Sepatu Bapak

“Mba, kok ini mirip dengan punya Mas Priyo?”

“Ah, kebetulan wae, dik.”

“Coba mba telepon mas sik to…”

Ini adalah pagi kelima Andini tinggal di rumah kami. Katanya, ia sedang suntuk dengan pekerjaannya di Yogyakarta yang begitu-begitu saja hingga ingin menjajal rasanya tinggal di Jakarta lebih lama. Aneh, bukan? Aku saja ingin menghabiskan sisa-sisa hari tua di sana dan meninggalkan Ibu Kota. Segera.

Ini adalah pagi ketiga Mas Priyo pamit bertugas. Katanya, ia sedang fokus memantau pro-kontra wacana kenaikan BBM. Ini sudah tentu bukan persoalan langka, tapi selalu saja mampu menyulut amarah dari semua mata. Angka selalu jadi perkara. Mereka yang merasa peduli dan bertekad meluluhlantakkan penguasa, justru lebih ahli meluluhlantakkan fasilitas rakyat lebih dulu. Ini juga tergolong aneh, tidak?

“Mba, nek aku lagi di sini, biar aku sing resik-resik omah. Mba harus bekerja dan banyak istirahat juga to…” Tiba-tiba Andini menghampiri sembari menyerahkan notebook yang sempat terlupa. Aku tersenyum. Ini adalah pagi keduaratuslimabelasku yang tak pernah absen mendengar pesan “banyak istirahat”.

“Mba, jangan lupa hubungi Mas Priyo…”

“Iya, dik. Nanti tak’ telepon nek wes tekan kantor. Kamu neng omah yo kudu ati-ati…”

Rasanya aneh. Aku yang menjadi istri justru lebih santai ketimbang adiknya sendiri. Barangkali, apa yang kuyakini berbeda dengan keyakinan Andini.

****

Aku dan Mas Priyo sama-sama keras kepala dan prinsipil. Namun, kami memiliki prinsip yang berbeda. Bahkan, dalam perkara sebuah koran.

Menurut Mas Priyo, iklan itu pengganggu. Pembaca menyimak koran karena berita, bukan iklan. Pun bukan koran iklan. Sementara aku, menganggap iklan dalam koran sebagai nyawa, sumber penghidupan dan keberlangsungan koran itu sendiri.

Menurut Mas Priyo, iklan jacket di halaman depan koran adalah monster perusak minat baca. Sementara aku, beranggapan bahwa iklan jacket di halaman depan adalah monster baik hati pelengkap omzet dan mampu memperpanjang nyawa.

Menurut Mas Priyo, seorang copywriter tak perlu mengemas tulisan layaknya seorang jurnalis. Sementara aku, sudah tentu tak mau kalah. Seorang jurnalis tak perlu mengemas tulisan layaknya seorang copywriter penuh rayuan persuasif dan bernapaskan brief.

Menurut Mas Priyo, aku ini kapitalis. Menurutku, dia terlalu idealis. Hahaha…

Begitulah. Kami memang berbeda, tapi entah mengapa kami justru memilih untuk bersama. Barangkali, inilah yang menjadikan hidup lebih berwarna. Saling mengingatkan walau sebenarnya tak setiap pagi maupun malam bisa saling menyapa.

Terkadang, ia harus dinas ke luar kota atau negara untuk bekerja. Terkadang, giliranku berikutnya. Bahkan, rumah kami pun sesekali pernah merasa kesepian karena kedua penghuni pergi berhari-hari menuju tempat yang berbeda.

“Jika salah satu dari kita tak ada, percayalah bahwa kita akan tetap saling menjaga dalam doa,” begitu pesannya sewaktu mendapat tugas memantau konflik di distrik Wamena, Jayapura, Papua. Ia berpamitan tepat satu hari sebelum hari jadi tahun pertama usia pernikahan kami.

***

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa menit lagi.

Aku melakukan apa yang dianjurkan Andini. Jawaban yang diterima pun sebenarnya sudah biasa didengar. Akan tetapi, mengapa perut tiba-tiba menegang. Sakit.

“Sugeng siang, Mas Roy… Maaf, mengganggu.” Nekat. Aku menghubungi rekan kerjanya. Sejak masa pacaran empat tahun silam, hal seperti ini tak pernah dilakukan. Saling percaya, itulah kata kunci yang telah menjadi kesepakatan.

Sugeng siang, Mba Laras… Pripun, Mba?”

“Saya sudah lihat foto halaman depan hari ini…”

“Hmm, fotografer kami memang sempat bertemu Mas PRI – inisial Mas Priyo di koran – di tempat kejadian sebelum bentrok. Namun, hingga pasca-bentrok, Timur tidak melihat Mas PRI lagi, Mba…” Roy, rekan kerjanya sejak awal seolah-olah dapat membaca kegelisahanku. Perut semakin menegang, mengalahkan detak jantung yang tetap stabil. Mungkin, justru si pemilik jantung yang tinggal di dalam perut memiliki kegelisahan berlipat.

