Berkereta dalam Dystopia

Tangerang, 28 Januari 2012,
Off Her Love Letter menyambut kedatangan saya di kotak masuk surat elektronik. Inilah pertama kalinya saya mulai mengakrabkan diri dengan Melancholic Bitch. Waktu itu, saya lebih dulu dikenalkan dengan nama panggilannya, Melbi.

Saya bukan orang yang mumpuni di bidang musik, memahami seluk-beluk perkembangan belantika musik Tanah Air, ataupun mampu mengabstraksikan jenis musik. Tak pernah bisa benar-benar fanatik pada satu musisi. Segalanya masih batas rasional. Tidak getol mengoleksi segala macam cendera mata, apalagi lihai menjadi kutu loncat untuk menyambangi satu konser ke konser yang lain. Hal paling maksimal – barangkali juga karena alasan sentimental – yang pernah dilakukan adalah mengejar Mocca hingga ke Yogyakarta. Soal selera musik, saya orang yang terbuka. Satu-satunya sang kurator adalah telinga saya.

Terlambat. Melancholic Bitch, grup musik “produk” dari Yogyakarta ini hadir sejak akhir 1990-an, tetapi saya baru mengenalnya setahun yang lalu. Menyesal? Ada perasaan itu. Namun, akan lebih menyesal lagi jika telinga sama sekali tak sempat menikmati karya Ugo dan kawan-kawan.

Setiap lirik Melancholic Bitch memiliki story-telling yang kuat sekaligus filosofis. Terlebih lagi, mereka menghadirkan Joni dan Susi yang menjadikan para penikmat tak ubahnya menjadi Joni atau Susi, bahkan mampu mengimajinasikannya kembali dengan versi sesuka hati. Kekuatan story-telling pun dibawa saat tampil di @atamerica, Jakarta pada Sabtu (13/7) silam. Joni dan Susi kini tak hanya masuk televisi, tetapi juga telah merasuk dalam imaji.

Sabtu (13/7), @atamerica, Jakarta

@atamerica, Jakarta (13/7)

@atamerica, Jakarta (13/7)

@atamerica, Jakarta (13/7)

Kompas, 21 Juli 2013. Foto dan tulisan oleh: Herlambang Jaluardi

Harian Kompas, 21 Juli 2013. Foto dan tulisan oleh: Herlambang Jaluardi

Sentimental
Ini pertama kalinya saya menyimak kisah Joni dan Susi secara langsung. Terima kasih untuk kawan seperjuangan saya, Ocha, yang telah mengingatkan. Sejak awal duduk, selalu ada pertanyaan yang menggelinjang: Kapan saya diajak berkereta, Melbi?

Izinkanlah saya, penikmat amatir, bertindak irasional. Bukankah alasan-alasan sentimental kerap menjadikan seseorang bertindak berlebihan? Ya, barangkali penikmat setia tidak akan melakukannya. Maaf, “berkereta” telah menjadi hal sakral bagi saya. Entah sampai kapan.

Kereta

Adalah ilustrasi kedua akibat terlalu akrab dengan Dystopia. Versi sebelumnya hadir pada secarik kertas berisikan surat tulisan tangan. Faktanya, saya mengurungkan niat untuk membawa gambar ini.

Akhirnya, saya pilih cara lain.

Terima kasih untuk seorang pencerita yang telah mengenalkan saya kepada si empunya Joni dan Susi. Ada yang masih akan berkereta, tetapi tidak dalam tujuan yang sama.🙂

One thought on “Berkereta dalam Dystopia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s