Uji Arah di Negeri Singa (1)

Singapura, 10 Januari 2013

Where do you come from?”

I come from Indonesia.”

Are you Indonesian? I think, you come from Myanmar, Laos, or Vietnam. Yeah, you know. We have the same face, right?”

“He-he-he… I’m truly Indonesian…”

Obrolan dengan sang sopir taksi sedikit mengurangi rasa deg-degan sesaat. Sempat senyum-senyum juga ketika saya diduga orang Vietnam. Maklum, foto diri yang terpampang di rapor TK mirip anak keturunan Vietnam yang menjadi pengungsi perang. Kata kakak saya, sih begitu. Pun mama.

Foto diri sewaktu duduk di bangku TK A (sebelah kiri) dan TK B (sebelah kanan).

Foto diri sewaktu duduk di bangku TK A (sebelah kiri) dan TK B (sebelah kanan).

Tak pernah menyangka bisa pergi ke negeri orang, sendirian pula. Ya, ini adalah pertama kalinya saya ke luar negeri. Sendirian. Norak, memang.

“Kalau ke Singapura mah gampang. Kalau nyasar, masih bisa ketemu orang Indonesia. Udah, ndak perlu takut…” Begitulah pesan tante yang sempat mampir silaturahim ke rumah sebelum saya berangkat. Perasaan antusias dan ketakutan pun jadi satu. Duh, saya ini memang ndeso sekali. Hehehe…

***

Keberangkatan saya disponsori oleh klien. Ya, semacam business trip. Saya mendapat undangan untuk menghadiri open house salah satu universitas di Singapura. Karena sudah diangkat menjadi karyawan tetap, kini giliran saya untuk merasakan DLN alias Dinas Luar Negeri. Selain mengurus administrasi bersama klien, tak lupa bertanya kepada rekan yang pernah jalan-jalan ke sana, terlebih lagi soal penggunaan moda transportasi MRT. Mas Tyas meminjamkan kartu MRT untuk diisi ulang sehingga tak perlu membuat kartu baru.

Itinerary pun jangan sampai ketinggalan. Pilih-pilih obyek wisata yang memungkinkan untuk disambangi selama waktu dua malam, tiga hari. Sempatkanlah menuju tempat belanja. Bagi saya, ini adalah hal wajib karena perlu membawa oleh-oleh untuk keluarga dan pastinya teman kantor.

Sayangnya, kertas yang berisikan itinerary versi idealis saya telah hilang dan lupa difoto, padahal sudah saya simpan baik-baik selama lebih dari tujuh bulan. Barangkali, ini akibat terlalu lama tidak membuat tulisan. Di dalam rencana perjalanan, saya memasukkan rute menuju Little India, China Town, Orchad Street,Gardens by the Bay, Mint Museum of Toys, dan Merlion Park. Ada obyek wisata yang gagal saya kunjungi. Tetapi, saya selalu berpegang teguh pada Lao Tzu. Iya, ini pembelaan sama seperti #solotrip sebelumnya.

A good traveler has no fixed plans and is not intent on arriving.” -Lao Tzu

***

I’m Javanese tooMy father is Singaporean, my mom’s Javanese…” kata sopir taksi itu setelah saya mengaku sebagai orang Jawa (Tengah).

Sopir taksi yang saya lupa namanya itu – akibat terlalu lama tidak di-blog-kan – ternyata punya keturunan darah Jawa. Padahal, saya sempat menduga bahwa ia orang keturunan Singapura murni atau India.

Selama perjalanan, sang sopir bercerita tentang negerinya dan Jakarta. Ya, ia tahu betapa macetnya Ibu Kota. Dengan bangga, ia mengunggulkan Singapura yang tak pernah macet.

Miris. Berita kemacetan Jakarta sampai ke negeri seberang. Saya pernah kesal dengan Jakarta, tetapi kini saya belajar. Saat hal negatif tentang negeri sendiri dilontarkan oleh orang lain yang berasal dari negara yang berbeda ternyata lebih menyakitkan. Saya pun tidak akan menambah hal negatif tersebut dan seolah-olah mengamininya. Tersenyum adalah respons yang bisa dilakukan. Mungkin.

If you feel confuse with the routes, don’t worry. Just call a taxi. All taxi drivers in here will accompany you anywhere. We have a hard selection to be taxi driver before, so we’re trusted for our passengers, even tourists. Don’t worry.” Itulah pesan terakhirnya sebelum saya keluar dari taksi. Have a nice chitchat, Sir.

