#MuseumPahitManis, Jogjakarta-kan Jakarta

Tekad yang awalnya bersuara lantang “saya harus menonton” akhirnya berangsur surut dan berganti menjadi “saya harus memberikan barang ini.”

Mengapa?

Entahlah, seolah-olah ada yang mengharuskan. Sama halnya ketika saya harus pergi berkereta tiba-tiba menuju tempat yang sebenarnya sudah berulang-ulang kali disambangi sebelumnya.

Saya tak harus menonton. Tapi, saya harus memberikan barang.

Itulah modal saya.

Berhari-hari dalam status waiting-list sebagai penonton pertunjukan Secangkir Kopi dari Playa milik Papermoon Puppet Theatre semakin menyadarkan saya. Ya sudah, lah. Barangkali, tak jodoh. Tapi, tekad untuk memberikan barang yang ingin dilupakan sudah bulat. Senin, 30 September 2013, saya akan tetap mengantarkan barang tersebut. Entahlah, seolah-olah ada yang mengharuskan. Semoga ini sesuai dengan kehendak semesta.

Ternyata, semesta berkata lebih cepat. Tak dinyana, pihak penyelenggara, Goethe-Institut Jakarta, membalas surel saya kembali dan memberitahukan bahwa ada pertunjukan tambahan pada 2 Oktober 2013. Penukaran tiket dibuka pada Sabtu (28/9) dan Minggu (29/9). Ajaibnya, pesan baru masuk pada Sabtu siang. Karena tak memungkinkan untuk menuju kantor mereka yang berada di bilangan Menteng, saya memilih Minggu saja.

Tekad untuk menukarkan barang masih menjadi modal, meski sebenarnya sudah jelas bahwa Secangkir Kopi dari Playa dapat saya sesap segera.

 ***

Minggu, 29 September 2013

Merasa harus datang lebih pagi, saya justru kembali diuji dengan kesabaran. Menunggu pihak panitia selama dua jam. Namun, ada satu penukar tiket yang menemani pada satu jam terakhir. Namanya, Gina. Gina dan Gandes bertemu di Goethe. Kebetulan, kah?

Tekad menonton, terbayar. Tekad menukar barang, terbayar. Kini, giliran tekad untuk meningkatkan rasa ikhlas (legawa) usai menonton. Apakah bisa?

Secangkir kopi di #MuseumPahitManis

Saya tak suka kopi, tapi kali ini saya merasa haus dan ingin segera menyesapnya. Apa pun rasanya, pahit atau manis.

Malam hari. Kami berkumpul lebih dulu bersama rombongan. Lalu, ada bus kecil yang menjemput, mengantar ke tempat rahasia. Di sanalah Secangkir Kopi dari Playa hadir. Di antara tumpukan barang lawas, tersimpan kisah nyata Pak Wi dan seorang perempuan pada rezim Soekarno. Ada kenangan yang terus menderas.

Pintu gerbang #MuseumPahitManis

Pintu gerbang #MuseumPahitManis, Jalan Pekalongan, Menteng.

Sang perempuan selalu meracik kopi ketika mereka bertemu. Mereka berdua membaca buku bersama. Hingga suatu saat, Pak Wi harus pergi ke Uni Soviet menjalankan misi akademik sebagai perwakilan dari Indonesia untuk belajar di sana. Alhasil, sepasang kekasih ini terpisahkan oleh jarak. Mereka pun saling mengirimkan surat.

Berdua. Akankah selamanya?

Berdua. Akankah selamanya?

Pak Wi sempat tertahan dan diasingkan di negeri yang kini bernama Rusia tersebut. Sang perempuan merasa bahwa kekasihnya tak akan kembali. Jarak kian merenggang, pengisi jeda tak berkabar dan menghilang. Alhasil, perempuan menikah dengan lelaki lain yang melamarnya.

Tiga paragraf di atas adalah informasi yang saya dapat dari serangkaian foto pertunjukan Secangkir Kopi dari Playa di Yogyakarta yang dikirim pada 30 Desember 2011 melalui surel. Ditambah pula dengan catatan yang tertera dalam buklet pemberian. Apa yang saya dapat sebelumnya kini baru sempat dirasakan sekarang. Lebih dari setahun kemudian.

