‪”Sampai kapan bisa ikhlas?”

Belum tuntas 2013, saya berani bilang bahwa itulah pertanyaan yang paling banyak didengar tahun ini. Padahal, pertanyaan itu pernah saya lontarkan kepada seorang kawan pada lima tahun silam.

“Lama atau tidaknya, itu tergantung dari diri kita sendiri. Kita sendiri yang bisa menentukan sikap,” katanya melalui pesan pendek.

Saya ingat betul. Jawaban diterima pada malam hari saat saya masih merantau di Yogyakarta. Sekarang pun, saya paham betul. Apabila ada seseorang yang bertanya demikian, kemungkinan ia sedang berada di titik lelah-merasa-sudah-berusaha-ikhlas-tapi-kok-tetap-tak-bisa. Ikhlas. Tak perlu bicara mengenai definisi. Kata yang mudah dihapal sewaktu SD dalam mata pelajaran PPKn ini ternyata menjadi hal tersulit untuk dilakoni ketika kita beranjak dewasa. Tak butuh definisi dan hapalan, kita butuh sikap dan perjuangan.

Beberapa bulan silam, saya mendengar siraman rohani dari seorang ustaz via siaran radio. Temanya ada ikhlas. Ada beberapa hal yang sampai sekarang terus diingat. Menurutnya, ikhlas adalah hal yang perlu diperjuangkan terus-menerus. Seumur hidup. Setan tidak akan peduli waktu. Ia akan menggoda manusia kapan saja. Kita yang telah mengaku ikhlas pun bisa saja tiba-tiba tergoda untuk kembali tidak ikhlas.

Saya coba ambil studi kasus sederhana. Seseorang yang belajar ikhlas untuk merelakan kekasihnya. Ia berharap bisa ikhlas, melupakan mantan dan segala kenangan masa lalu. Bertahun-tahun menetralkan perasaan hingga pada suatu waktu ia merasa sudah ikhlas.

Sayangnya, dia tak sadar bahwa ingatan masa lalu tak akan pernah benar-benar berlalu. Bisa saja ketika benar-benar tidak memikirkan masa lalu, seketika itu pula ada saja yang membangkitkan kenangan lama. Alhasil, benteng ikhlas -meminjam istilah sang ustaz- yang telah dibangun justru terkikis. Jika larut bernostalgia, benteng itu semakin runtuh. Jika ingin kembali utuh, ia harus membangun lagi benteng tersebut tanpa banyak mengeluh.

Merujuk pada studi kasus tersebut, jelas bahwa ikhlas adalah hal yang perlu diperjuangkan sebab “setan” bisa menggoda kapan saja. Setan di sini saya artikan sebagai segala sesuatu yang bisa meruntuhkan benteng ikhlas, termasuk lagu kenangan yang tiba-tiba terdengar saat menyetel play list lagu secara acak, foto mantan yang masih tersimpan di dalam komputer, atau barang-barang pemberian mantan yang masih terawat.

Bicara ikhlas memang tak melulu soal patah hati dan mantan. Tak melulu soal ditinggal menikah, tak jadi menikah, perselingkuhan, atau bahkan cinta tak terbalas selama bertahun-tahun. Ikhlas merelakan teman, sahabat, pasangan, atau keluarga yang meninggal dunia pun butuh perjuangan. Begitu juga ketika kita diajak ikhlas melihat kehidupan orang lain yang lebih baik.

Bicara ikhlas pun tak melulu soal kita dan orang lain. Hal tersulit justru ketika kita belajar untuk menerima sosok kita di masa lalu, mengikhlaskannya, dan kembali menata hidup. Setiap orang tentu mempunyai penyesalan dan kekecewaan atas masa lalu. Mendapat perlakuan tidak adil dari orang lain, direndahkan, mengalami keterpurukan, hingga keterasingan.

Ah, seandainya dulu saya begini, tentu tidak akan begitu. Ah, seandainya… Seandainya waktu bisa berputar, semua orang tentu ingin mengubah masa lalu. Padahal, jika masa lalu berubah, skenario hari ini dan masa depan juga akan berubah.

Masa lalu tak dapat diubah. Masa depan tak dapat diprediksi pasti. Satu-satunya yang dapat kita lakukan secara pasti adalah memperbaiki diri dengan berusaha sebaik mungkin pada hari ini.

We should organize our traumatic experiences in the past. Accept them, so we can continue living.”

Saya percaya bahwa penerimaan adalah tahap awal menuju ikhlas. Selanjutnya adalah memaafkan dan kembali bangkit. Menerima dan memaafkan diri sendiri kadang lebih sulit dibandingkan menerima dan memaafkan orang lain.

Lahir sebagai generasi narsis pun tak menjamin seseorang dengan mudah mencintai dirinya sendiri. Kecenderungan yang terjadi adalah sisi positif diri yang acap kali menjadi modal narsis. Alhasil, kita justru semakin menjauhi diri sendiri, menipu diri, bahkan menyangkal. Inilah yang menghambat proses penerimaan. Celakanya, kekecewaan bisa saja kian mengakar hingga kata maaf enggan dilontarkan untuk diri sendiri.

Tiga Mas

Setiap orang dikelilingi oleh tiga mas, masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketiganya memiliki porsi yang seimbang. Saya gambarkan dalam bentuk gambar yang terinspirasi dari garis bilangan. Terlalu sibuk memikirkan (kekecewaan dan penyesalan) masa lalu, masa kini akan terbuang percuma. Padahal, masih ada masa depan yang juga perlu dipikirkan dan disiapkan (pilihan 1).

Tiga Mas :)

Tiga Mas🙂

Lalu, apakah kita harus membuang masa lalu begitu saja? Saya rasa itu mustahil dan terlalu naif. Lagi-lagi, “setan” akan datang setiap detik. Apa pun dan bagaimana pun masa lalu kita, itu adalah bagian dari perjalanan. Tak dapat dielakkan (pilihan 2).

Saya membayangkan, masa lalu itu seperti bayangan diri. Ia pasti selalu akan mengikuti. Tetapi, ia kadang menjauh (dan tak terpikirkan), kadang mendekat (dan terpikirkan). Mau tak mau, kita perlu berdamai dan bersahabat dengannya agar tak ada lagi lontaran “Ih, ngapain sih ngikutin terus?”

Apakah ikhlas melulu soal kehilangan, perpisahan, dan kedukaan? Mungkin, tidak juga. Ikhlas juga diperlukan saat kita mendapatkan kebahagiaan. Ikhlas, tanpa perlu menuntut bahwa kebahagiaan akan datang berulang dengan kadar serupa atau bahkan lebih. Ikhlas, menerima kehadirannya apa adanya meski hanya dalam waktu yang tak lama. Saya tahu bahwa ikhlas tak hanya diomongkan ataupun ditulis. Ikhlas perlu dilakukan dan diperjuangkan. Tetapi, saya sering lupa. Maka dari itu, saya sengaja menulis ini sebagai pengingat.

Ikhlas tak pernah mengenal kata tuntas dan lunas selama kita masih bernapas.

Untuk semua para pejuang ikhlas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s