Baca rute lagi

Sesampai di penginapan, saatnya melihat kembali itinerary yang telah disusun. Mumpung masih pagi, mari kita eksplorasi. Jangan lupa, setting ulang waktu di jam tangan. Jam tangan saya memperlihatkan waktu analog dan digital. Hanya jam analog yang mengikuti waktu setempat Singapura, lebih cepat 1 jam dari Jakarta (WIB+1). Penunjuk waktu di ponsel sama sekali tidak diubah supaya saya tetap dapat mengetahui waktu Indonesia.

Parc Sovereign Hotel. Penginapan saya yang berada di Albert Street, tak jauh dari kawasan Little India.

Parc Sovereign Hotel. Penginapan saya yang berada di Albert Street, tak jauh dari kawasan Little India.

Persis di samping penginapan, terdapat Sevel alias 7 Eleven. Di Singapura, Sevel tak jauh beda dengan warung kecil (versi ber-AC).

Persis di samping penginapan, terdapat Sevel alias 7 Eleven. Di Singapura, Sevel tak jauh beda dengan warung kecil (versi ber-AC).

7 ELEVEN. Jangan harap bisa menemukan sejumlah kursi, meja di sekitar Sevel. Termasuk, kawanan anak muda yang sedang nongkrong dengan haha-hihi.

7 ELEVEN. Jangan harap bisa menemukan sejumlah kursi, meja di sekitar Sevel. Termasuk, kawanan anak muda yang sedang asyik nongkrong haha-hihi.

Barangkali, saya menjadi traveler yang konsumtif. Sasaran pertama justru tempat belanja. Hahaha. Ini dilakukan supaya tidak membawa barang belanjaan di akhir penjelahan. Malam-malam, membawa kantong belanjaan hanya akan membuat tubuh terasa lelah berkali-kali lipat.

Disorientasi arah

Sasaran pertama adalah Mustafa Center, lalu berjalan-jalan ke Little India. Destinasi pertama sukses membuat saya tersesat. Little India yang seharusnya bisa diakses dengan jalan kaki, justru saya tempuh dengan taksi, padahal sopir taksi tadi sempat memberi arahan jika saya ingin ke Little India sebagai tujuan pertama. Ini akibat lagu lama: disorientasi arah dan kebablasan.

Akibat kebablasan, saya justru menemukan bioskop yang memutar film-film Bollywood.

Akibat salah berbelok, saya justru menemukan bioskop yang memutar film-film Bollywood.

Saya berjalan terlalu jauh. Dari Albert Street, saya seharusnya belok kanan. Tetapi, kaki mengajak saya berbelok kiri-tersesat-kembali ke titik awal-lalu berjalan lurus. Untuk putar balik, tidak ada energi lagi untuk berjalan. Akhirnya, saya menyeberang dan memanggil taksi. Ini tersesat bagian pertama.

You should cross the street. Just wait the bus or you can stop a taxi. Don’t worry, Singapore is safe. We never cheat the tourist. Don’t worry.” Ujaran ini saya dapat dari seorang  warga yang sedang melintas. Ya ya… Singapore is fine city lah… Saya pun seperti tersentil, “Memangnya di Jakarta, orang yang nanya jalan aja diarahkan ke tempat yang salah?” Ah, masih ada orang baik, kok di Jakarta.

***

Akhirnya, sampai juga di Little India dan singgah di Mustafa Centre. Mal ini menjual barang secara eceran maupun grosir. Iya, di Indonesia banyak mal serupa ini.

Di Little India, kita dapat melihat Kuil Sri Veeramakaliamman yang dibangun pada awal 1885. Ini adalah kuil tertua di Singapura.

Berjalan-jalan ke Little India, kita dapat melihat Kuil Sri Veeramakaliamman yang dibangun pada awal 1885. Ini adalah kuil tertua di Singapura.

Sewaktu ke sana, di depan Mustafa Centre terjadi kemacetan panjang. Entah karena banyak mobil yang parkir di pinggir jalan atau akibat adanya perbaikan jalan di sekitarnya.

Sewaktu ke sana, di depan Mustafa Centre terjadi kemacetan panjang. Entah karena banyak mobil yang parkir di pinggir jalan atau akibat adanya perbaikan jalan di sekitarnya.

Selesai pilih-pilih suvenir, saya kembali ke hotel. Kali ini, saya sukses berjalan kaki. Menaruh barang belanjaan dan mandi karena sore hari saatnya eksplorasi. Niatnya adalah mengejar Merlion. Iya, ikon Singapura yang selalu jadi latar belakang foto.

“Dhik, berarti kamu harus foto yang di belakangnya ada patung singo. Jenenge wae, pergi ke Singapura. Masa’ ora foto karo singo’ne?” Begitulah pesan mama sebelum saya berangkat.

