Siapa yang Mengetuk?

Mba Siti terbiasa sendiri. Terlalu terbiasa kesepian hingga tak kenal lagi keramaian. Terlalu terbiasa sepi sejak ia gagal meramaikan hidupnya bersama mimpi-mimpi bersama orang terkasih. Dulu, ada angan tentang cincin perak yang mengikat jari manis. Kini, hanya ada kenangan yang terus mengikatnya dengan miris. Mba Siti terbiasa sendiri hingga terlalu akrab dengan sepi.

Tak terbiasa dengan keramaian, beberapa minggu terakhir, Mba Siti kerap mendengar tawa di sekitar rumah. Ia pikir, suara yang didengarnya tiap malam itu bagian dari acara lawak televisi – tabung penyedia hiburan hambar dan perusak imajinasi. Ia pikir, suara yang didengarnya tiap malam itu bagian dari delusi yang tanpa sadar terus dirawat agar sepi tak kian menguat.

“Ha-ha-ha…”

Ini malam ke-25 dan tawa kali ini terdengar lebih keras dibandingkan malam sebelumnya.

Rasa penasaran semakin menggoda Mba Siti untuk beranjak dari sofa ruang tamu. Lelah usai bekerja pun terkalahkan.

Ia berjalan menuju tempat tawa bermuara. Ternyata, Mba Siti kedatangan tetangga baru di belakang rumah. Suara semakin jelas ketika ia membuka pintu dapur yang menembus teras belakang. Rasa penasaran terus mendorong langkah kaki, memotivasi telinga untuk melekat pada tembok belakang rumah.

“Ha-ha-ha…”

Senyum Mba Siti ikut merekah. Suara tawa milik pria dewasa itu dirasa renyah, tak jauh beda dengan suara milik penghuni masa lalu. Tawa menjadikan malam ini terasa lebih hangat dibandingkan malam ke-24 sebelumnya. Siapakah tetangga baru itu? Tak ada tawa lain yang menyertai, perempuan ataupun televisi. Apakah ia tertawa sendiri? Apakah ia juga ingin melemahkan sepi?

 ***

Ini menuju malam ke-52 dan Mba Siti merencakan hal yang lebih dari sekadar melekatkan telinga di tembok belakang rumah.

“Sekarang ndak pusing lagi soal insomnia. Ndak pusing lagi dengan lemburan tiap malam. Sejak ada tawa itu, bisa tidur lebih cepat. Pagi pun jadi tamu kehormatan yang harus disambut, ndak lagi jadi momok yang mencekam,” ia bercerita dengan sumringah.

Mba Siti tak bekerja hari ini berkat akhir pekan. Ia sengaja tak bepergian seharian untuk kembali mencari tahu sosok tetangga baru. Mulai pukul 06.00 WIB, ia melubangi belakang rumah untuk menghadirkan jendela. Ya, tak cukup menikmati suara, ia juga ingin menatap wajah sang pemilik tawa. Malam ini juga.

“HA-HA-HA…”

Ini malam ke-52. Ternyata, tawa terdengar lebih dan lebih keras dibandingkan malam ke-25 silam. Mba Siti pun terkesiap di depan televisi. Tak seperti biasa, tawa hadir satu jam lebih cepat. Bahkan, acara lawak di televisi yang acap kali ditonton pun belum dimulai.

Dengan sigap, langkah kaki mengarahkan tubuh ke belakang rumah. Lengkungan Mba Siti malam ini mengalahkan lengkung bulan sabit sebab jendela yang telah dibuat pagi tadi sudah jadi. Telinga dilekatkan pada bingkai jendela dan kepala perlahan-lahan mendekati kaca. Kelihatan! Pipi tirus pria itu kelihatan!

“Lalu, bagaimana dengan wajahnya? Mba kenal?” Tanyaku memotong semangatnya.

Ternyata, perlu usaha ekstra lagi untuk melihat paras sang pria. Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Empat puluh menit. Delapan puluh menit, kenyataan menggenapkan jawaban. Napas Mba Siti tiba-tiba terhenti, dadanya sesak. Pemilik tawa renyah yang menjadi tetangga baru adalah pemilik tawa renyah yang menjadi penghuni masa lalu. Tubuhnya melemas seketika pula. Kini, tak hanya telinga yang melekat pada tembok dan kepala yang mendekat pada jendela. Tubuh Mba Siti pun turut bersandar. Ironisnya, dinding tak punya tangan yang mampu memberikan pelukan. Ia melemas.

