Hari Bersamanya

Alangkah menyenangkan menjadi sebuah meja. Bisa mendengarkan berbagai kisah dari berbagai orang yang singgah, meskipun acap kali terkena cipratan moccacino hangat yang mencuat dari bibir cangkir tak terarah. Bisa menikmati tangan-tangan yang bersenggama dari sepasang kekasih, meski acap kali tubuh menjadi lekat karena terkena noda dari pantat cangkir kopi. Bahkan, bunga warna-warni dan kerlip lilin pun selalu menghiasi tubuhku. Membuatku tampil lebih cantik dan wangi. Sedikit saja tubuhku terkena noda, orang-orang berseragam akan sigap membersihkannya. Menyenangkan, bukan?Ah, itu dugaan awalku saja; imajinasi sewaktu kecil: ingin menjadi meja kafe.

Hari telah terganti
Tak bisa ku hindari
Tibalah saat ini bertemu dengannya

Kini aku hanya sebuah meja yang terletak di salah satu sudut gedung yang bertahun-tahun tak kunjung rampung direnovasi. Aku tak pernah menemui orang yang berbeda-beda. Tak ada genggaman tangan yang bersenggama di atas tubuhku. Tak ada cipratan kopi atau pun bunga warna-warni. Tubuhku pun lekat karena isolasi yang acap kali menempel sembarangan. Membosankan.

Lebih parah lagi, tak ada daftar lagu yang menghantarkan hari-hariku. Lagu itu saja yang terus-menerus kudengar, sudah lima hari. Membosankan.

Jantungku berdegup cepat
Kaki bergetar hebat
Akankah aku ulangi merusak harinya

“Waktu aku udah enggak banyak lagi. Ini harus diselesaikan.” Ini bukan hari kelima aku melihat perempuan ini. Sudah berkali-kali, mungkin sejak sebulan yang lalu. Ia adalah perempuan bertubuh kurus yang selalu tiba lebih dulu menyambangiku. Kaos kebesaran dengan lengan yang dilipat-lipat membuatnya semakin memperlihatkan tubuh yang tak berisi. Sore ini, air mukanya sedikit kecut. Nada bicaranya pun belum-belum sudah meninggi.

“Mau minum apa? Kopi, gelem ora? Apa teh?” Sambil mengeluarkan tumpukan kertas dari tas, seorang lelaki yang ada di hadapanku mencoba berbicara lebih tenang. Ia tahu bahwa perempuan yang ia ajak bicara sedang dalam kondisi tak tenang akibat kedatangannya yang terlambat, sama seperti sebelumnya.

“Hei, aku serius. Dengerndak to?”

Lha iyoaku ngertiIki yo lagi digarap… Mbok ‘ra sah serius-serius to….” Bung yang satu ini masih saja mencoba untuk menenangkan sang Nona dengan caranya sendiri.

“Aku teh ajaNuwun…” Ya, perempuan ini tak suka kopi dan tak pernah mau lagi mencicipinya. Sekali saja menikmati, kopi justru membuat jantungnya berpacu tak beraturan. Menurutnya, ada yang lebih layak membuat jantung berdetak tak karuan hingga akhirnya menyunggingkan senyuman.

Mohon Tuhan, untuk kali ini saja
Beri aku kekuatan ‘tuk menatap matanya

source: wallpapersdepot.com

“Diminum sik, lho tehnya… biar tenang…”

“Hahaha… Makasih, lho… Tapi, aku lebih tenang kalau ini bisa selesai secepatnya…”

Aku sendiri tak memahami kedua orang ini. Apakah mereka tak bosan harus mempersoalkan hal yang sama, di tempat yang sama, dan berdiskusi dengan orang yang sama? Apakah mereka tak bosan menemuiku terus-menerus? Apakah mereka tak merasakan kebosanan yang aku rasakan?

Teman-temanku yang kini telah sukses menjadi meja kafe tentu tak akan merasakan ini. Barangkali, hidup mereka lebih berwarna-warni karena menjadi muara bagi sejumlah orang yang berbagi cerita. Mungkin.

Mohon Tuhan, untuk kali ini saja
Lancarkanlah hariku
Hariku bersamanya
Hariku bersamanya

Mereka berdua memang membutuhkan musik pengiring untuk mengalihkan suara gaduh akibat aktivitas renovasi di beberapa sudut gedung ini. Sayangnya, ini tak jauh beda dengan program cuci otak terhadapku.

Kau tahu betapa aku lemah di hadapannya
Kau tahu berapa lama aku mendambakannya

“Kamu enggak bosan nyetel lagu itu terus-terusan?” Akhirnya! Terima kasih, Nona atas pertanyaan dan sindiranmu. Aku juga sudah bosan mendengarkan lagu yang terus ia mainkan lewat ponsel barunya.

Enggak…” jawab lelaki itu lugas. “Kamu enggak bosan ngingetin aku buat nyelesaiin ini semua?” Kali ini pertanyaan dilontarkan untuk menyindir sang Nona. Pembalasan dendam.

Enggak …”

“Kamu enggak berubah pikiran untuk tinggal di sini saja?”

Enggak …”

“Duh…” Lelaki itu menepuk dahinya dan segera mencari sebatang rokok untuk ia nyalakan; mencari tempat pelarian atas kegelisahannya.

“Diminum sik, lho tehnya… biar tenang … hahaha…”

“Hahahaa…. Ngono yo oleh…”

Tuhan tolonglah (beri kesempatan)

Tuhan tolonglah (beri kesempatan)

Apa yang terjadi berulang-ulang barangkali akan terasa membosankan. Tetapi, ketika hal itu perlahan-lahan tak lagi berulang, kita bisa saja merasakan kehilangan. Kebosanan pun menjadi hal yang paling dirindukan…

Bagaimana pun, mereka berdua telah memosisikanku sebaik-baiknya. Sebelum mereka datang, aku hanya sebuah meja yang dijadikan sebagai alat bantu bagi para kuli bangunan untuk memperbaiki langit-langit. Benda yang lebih sering menyentuh tubuhku adalah sepasang sepatu bot dan hal yang membuat tubuhku lekat adalah cipratan cat dari kuas sang pekerja. Barangkali, rasa kehilangan seperti inilah yang tak bisa dirasakan teman-temanku para meja kafe. Mungkin.

Apabila mereka pergi, apakah aku akan kehilangan kebosanan atau justru akan mendapatkan kebosanan yang berlebihan?

*Terima kasih untuk Mahesa yang sudah membuat cover Hari BersamanyaSheila on 7. FYI, “suara-awan” miliknya sangat layak untuk dikunjungi, lho. :D 

2 thoughts on “Hari Bersamanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s