Perjalanan Perjalanan Perjalanan

Minggu, 7 April 2013

Kereta Taksaka malam semakin membawa saya larut dalam pemaknaan perjalanan (hidup). Memikirkan apa yang telah terjadi selama ini, apa yang sedang dialami, dan mimpi-mipi apa yang ingin dilakoni. Sembari berpikir, dua ibu jari tetap menari-nari di atas ponsel demi sebuah artikel perjalanan yang harus dikirimkan esok hari. Sembari mengetik, sesekali pandangan beralih ke arah jendela, melihat pantulan wajah sendiri, tersenyum kecil, dan berkata dalam hati “Apa yang akan terjadi jika tak melakukan perjalanan ini?” Sembari merenung, ada lagi yang dilakukan…

Begitulah cara saya menikmati perjalanan malam itu, sama seperti bagaimana menikmati perjalanan hidup ini: melakukan banyak hal untuk siapa pun.

Waktu mengajarkan kesabaran dan kedewasaan, jika kita memiliki kepekaan.

Awal tahun 2013, saya bertekad untuk merayakan pergantian usia dengan sebuah perjalanan. Sendiri. “Berada di tempat yang memang seharusnya saya berada, di mana pun.” Begitulah impian kepada Pemilik Semesta. Sayangnya, rencana itu (sempat) menjadi wacana belaka karena agenda lain.

Jumat, 5 April 2013

Di dunia ini tidak ada yang kebetulan, Gan. – Yudo Nugroho

Seolah-olah ada yang berbisik – entah sugesti, entah intuisi – “Pergilah…”, maka saya langsung membuka situs PT KAI. Menatap gamang, meski pandangan sempat teralihkan akibat kerlip merah notifikasi ponsel yang terus berkedip. Pesan yang masuk mengabarkan upacara pernikahan seorang teman akan diadakan minggu depan. Apakah ini pertanda agar tidak ada yang tertunda? Kepada intuisi, apalagi yang kau bisikkan?

Lewat dua jam membiarkan halaman reservasi tiket terus aktif. Bagaimana tak gelisah jika tiket menuju Jakarta telah habis untuk keberangkatan malam. Dengan lemas, saya coba me-refresh. “Kowe coba wae refresh web’e. Kan, suka ada yang batalin atau telat transfer, bisa jadi nanti status ketersediaan tiket berubah,” terngiang-ngiang tips dan trik dari Mas Tyas. Hasilnya, nihil.

Lewat tengah hari, saya mencoba lagi untuk me-refresh. Taksaka malam, sisa satu tiket. Klik booking! Lemas pun sirna. Apakah ini kebetulan?

Sabtu, 6 April 2013

Tidak ada kebetulan. Providentia Dei, penyelenggaraan Illahi. Semua sudah direncanakan olehNya. – Antonius Sulistyo, mengutip Jakob Oetama

Semalam barangkali menjadi waktu berkemas terlama, dua jam lebih, sebab harus disela dengan perkara lain. Setengah enam pagi, saatnya pergi, mengajak kedua mata bersemangat dan melupakan waktu libur lebih lama.

Kereta Fajar Utama adalah teman perjalanan pagi ini. Deru kereta sesekali menemani saya menyelesaikan beberapa paragraf tulisan tentang perjalanan. Sesekali menemani ketika menyelesaikan satu ulasan kisah perjalanan sebuah korporat dari buku antologi liputan media nasional yang dibawa. Sesekali menjadi musik pengiring lelah hingga kedua mata lunas membayar hutang di akhir pekan. Sesekali pula ikut merekam apa yang sempat terekam selama perjalanan.

SEBELUM KEBERANGKATAN. Waiting the train

SEBELUM KEBERANGKATAN. Waiting the train.

KENIKMATAN (DALAM) PERJALANAN. When I see your green.

KENIKMATAN (DALAM) PERJALANAN. When I see your green.

Manusia mengenal adanya kejutan. Bagi-Nya, segala sesuatu yang bernama kejutan adalah bagian dari apa yang telah Ia rencanakan.

“Kalau pun harus batal untuk melakukan perjalanan sendiri, bercerita kepada Sang Bunda usai misa Minggu tampaknya sudah lebih dari cukup.” Ternyata, semesta memiliki skenario lain. Malam ini, saya berada di sini.

Ganjuran is the best healing place for broken hearted people.” Kurang lebih seperti itulah ucapan yang pernah dikatakan Bung Giras Pasopati. Ini adalah kali kedua saya bercerita dan menyegarkan hati dengan air mata. Tapi, tak ada lagi perkara hati. Yang dilakukan adalah berterima kasih atas apa yang telah terjadi, memohon restu atas apa yang sedang terjadi, dan mengajukan proposal atas mimpi yang ingin dilakoni. Tak ada yang lebih melegakan hati daripada ini.

Terima kasih untuk kawan yang bersedia menemani ke tempat ini (dan ke tempat lainnya). Nuwun, lho.. toss sik ben kanca.

Nderek Dewi Maria.

Nderek Dewi Maria.

Masih tak menyangka sempat bertemu dengan salah satu dosen idola di kampus siang tadi, di tempat ini pun saya mendapatkan kejutan lainnya; bertemu salah satu teman kampus. Apakah ini kebetulan?

Senin, 8 April 2013

Perjalanan terus berlanjut dan hari ini adalah awal atas segalanya. 

SETIBANYA DI JAKARTA. Sebuah persinggahan. Usai perjalanan sebelum menjumpai tempat perhentian.

SETIBANYA DI JAKARTA. Sebuah persinggahan. Usai perjalanan sebelum menjumpai tempat perhentian.