KITA KERAP LUPA. Terlalu asyik

KITA KERAP LUPA. Terlalu asyik menyimak segala sesuatu yang ada di belakang, kita justru kehilangan kesempatan untuk lebih peka terhadap segala sesuatu yang ada di depan.

“HA-HA-HA… Akhirnya, kamu bisa nyusul juga. Ternyata, hidup tanpa istri dan anak itu bikin sepi ya… Sekarang sayangnya enggak kehalangan sama kabel telepon, deh… HA-HA-HA…”

“Bapaakk… Dinda juga kangen dibacain cerita sama bapak. Untungnya, ibu sekarang bisa ikut pindah ke kantor yang di Jakarta… Dinda senaaaang!”

Tawa terdengar lebih dan lebih keras dibandingkan malam ke-25 silam sebab ada keramaian yang lebih malam ini. Tawa yang tak lagi sendiri meski tetap tanpa televisi. Tawa dan percakapan yang juga nyaris sama seperti mimpi-mimpi yang dirangkai pada masa lalu, dalam angan tentang cincin perak yang mengikat jari manis.

  ***

Jendela yang awalnya diharapkan sebagai pembawa kesenangan kini beralih fungsi menjadi pembawa kenyataan. Ada yang merangkai mimpi bersama, tetapi belum tentu mimpi-mimpi tersebut dapat diwujudkan secara bersama-sama pula. Mba Siti seharusnya bahagia karena mimpi yang sempat dirangkai bersama justru bisa diwujudkan lebih dulu oleh penghuni masa lalu dan masa depannya. Mba Siti seharusnya bahagia karena melihat orang terkasihnya tertawa bahagia, bahkan jauh lebih bahagia dibandingkan saat bersama dengannya. Jika memang bahagia itu sederhana, Mba Siti seharusnya ikut bahagia.

“…”

“Mba… Semalam aku mampir ke rumah, tapi kayaknya Mba Siti belum sampai rumah,” mencoba mengisi jeda dari keheningan tiba-tiba.

“Iya, aku sengaja pulang larut, menghindari tawa. Kamu, kan biasanya telepon dulu. Ada apa?”

“Mau balikin long-dress yang sempat aku pinjam seminggu yang lalu. Oh, ya! Aku nemu ini di depan pintu rumah Mba Siti,” kantong plastik berwarna putih kuberikan kepadanya.

“Apa ini? Kok, rasanya hangat? Bakso?” Mba Siti penasaran, tapi aku sendiri tak mengetahui isi kantong plastik itu. Yang jelas, itu bukan kuah bakso. Aku pun mengangkat bahu.

INI BUKAN KUAH BAKSO. Hanya sekumpulan tawa yang belum sempat kubagikan kepadamu. Semoga masih terasa hangat saat kau menerimanya.

INI BUKAN KUAH BAKSO. Hanya sekumpulan tawa yang belum sempat kubagikan kepadamu. Semoga masih terasa hangat saat kau menerimanya.

Ini malam ke-52 dan belum ada satu pun tawa yang bisa kubagikan kepadamu. Maaf. Agar kau tak kesepian dan tak lagi menikmati tawa perusak imajinasi, kukumpulkan saja tawa-tawa ini. Semoga bingkisan ini masih terasa hangat saat kau menerimanya. Tertanda, aku yang mengetuk pintu setiap malam.

“Setiap malam? Aku tak pernah mendengarnya…”

“Mungkin, karena Mba Siti terlalu fokus mendengarkan suara tawa hingga tak mendengar suara ketukannya.”

“Apakah dia akan datang kembali malam nanti?”

Aku mengangkat bahu.

“Siapa lelaki itu?”

Aku mengangkat bahu lagi.

Ada yang terus mengetuk pintu. Ada pula yang terus mengutuk diri untuk menutup pintu.

Tangerang, 14 Oktober 2013

 

nanti malam kan ia jerat rembulan, disimpan dalam sunyi hingga esok hari

Laki-laki PemaluEfek Rumah Kaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s