Tak semua hal yang diawali dengan cara yang sama juga akan diakhiri dengan cara yang sama pula.

Ya, Rabu (2/10) malam silam sebuah bus mengantarkan saya menuju #MuseumPahitManis. Namun, setiba di sana, saya diajak berkeliling melihat sejumlah barang yang ingin dilupakan milik para donatur. Barang-barang yang dikumpulkan dikelompokkan dalam beberapa kategori, terkait dengan pergumulan dengan diri sendiri, orangtua, dan kekasih. Saya menduga, 90 persen donatur tak akan melewatkan kesempatan untuk mencari barang miliknya sendiri. Saya? Sudah tentu.

Rasanya, seperti ada tangan yang melambai-lambai. Mengucapkan selamat tinggal dan berpesan agar segalanya berjalan lebih baik untuk masa depan.

Tak sempat membaca satu per satu kisah kenangan yang ditulis ulang oleh pengelola museum, rombongan diarahkan menuju ruang sederhana oleh seorang pemandu. “Saya mau duduk di depan, tapi ndak di depan-depan banget. Takut.” Ini ucapan yang terlontar di dalam hati. Tapi, tiba-tiba saya justru mendorong diri sendiri untuk duduk di baris bagian paling depan. Terlihat jelas tumpukan koper tua, mainan bajaj, dan bingkai foto usang.

Salah satu cara untuk menghilangkan rasa takut adalah menghadapi rasa takut itu sendiri, bukan menghindarinya.

Sang pemandu masih melakoni tugas. Ia menceritakan setiap kenangan yang tersimpan dalam tumpukan antik yang ada di depan rombongan. Tak lama kemudian, lampu ruangan tiba-tiba mati. Saya justru tersenyum. Bagian ini tak sempat diceritakan, tapi saya yakin bahwa ini bagian dari skenario. Bagian yang tak terduga justru datang dari hal-hal yang telah saya ketahui sebelumnya. Hal-hal yang sebenarnya “menakutkan” bagi saya pribadi.

Menyaksikan Pak Wi dan sang perempuan membuat saya merinding nyaris sepanjang pertunjukan. Mereka bercerita di hadapan saya begitu dekat. Kami seolah-olah sedang bertatap. Rasanya, seperti sedang ditampar dengan ucapan sinis, “All of these were like your dreams in a past life. Well, are you still dreaming right now?”

Waktu, teman saat menunggu. Lalu, menyambut temu.

PAK WI. Waktu, teman saat menunggu. Berharap ada temu di pengujung rindu.

Pak Wi dan sang perempuan mengajarkan banyak hal.

Barangkali, ada mimpi yang dulu kita bangun bersama orang tersayang. Mimpi-mimpi indah yang dirangkai dan menjadi alasan mengapa kita harus bertahan. Rangkaian tersebut mengantre untuk diwujudkan perlahan-lahan.

Namun, kita tak boleh lupa bahwa semesta juga turut andil di dalam kehidupan. Semesta adalah jembatan yang mampu mengingatkan agar kita tetap disadarkan atas hadirnya kenyataan dalam bentuk apapun, termasuk perpisahan. Ketika ada mimpi yang tak lagi bisa dirangkai bersama, ajarkan hati untuk mengikhlaskan.

Ada yang gemar menulis bersama. Namun, kini mereka harus mengikuti kehendak semesta: tak dapat bersama.

Ada yang gemar menulis bersama. Namun, kini mereka harus mengikuti kehendak semesta: tak dapat bersama.

Menyesap tuntas

Saya tak suka kopi. Tapi, suguhan cangkir mungil pada malam ini tak ubahnya sebesar gelas bir besar. Butuh waktu lama untuk mereguknya. Anehnya, saya tak menghindar dan menolak. Saya justru menikmati dan tak ingin tergesa-gesa menghabiskannya.

Pak Wi ajarkan komitmen dan kesetiaan. Ia tetap menyambangi sang perempuan meski sudah 40 tahun tak bertemu. Ia menunjukkan keteguhan hatinya untuk tetap memilih sang perempuan. Sementara sang perempuan, semakin mengingatkan bahwa hidup adalah pilihan. Ada banyak ketidakpastian dalam hidup, tetapi manusia bisa mendapatkan kepastian jika ia berani memilih, lengkap dengan konsekuensi yang harus ditanggung. Perempuan justru tampil berani, menghadapi kehilangan.