“Selamat ulang tahun kami ucapkan, selamat panjang umur kita ‘kan doakan… selamat sejahtera, sehat sentosa … selamat panjang umur dan bahagia…” Nyanyian pertama dari mama melalui telepon di pagi hari. Ini menghangatkan saya lebih dulu sebab mentari masih nyenyak berselimutkan langit. Rasanya seperti kembali menjadi anak perantauan.

“Pagi ini mama nggak bisa ngucapin langsung. Di kamar nggak ada kamu, dek. Selamat merayakan ulang tahun di taksi ya… Hati-hati…” Ada yang tak terbendung selama perjalanan menuju kantor dari stasiun, senyum dan air mata.

Semakin Ia tidak dapat kita mengerti, maka Ia semakin menjadi Tuhan. – Romo Sindhunata, SJ dalam upacara pemakaman Alm Abun Sanda (8/4)

Tak pernah membayangkan akan seperti apa hari ini. Namun, rasanya perjalanan begitu komplet. Hari ini saya mengenang hari lahir di tengah kedukaan. Pak Abun telah menjadi penentu perjalanan satu tahun lima bulan silam. Wejangan beliau pun akan selalu mengiringi perjalanan hidup saya selanjutnya. Terima kasih, Pak Abun.

Orang lain adalah perpanjangan tangan dariNya, memberikan tanda. Sekali lagi, jika kita mau peka.

Hari ini juga menghadirkan rangkaian “kebetulan”, kejutan, dan rencana yang telah disiapkan mereka. Ya, mereka. Karena tidak ada seseorang, maka ini adalah tahap sebuah penyadaran untuk lebih peka melihat yang ada di sekitar. Tak perlu muluk menuntut yang tak ada, tetapi hargailah segala sesuatu yang telah dimiliki dan setia menemani: keluarga dan teman-teman, bahkan diri sendiri.

Usai melakukan perjalanan ke Karawang selama kurang lebih lima jam, saya kembali ke kantor. Belum genap 10 menit duduk di depan monitor komputer, ponsel saya bergetar.

Happy birthday to you… Happy birthday to you… Happy birthday happy birthday happy birthday to you…” Nyanyian kedua datang dari sahabat SMP saya melalui telepon. Ni Putu Mustika Dewi, ibu guru yang kini berada di Sekampung, Lampung ini memang orang yang nyentrik. Nyanyiannya membuat saya tertawa, hilang kata, dan menjadi pusat perhatian.

Anggap saja ini hadiah yang “kebetulan”. Hehehe…

Orang lain adalah perpanjangan tangan dariNya yang mampu mengingatkan jika kita mulai mengabaikan pesanNya.

Masih ada satu artikel perjalanan lagi yang belum tuntas, padahal sore telah tiba. Ini tak boleh dibiarkan begitu saja. Mau tak mau, earphone harus dipasang. Saya harus bergeming di depan monitor, fokus, tak boleh menyambar percakapan yang ada di sekitar karena artikel pasti akan semakin terabaikan.

Celakanya, ini semakin membuat diri tak menyadari keberadaan orang lain di belakang, lengkap dengan nyanyian yang lagi-lagi membuat saya tertawa, hilang kata, dan menjadi pusat perhatian. Bahkan, kehadiran sang fotografer, Tommy, yang ada di depan pun tidak saya sadari.

Menanti giliran untuk memberikan salju dan ...

Menanti giliran untuk memberikan salju dan …

“Lagi nulis perjalanan bersalju, eh saljunya sampai di sini beneran. Luar biasa,” ujar saya sore ini. Artikel yang masih membutuhkan paragraf penutup itu pun terabaikan beberapa menit.

Bersama para partner in crime-nya Bung Vito.

Bersama para partner in crime-nya Bung Vito.

SANG DALANG. Benar-benar di balik layar (kamera).

SANG DALANG. Benar-benar di balik layar (kamera).

Terima kasih untuk Vito yang telah menyiapkan rencana yang “ya-ampun-reseh-dan-gila-banget-Bung”. Hehehe… Terima kasih pula untuk kejutan lain, sebuah tulisan yang membuat saya berkata “iya-ini-mah-Gandes-banget” usai membacanya. Untung, saya membaca update new posting yang terhubung dengan akun Twitter-mu, Bung! Hehehe…. Terima kasih banyak, wahai sobat cubicle… Gokil!

I’M THE PRESENT. Menghadiahkan diri sendiri untuk orang lain.

I’M THE PRESENT. Menghadiahkan diri sendiri untuk orang lain.

Perjalanan belum usai. Saya pun siap menanti “kebetulan” dan kejutan lainnya dariNya melalui semesta dan mereka.

Sesungguhnya segala kebetulan itu telah direncanakan oleh alam. – Purba Wirastama dalam pesan singkatnya di penghujung hari.

Terima kasih, semesta.

Terima kasih, Jogjakarta.

Terima kasih, “kebetulan”… saya percaya bahwa kamu tidak ada.

2 thoughts on “Perjalanan Perjalanan Perjalanan

  1. Hei, jebul dirimu tanggal 8 kemaren ulang tahun ya? Maaafff.. Itu pas saya mulai perjalanan ke Kalimantan je, jadi kadang dapet koneksi internet kadang tidak.

    Selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur, sehat selalu, rejeki lancar, karir menanjak, dan semoga sempat berhujan-hujanan lagi. Aamiiinn..🙂

    • Mas Iwan…
      Iya, ndak apa-apa, kok.. Nanti aku tunggu traktirannya aja… *lho😀
      Amin. Makasih untuk doanya.
      Yiey! Semoga bisa hujan-hujanan lagi untuk mendukung “teori pertemuan”. Hahahaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s