Acuh untuk Menghindar

Ketika penyadaran datang lebih terlambat ketimbang penyesalan…

“Bahagia adalah menulis tweet tanpa harus memperhatikan timeline, cukup berada di tab mention.”

Begitulah kira-kira kicau yang pernah dilontarkan. “Konsep bahagia” seperti itu kerap dilakukan ketika linimasa sedang terbaca tidak asyik. Misalnya, jamak pengicau membicarakan progres skripsi ketika saya dan skripsi sedang mentok. Kondisi memuakkan lainnya adalah jamak pengicau membicarakan progres panggilan kerjaan di saat saya dan kabar panggilan sedang sepi. Alhasil, salah satu upaya “pelarian-tapi-tetep-pengen-ngetweet” adalah menghindari timeline, langsung menuju tab mention, klik “compose tweet“. Itu dulu.

Ya, saya tidak menggunakan fitur mute atau block. Hingga saat ini, cara tersebut tidak menjadi pilihan dalam bersikap.

Bumerang I
“Konsep bahagia” dengan menghindari linimasa tampaknya tak melulu jadi cara yang jitu dan tepat. Terkadang, kita saya justru perlu memperhatikan sekitar agar dapat menghindar.

“Lho, emangnya Mba Gandes nggak lihat tweet-ku po? Nggak ngerti kalau aku di sini?”

Saya semakin terperanjat mendengar pertanyaan Mamba pada April silam karena sontak melihat sosoknya di Ganjuran di malam hari. Kalau saya sempat menyimak linimasa sebelumnya, sebenarnya bisa membuat dugaan dan bertindak tepat. Ya, teman sewaktu kuliah yang juga aktif di Twitter ini sempat menulis tweet mengenai keberadaannya. Seharusnya, saya membaca dan mampu bersikap. Seharusnya.

Perasaan kaget dan ketidaktahuan saya terhadap keberadaannya barangkali menjadi keheranan Mamba. “Mba Gandes kan sering keliaran di timeline, mestinya mengetahui pergerakan teman-teman di Twitter, paham apa yang dilakukan teman-teman. Kok, gitu aja nggak tahu, sih?” Mungkin, kalimat inilah yang menjadi hal implisit di balik pertanyaan singkatnya. Mungkin.

Faktanya, saya memang tidak sedang aktif di timeline pada waktu itu. Terakhir aktif, pada sore hari. Oke, ini adalah pelajaran pertama.

Bumerang II

Anggap saja saya adalah keledai yang jatuh dalam pelarian yang sama. Beberapa minggu terakhir, lagi-lagi saya kembali menerapkan “konsep bahagia”, meskipun kali ini intensitas melihat kicauan lain sedikit lebih sering dibandingkan penerapan sebelumnya. Pikiran sedang tak terkontrol, jadi lebih baik saya menghindari kicauan-kicauan yang bisa menjadi pemicu letupan emosi. Sayangnya, ini berdampak tidak baik. Kepekaan kian menurun jelang kepergian menuju Jogja.

“Malah pada tau, Ndes… Timing-mu meleset,” kali ini Doni yang mengingatkan.

Jujur, saya sendiri tidak menyadari kehadiran beberapa teman di tempat yang sama dengan saya. Padahal, bunyi kicauan terakhir milik mereka menyuratkan keberadaan dan aktivitas yang akan dilakukan. Saya mengetahuinya setelah menelusuri linimasa salah satu dari mereka H+1. Percuma, memang. Ah, seharusnya saya mengetahuinya. Seharusnya.

Faktanya, saya memang berusaha menghindari timeline pada waktu itu dan tidak mengikuti perkembangan beberapa minggu sebelumnya. Siapa berencana apa dengan siapa. Oke, ini adalah pelajaran kedua dan semoga tidak ada kejadian yang ketiga kalinya.

Dunia Twitter itu unik. Kita bisa saja menghindar dari timeline untuk melakukan pelarian dari kicauan-kicauan yang memusingkan. Namun, terkadang kita juga perlu menyimak timeline agar bisa melakukan pelarian, mencari celah untuk menghindar dari keberadaan mereka yang terlacak. Apakah ada saran mengenai upaya pelarian dan penghindaran lainnya?🙂

Saran terakhir yang saya dapat dari Mamba adalah sebagai berikut.

Lepas dari baik atau buruk, Twitter itu mengajarkan kepekaan. Mungkin.

2 thoughts on “Acuh untuk Menghindar

  1. oh em penting bngt temen lo minta dipantau twitternya? emnk dia sape? kate middleton? madona? sabar ya, anak jaman sekarang emang gitu, pemikirannya ribet gr2 kebanyakan mkan meciinnn…wasalam…bilang aja,” waktu gw sibuk buat kerja, dan twitter bukan kitab suci yg hrs dibaca keseluruhan secara detail” astaga gw ngetik smbil kesel jadinya, hahahahhahaha pengen gw lempar cimol pedes tu temenlo… ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s