“Halo, Mba Laras. Suara saya kedengaran, ndak mbak? Ramai sekali di sana…” Roy sedikit menaikkan nada suara.

“Oh, dengar, Mas… Iya, maaf. Saya sedang liputan event. Hmm…”

“Kita berharap semua baik-baik saja ya mba…” Terima kasih, Roy. Aku hampir kehilangan kata-kata. Tak tahu harus berucap apa. Aku justru lebih menyiapkan daftar pertanyaan untuk wawancara nanti, bukan bertanya kepadamu, Roy.

Njih, mas. Baiklah kalau…”

“Mba, maaf. Ini ada info baru dari Timur. Dia barusan cek foto-foto lainnya. Ternyata, di dekat sepatu juga ditemukan ponsel yang mirip kepunyaan Mas PRI.”

“Keliatan bagian belakangnya, ndak? Handphone Mas Priyo punya tiga goresan karena sempat jatuh saat Mitoni kemarin,” Roy pasti tahu raut wajah panik ini meski tak sedang berhadapan.

“Maaf, Mba… Handphone-nya sudah hancur lebur. Kami tidak bisa melihat dengan jelas.”

“Oh, gitu…”

“Maaf, mba…”

***

“Ibuuuuuu…”

Baru saja menyalakan notebook untuk menggarap transkrip wawancara, tiba-tiba terdengar “alarm” dari bocah lelaki yang belum genap berumur 4 tahun.

“Iya, sayang. Ada apa?”

“Kenapa sepatu Bapak cuma satu yang disimpan di dalam kotak itu? Bapak juga atlet pemain sepak bola?” Kepolosan kedua matanya beradu denganku. Akhirnya, ia berani meluapkan rasa penasaran setelah tahun-tahun sebelumnya hanya berani menatap kotak transparan yang sengaja dilekatkan pada dinding ruang tamu itu lebih lama.

“Bukan atlet. Sepatu yang satu lagi tertinggal saat Bapak liputan.”

“Tertinggal? Bapak enggak bisa pasang tali sepatu? Bagas aja bisa, kok.”

“Waktu itu, Bapak harus mencari tempat aman karena mahasiswa sedang berantem sama pak polisi. Sama seperti yang kamu lihat di televisi tadi.”

“Apakah Bapak juga suka ninggalin Ibu?”

“Bapak bekerja. Ibu bekerja. Ada kalanya kami tak bertemu, ada kalanya kami tak bersama. Tapi, kami saling menjaga dalam doa.”

“Sama seperti Bagas yang menjaga Bapak dan Ibu dalam doa?” Matanya semakin menatapku lekat-lekat. Tegar. Tak banyak kegelisahan yang kutangkap.

“Benar, sayang…”

“Selamat malam semuanyaaa…” Lelaki berwajah lusuh tiba-tiba menginterupsi kami. “Hei, kamu sudah di rumah duluan. Tumben.” Sekilas terdengar menyindir, tetapi sebuah kecupan tetap menyambangi keningku. Ia tak pernah peduli berapa liter minyak yang melapisi wajah ini.

“Iya, Mas. Tadi ada liputan sore, eh malah disuruh langsung pulang saja… Tadi kejebak macet karena demo?”

Ndak, kok… Hari ini bubarnya lebih cepat. Hehehe…”

“Bapak malam ini enggak perlu bacain cerita! Aku mau nulis aja!” Bagas lupa mengecilkan volume suaranya, padahal kini ia berada dalam gendongan Mas Priyo. Bagas tak pernah peduli berapa liter keringat yang melekat di tubuh bapaknya.

“Bagas mau menulis apa?” Peluhnya tak menyurutkan kelembutannya dalam berbicara kepada Bagas.

“Apa aja, dong… Kalau aku nanti jadi mahasiswa, aku mau bikin karya, bukan huru-hara!” Volumenya justru makin keras, tak ubahnya sang orator yang mencoba mempersuasi khalayak. Kami tersenyum melihatnya sembari mengamini dalam hati.

“Kamu habis cerita apa to?” Mas Priyo berbisik kepadaku di sela-sela semangat Bagas yang masih membahana.

“Katanya, dia mau jadi jurnalis, bukan orang anarkis…”

“Berarti, aku menang yo saiki?”

“Hahahaha…”

Mas Priyo membawa Bagas ke dalam kamar. Aku membawa senyum mereka ke dalam lemburan malam ini. Terima kasih, semesta. Semoga kami akan terus saling menjaga.

Tangerang, 29 September 2013

np Iwan Fals – Galang Rambu Anarki (1982)

*Pasca-kenaikan BBM per 1 Agustus 2013, saya justru diperdengarkan lagu Iwan Fals di dalam angkutan umum. Saya semakin menyadari bahwa perkara kenaikan BBM sudah menjadi lagu lama dan (barangkali) akan terus melegenda.

**Foto merupakan karya Aring Sulistyo, hasil pantauannya terhadap aksi unjuk rasa di Yogyakarta akibat kenaikan BBM pada 1 April 2012 silam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s