Malam Apresiasi (untuk) Pemuda Fistfest 2013

Ketika masih ada yang tersimpan dan terlihat jelas….

“Gambar folder-folder itu jadi ingetin waktu dulu. Ckckck sayang… pendokumentasian acaranya kurang ya.. cuma dokumen pembayaran pajak yang tersisa. Hehehe… Semoga tahun ini juga lebih baik.”

Begitulah respons seorang kawan ketika saya memperlihatkan gambar susunan folder yang masih tersimpan di komputer pada 14 April silam. Ada hal yang harus dibereskan sebelum saya membiarkan sang komputer menjalani masa pensiun karena usia yang kian renta.

20130329_131536

Judul folder yang salah. Salah siapa, coba?

FISTFEST (FISIP Twisted Festival). Tiga tahun yang lalu. Segala berkas pun masih berada di dalam folder, lengkap dengan ingatan-ingatan tentang rencana yang terlaksana dan belum kesampaian. Tapi, tidak ada folder yang menyimpan dokumentasi selama acara. Persis dengan apa yang diujarkannya. Saya sendiri tidak menyimpannya. Entahlah, ada di mana dan disimpan siapa.

Beruntung, penyelenggaraan yang ketiga ini membawa “karma baik”. Lihat saja linimasa Fistfest 2013, banyak hal yang diwartakan pasca-acara. Belum lagi, foto-foto yang disebarkan secara “cuma-cuma” oleh berbagai pihak, termasuk dari Swinging Friends yang menantikan kehadiran Mocca selaku special guest. Pemanfaatan media baru yang cukup cerdas bagi teman-teman panitia.

image

Hasil pantauan pada Senin (20/5) di malam hari.

Tapi, ini lebih dari sekadar Mocca. Saya menantikan mereka yang bersemangat memberikan persembahan terbaik, dari rangkaian awal (29/4) hingga acara puncak Malam Apresiasi Pemuda pada Minggu (19/5). Bahkan, tanpa sadar, terjadi perbincangan perihal teknis pada saat acara malam puncak berlangsung. Mungkin, inilah cara liyan menikmati Fistfest kali ini.

“Lho, acaranya di luar po? Tak pikir ki ning njero e…” Komentar pertama dari kawan saya setibanya di parkiran. Kami mengira hiruk-pikuk di halaman Taman Budaya Yogyakarta adalah acara yang dituju. Ternyata, salah duga. Bukan kenyamanan penonton saja yang dipertimbangkan seandainya acara berlangsung di luar, tetapi juga para pengisi acara. Masalah sound, belum lagi cuaca yang tiba-tiba bisa saja menghadirkan hujan. Begitulah pemikiran dari sang Ketua Fistfest periode I.

“Oh, mereka (panitia) jadinya ndak ada seragam juga po? Padahal, tahun kemarin sempat ada…” Komentar saya ketika memasuki gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Setidaknya, warna kaos yang dipakai sudah seragam sehingga memudahkan saya untuk bertanya arah yang tepat menuju venue.

“Itu rokok yang disita banyak banget. Buat panitianya po yo?” Komentar selanjutnya dari kawan saya ketika ada pemeriksaan isi tas sebelum masuk.

“Eh, bahan tiketnya dari mika po yo? Yo apik ki…” Kawan saya yang satu ini sampai-sampai mengeluarkan ponselnya supaya mendapat cahaya lebih banyak demi menyorot tiket yang ia pegang, lalu meraba-raba bahan materialnya. Niat.

20130523_170607

Ini bukan tiket kawan saya.

“Hmm… kayaknya, mereka nempelin nomor kursi satu per satu, deh. Keren banget…” Ini komentar saya setelah mengamati dengan saksama isolasi yang melekat pada gagang kursi. Menurut tweet akun resmi Fistfest 2013, kapasitas gedung mencapai 1200 orang. Namun, saya tidak mengetahui jumlah kursi yang disediakan panitia. Perihal waktu pengerjaan, mereka menjawab dengan super.🙂

Ini bukan nomor bangku saya.

Ini bukan nomor bangku saya.

Belum lagi, satu-dua orang yang acap kali wira-wiri di hadapan saya demi menghantarkan penonton ke arah tempat duduk yang tepat atau berkoordinasi dengan tim lain. Bung Presiden BEM yang stand by di bangku barisan depan. Koordinator acara yang mengonsep datangnya Arina menuju venue hingga penonton “telat” berteriak histeris. Pantas saja waktu itu sang koordinator ikut mengarahkan. Ditambah lagi, bagian encore yang mampu menunda sejumlah penonton beranjak dari venue. Luar biasa adalah ketika para panitia beraksi sigap seperti pasukan antihuru-hara yang bersiaga menjaga Arina dari serbuan Swinging Friends.

“Eh, itu kayaknya Sidhi, deh… Ya ampun… Sidhi seharusnya ndak di situ. Nanti malah kena dorong penonton.” Setelah saya mengonfirmasi kepada orang yang bersangkutan, ternyata benar. Orang yang saya lihat di pojok kanan panggung waktu itu adalah dia.

Ada pula mereka yang asyik di balik layar. Meski sempat ikut deg-degan karena ada suguhan visual yang sempat tersendat, tapi ke-EPIC-annya tak ikut terhambat, kok. Keren!🙂

image

 “Setidaknya, nggak malu-maluin bisa menjamu Mocca dengan tempat yang semaksimal mungkin nyaman…” Kawan saya yang satu ini melihat bahwa pemilihan tempat acara sudah tepat. Meski tak terlihat mewah, setidaknya cukup nyaman untuk seluruh pengisi acara, dari teman-teman UKM sendiri maupun pihak luar. Yang bertamu akan merasa nyaman dan memberikan penampilan terbaik jika sang penjamu juga memberikan kenyamanan. Besok-besok, tamu tak akan jera untuk datang kembali, bahkan bisa saja mengajak tamu-tamu yang lain. Well done!

Ini salah satu wujud apresiasi untuk kalian atas persembahan tujuh hari yang lalu. Sawang sinawang. Saya sendiri tidak memahami betul dinamika yang ada di dalam panitia, tapi hal-hal seperti itu kelak bisa menjadi bagian yang tak terlupakan, lebih dari euforia kesenangan pasca-acara. Mungkin.

7  days ago you said you love me
Was that real or just a dream?
I was so happy I could scream
My heart was jumping

Mocca yang bilang jatuh hati kepada Jogja waktu itu. Siapa tahu besok-besok ada tamu lain yang juga jatuh hati.

Ps: Maaf, tidak ada kritik lebih detail karena nanti justru akan memudahkan kalian untuk menyelesaikan LPJ. :p

Tautan terkait:
Hangatnya Mocca

Dua Jam Penuh

Malam Apresiasi

Arina Mocca

Laporan Langsung Malam Apresiasi

Foto: Malam Apresiasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s