PEREMPUAN. Berani memilih, berani hadapi kehilangan.

PEREMPUAN. Berani memilih, berani hadapi kehilangan.

Jika mimpi yang dirangkai bersama orang yang ada di masa lalu belum sempat diwujudkan, bukan berarti kita bisa melibatkan orang yang ada di masa depan untuk turut merealisasikan. Jangan pernah memaksakan. Ciptakan dan biarkanlah mimpi baru lahir agar kisah yang baru dapat terus bertahan.

Saya penasaran. Kini ada pria lain di kehidupannya. Lalu, apakah sang perempuan – yang diketahui bernama Widari – masih melakukan hal-hal yang sama seperti ketika ia bersama dengan Pak Wi? Setidaknya, tidak ada lagi cangkir mungil berwarna putih dengan lukisan merak dan bunga yang menjadi wadah kopi.

Tak ada cangkir kopi yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tak ada cangkir kopi yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, akankah ada nikmat yang sama dalam setiap sesapan?

***

Secangkir Kopi dari Playa hasil karya peracik ulung asal Yogyakarta berhasil saya tuntaskan dalam malam temaram milik Jakarta. Dari Playa, Yogyakarta, hingga menuju Jakarta. Semoga ini telah menjadi kehendak semesta.

Saya titip kepada Gina agar membelikan boks Secangkir Kopi dari Playa karena ia menonton lebih dulu. Takut kehabisan. Alhasil, saya mendapatkan. Terima kasih, Gina :)

Saya titip kepada Gina agar membelikan boks ini karena ia menonton lebih dulu. Saya takut kehabisan. Terima kasih, Gina🙂

“Anda semua akan dikenyangkan dengan kudapan-kudapan batiniah dari kami. Jadi, tak perlu khawatir.” Ucapan sang pemandu saat di dalam bus selama perjalanan kembali terngiang. Ya, saya tak lagi lapar ataupun haus. Secangkir kopi dari Playa dan tetesan air mata di akhir cerita membuat saya lebih lega.

Sampul DVD yang juga hasil karya dari keluarga #Kotasis milik Bung Gama dan Mba Senja. Sitimewa!

Sampul DVD yang juga hasil karya dari keluarga #Kotasis, Bung Gama dan Mba Senja. Sitimewa!

Terima kasih untuk Mba Ria dan Papermoon Puppet yang telah men-Jogjakarta-kan Jakarta. Seperti yang pernah saya ucapkan, “Ketimbang mobil murah, Jakarta lebih membutuhkan tempat piknik murah dan berhati nyaman.” #MuseumPahitManis adalah satu di antaranya.

Dulu, saya hanya mendapat cerita. Kini, saya bisa berjumpa dengan mereka. Berkat semesta.

Dulu, saya hanya mendapat oleh-oleh cerita. Kini, saya bisa berjumpa dengan mereka. Berkat semesta. (foto: Bung Yurivito)

“Menginspirasi seseorang itu seperti memindahkan energi kita kepada orang lain.” – Singgih S Kartono, kreator radio Magno asal Temanggung.

Kalian sangat inspiratif, pemberi nyawa dan energi yang menghangatkan. Terima kasih, telah menggenapkan semesta. Semoga kenangan tak sekadar dilupakan, tetapi juga diikhlaskan.

Bertemu dengan orang-orang yang masih berada dalam satu lingkaran. Semesta mahakejutan.

Bertemu dengan orang-orang yang ternyata masih berada dalam satu lingkaran. Semesta mahakejutan.

Di jalan tertulis jejak luka. Pemerintah tak bisa membacanya.

Susi ajarkanlah pada mereka, bagaimana caranya mengeja.”- Melancholic Bitch

Jakarta, 7 Oktober 2013

4 thoughts on “#MuseumPahitManis, Jogjakarta-kan Jakarta

    • Makasih, Mba Sumi… Maaf, ya ndak bisa bawain tiket. Padahal, pengen booking tiket lagi untuk Mba Sumi dan Mba Oka tapi ndak dibolehin…😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s