Klaten, selalu saja melintasi museum ini. Lama-kelamaan saya penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Komplek wisata sudah melewati masa revitalisasi, terlihat lebih rapi dan modern, namun bagian museum masih terlihat sangat tua dan gelap.

3 copy

Sore pertama

Dikejutkan oleh mention dari Doni. Dia mengajak untuk ikut makrab kine. Langsung saja saya mengirimkan pesan singkat (SMS). Teman seangkatan saya ini malah kaget. Niatnya hanya bercanda, eh ternyata saya beneran ada di Jogja. Kami pun menyusun rencana dan mengumpulkan massa.

Mengejar waktu, saya harus segera ke Empire XXI untuk menikmati hari pertama JAFF. Sebelumnya, makan siang-sekaligus sore di Janti bawah. Ini juga baru pertama kalinya memesan mi ayam dan es campur. Pertama kali pula makan sendirian di tengah keramaian di bawah jembatan.

Untitled-1

Di sela-sela menikmati mi ayam saya mengirimkan pesan kepada sang senior yang menyarankan agar saya melakukan recovery,

“Barangkali, harus menghampiri luka berkali-kali agar bisa menjadi kebal dan tak terasa sakit lagi.”

“Semoga. Jadinya, ke Jogja?” Luar biasa, tertebak juga.

Antre

Sekilas saja bicara soal 7th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Saya baru pertama kali datang ke JAFF dan justru di saat tidak berada di Jogja lagi. Seorang kawan sangat menyukai sistem menonton tahun 2012 ini ketimbang tahun lalu. Tahun ini, penonton diharapkan datang lebih dulu beberapa jam sebelumnya, lalu mengantre tiket untuk pemutaran film. Kalau tahun kemarin, penonton dapat melakukan reservasi di hari sebelumnya. Sayangnya, saya kebagian sial. Datang sudah satu jam sebelumnya dan masih harus mengantre. Tak apa-apa, ini demi Rumah dan Musim Hujan.

20121130_015331 copy

Membuat rute sendiri, lalu mengingkarinya sendiri. Tidak ada salahnya mengikuti rencanaNya yang lebih baik.

“Teman-teman, saat ini bangku sudah penuh terisi. Kalian yang mengantre adalah waiting list kami. Nanti kalau ada yang membatalkan, kalian bisa masuk,” kata salah satu panitia beberapa menit sebelum film dimulai.

Beberapa menit kemudian….

“Teman-teman, kami bisa memberikan akses kira-kira 60 orang, tetapi duduknya di bawah tangga. Nggak apa-apa, kan?” Kata panitia JAFF lagi. Penonton yang tersisa baru boleh masuk (kalau tak salah ingat) tiga puluh menit setelah film dimulai.

Puji Tuhan, di tengah kekesalan “sudah jauh-jauh datang, tapi kok begini”, seorang teman yang juga aktivis film memberikan pertolongan. Ia memberikan tiket masuk untuk pemutaran pertama. Terima kasih banyak, Ridla!🙂

Sedihnya, banyak teman lain yang masih harus mengantre, ada Udin, Bayu Condro, Edo beserta Wulan-yang juga sudah datang jauh-jauh. Banyak film yang tak bisa saya nikmati, padahal itinerary sudah disesuaikan dengan jadwal paten JAFF. Praktiknya, jadwal ngaret dan beberapa jadwal di-switch dan diputar ulang.

Seandainya JAFF konsisten dengan jadwalnya, di hari pertama, saya bisa menonton dua film, Rumah dan Musim Hujan dan Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya. Film kedua tak ditonton karena sudah terlalu larut dan ingin meluncur ke acara makrab kine. Hari kedua JAFF, seharusnya saya bisa menonton Post Card From the Zoo. Sayangnya (lagi), film diundur dan justru film lain yang diputar. Barangkali, JAFF 2012 tidak cocok untuk orang-orang yang punya waktu libur terbatas di Jogja. Ya sudahlah.

Malam kedua, menyimak keakraban

Menyenangkan bisa bertemu teman-teman satu UKM. Tak banyak kata, antara haru dan merasa bersalah. Persoalan regenerasi dalam sebuah organisasi kampus sudah jadi persoalan klasik di kampus mana pun. Usaha teman-teman yang terus mempertahankan organisasi dan masih ada semangat untuk berkarya tentu perlu diapresiasi. Terima kasih, teman-teman kine yang masih melanjutkan perjuangan untuk terus berkarya.🙂

Pagi kedua, tak terduga

A good traveler has no fixed plans and is not intend on arriving,” – Lao Tzu

Itinerary kembali diubah. Seharusnya, pagi ini ke Ulen Sentalu. Lalu, itu dibatalkan. Dari Kali Urang, awalnya ingin ke Ganjuran, lalu diundur. Lanjutnya, ke Empire XXI. Ya, seperti yang diutarakan sebelumnya…. Film Postcard From the Zoo tak jadi diputar, alhasil lebih baik kembali ke penginapan. Terima kasih untuk Janu yang sudah mengantarkan.

