Untuk Bapak

Kita tak pernah bisa memilih menjadi anak dari siapa atau memiliki orangtua seperti apa. Ketika ada hal yang tak bisa dipilih, satu-satunya sikap yang dibutuhkan adalah menerimanya. Barangkali, itulah mengapa dinamakan keluarga.

Saya percaya bahwa tidak ada anak yang sempurna, begitu juga dengan orangtua. Konsep sempurna justru ketika seseorang berlaku apa adanya dan segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak semesta. Apa adanya dan penuh penerimaan.

12 November 2013

Pagi tadi, saya menatap wajah Bapak di usia 63 tahun. Rambutnya belum putih merata. Kumis pun tak lagi rapi. Tak ada posisi tubuh yang sigap, kecuali kedua matanya yang sudah tertuju pada program berita televisi pagi. Sama seperti ribuan pagi sebelumnya.

Ini tahun ketiga ia berjuang kembali seperti di titik awal pada 2002 silam. Saya tidak pernah memilih, begitu pun bapak. Tetapi, semesta dan sang Pencipta telah memilihkan segalanya kepada kami. Apa adanya. Lalu, giliran kami untuk menggenapkannya dengan sebuah penerimaan.

Selamat melanjutkan perjuangan, Bapak. Kau tak akan pernah sendirian. Di saat kau mengumpulkan kekuatan untuk bertahan, saat itu pula kami mempertahankan kekuatan untuk terus mengumpulkan kesabaran. Selamat ulang tahun, Bapak.

Maybe the wheel has stopped. But, our prayers never stop. May God bless and keep you always.

dari anak perempuanmu yang kerap membuatmu bertanya “Sabtu ini kamu mau ke mana?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s