Waktu di Jogja nyaris habis, mau tak mau ini adalah kesempatan untuk pergi ke Ganjuran. Iya, nyaris siang bolong saya pergi ke sana. Sebelumnya, saya sempat bertanya arah kepada duo kawan Bantul, Aring dan Giras. Beruntung, saya dan Mba Ida bisa sampai di tujuan, meski sesekali bertanya takut salah gang.

Huaaa! Sesampainya di Ganjuran, hati saya benar-benar terasa adem. Rasanya, seperti ingin berlari-lari dan menggelar tikar untuk merabahkan tubuh.

6b copy

“Oke, beberapa menit lagi aku ke sana, Ndes…” bunyi SMS dari Giras. Ya, akhirnya, saya janjian bertemu duo Bantu di Ganjuran. Tapi, saya meminta waktu sekitar 30 menit untuk menikmati waktu berkualitas denganNya.

“Kamu udah di Ganjuran? Yo aku sama Giras ke sana…” Ketika saya kembali ke luar untuk membeli lilin, Aring menelepon.

Sik to, pakdheaku lagi wae tekantak ngobrol-ngobrol sik karo Gusti to…” Lagi-lagi, saya meminta waktu sebentar, mumpung sudah sampai di sini.

Awalnya, saya ingin berdoa di candi, tapi banyak yang mengantre. Ya, banyak adegan mengantre dalam perjalanan ini. Mungkin, pertanda agar lebih bersabar untuk ke depannya. Tak apa. Setidaknya, saya sudah jujur di hadapanNya dan Sang Bunda.

6c copy

6a copy

“Halo, Ndes… Tenan dewe’an to? Matamu kok masih berkaca-kaca?” Tiba-tiba duo Bantul itu datang dari belakang. Asem, Aring ini hanya menebak dan bercanda atau memang masih ada sisa air mata yang belum terhapus tuntas ya….?

“Iya, no… beneran… Masa’ bohongan…”

Cah backpacker je…” Giras menambahkan.

Hahaha… Masih terlalu cemen kalau dinobatkan sebagai backpaker. Toh, saya masih suka kebingungan menjadi penginapan dan transportasi.

Baiklah, perjalanan selanjutnya menuju toko saudaranya Giras yang menjual Brownies Cake. Waktu itu, saya berbelanja dua bolu dan beberapa camilan. Saudaranya ini sempat masuk Kompas, jadi penasaran, deh.

“Wah, iki kayak nganter turis tenan…” Kata Giras sambil melihat tentengan kantong oleh-oleh yang saya bawa.

Malam terakhir

Hujan datang sejak sore dan hingga pukul 19.00 WIB, masih saja hujan belum berhenti.

Syukurlah, duo Bantul masih punya waktu senggang untuk mengantarkan saya menuju sate klathak. Lagi-lagi ada yang tak berjodoh, kios Sate Klathak Pak Bari tidak buka. Mau tak mau, mencari penjual sate klathak lainnya. Ujung-ujungnya, kembali ke arah rumah Giras.

Ada banyak hal yang saya rindukan ketika bertemu dengan teman-teman dan salah satunya adalah berdiskusi, bercerita apa saja. Ada yang bertanya, menjawab, bercerita, mendengarkan, berpendapat, kritik, atau memberikan sudut pandang lain. Semuanya bukan soal kalah atau menang, salah atau benar.

“Jadi, sebenarnya kamu udah ke Jogja pas acara wisuda kemarin, Ndes? Wah, jangan-jangan ini terakhir kamu ke Jogja?”

“Iya, tanggal 23 kemarin udah ke sini. Hahaha…. Nggak, lah… selalu ada alasan untuk bisa ke sini lagi. Apa pun itu.”

Malam kian larut dan tak boleh ikut larut pula bersama malam agar masih dalam kondisi sadar bahwa besok pagi harus kembali pulang ke Tangerang. Alam memang tak pernah sesumbar dan mubazir. Ia sempat mengirimkan pertanda kegelisahan pada malam itu dan alasan atas kehadirannya menjadi rangkaian yang digenapkan pada hari ini.

Terima kasih, perjalanan.

Terima kasih, semesta.

30 November-3 Desember 2012, #solotrip

ps: Jangan terlalu asyik menikmati #solotrip, nanti enggak tahu asyiknya nge-trip berdua :p 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s