Mengejar Merlion menjadi tekad bulat. Pukul 20.30 waktu setempat, saya baru keluar dari Garden by The Bay karena terlalu takjub menyaksikan simfoni warna-warni si pohon raksasa.

Sepulang dari Gardens by the Bay, bersiap-siap menikmati ketersesatan.

Sepulang dari Gardens by the Bay, bersiap-siap menikmati ketersesatan.

Berjalan-jalan (baca: mengikuti turis lain yang ada di depan), masuk ke dalam The Shoppes at Marina Bay Sands, tiba di depan salah satu pemberhentian Singapore River Cruise pukul 21.30 waktu setempat.

Mal yang memiliki Mini Venice. Iya, di dalamnya terdapat sungai dan para pengunjung bisa menyusurinya dengan perahu.

Mal yang memiliki Mini Venice. Iya, di dalamnya terdapat sungai dan para pengunjung bisa menyusurinya dengan perahu.

Di antara gelapnya malam, saya melihat Merlion! Ada! Tapi, melihat dari jauh.

Merlion di ujung itulah yang jadi penghiburan di antara kelelahan.

Merlion di ujung itulah yang jadi penghiburan di antara kelelahan.

Merekam hal-hal lainnya sembari mencari cara agar dapat menyapa Merlion.

Merekam hal-hal lainnya sembari mencari cara agar dapat menyapa Merlion.

Secara logika cepat, saya harus mengikuti trip Singapore River Cruise untuk tiba di sana. Tapi, kocek menjadi pertimbangan. 20 dollar Singapura. Uang jajan saya bisa pas-pasan sekali karena masih ada agenda lain untuk besok malam. Setelah (membuang waktu) berpikir selama 20 menit dan memandangi peta jalur MRT di tangan, akhirnya saya memutuskan untuk tetap menuju Merlion. Dengan MRT. Rencananya, sih begitu.

Malam makin larut. Untungnya, hotel tak punya jam malam. Namun, bagian dilematis adalah “Jika saya dolan terlalu malam, apakah besok bisa bangun pagi untuk liputan?” Saya pun memasang target tidak akan berada di luar lebih dari pukul 12 malam.

Saya kembali masuk ke dalam mal, menuju lorong stasiun MRT. Sebelum dibuat bingung dengan rute berikutnya, saatnya membeli air mineral agar tidak dehidrasi dan kehilangan konsentrasi. Warga Singapura gemar sekali berjalan kaki. Trotoar dibuat lebar. Pergi dari stasiun yang satu ke stasiun yang lain, ya jalan kaki. Life is about art of walking. Oleh karena itu, jangan lupa bekal air mineral yang cukup.

Mereka juga suka berjalan cepat. Bayangkan, MRT sudah bisa dipastikan datang setiap dua-tiga menit sekali. Tetapi, mereka tetap saja berjalan ekstra cepat, seolah-olah “Minggir! Saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menaiki kereta ini. Menunggu dua menit lagi sama saja membuang waktumu dua hari.”

Di satu sisi, saya masih bergerak lambat pada hari pertama ber-MRT. Pertama, saya harus melihat rute-rute yang ada, mencocokkan dengan peta, menghapalnya, lalu mengulanginya berkali-kali agar merasa aman. Kedua, saya terbiasa menunggu bus kota hingga berjam-jam. Jadi, menunggu MRT selama 5 menit pun masih bisa saya lakoni dengan senang hati. Hahaha.

Keluar dari 7 Eleven, saya langsung meneguk air mineral. Berharap bisa lebih berkonsentrasi, tapi apalah daya. Bingung tetap saja datang. Secara acak, saya bertanya kepada dua orang yang melintas. Bagaimana saya bisa bertemu Merlion?

Orang yang saya temui kali ini berasal dari Indonesia. Mereka memberi arahan. Mau tak mau, untuk jalur singkatnya, memang saya harus mengikuti tur cruise tadi. Dua puluh langkah menuju pintu keluar lorong MRT, saya putar arah. Jam menunjukkan waktu 11 malam. Kaki sudah gontai dan napas tersengal-sengal. Sudah lebih dari 12 jam saya berada di luar, lengkap “dipermainkan” diri sendiri (akibat disorientasi arah). Pulang ke hotel adalah pilihan terbaik. Pengejaran Merlion dilanjutkan besok saja jika semesta menghendaki.

Pria tuna netra ini bermain musik di dalam lorong stasiun MRT.

Pria tuna netra ini bermain musik di dalam lorong stasiun MRT.

Sayangnya, perkara disorientasi arah masih berlanjut. Keluar dari stasiun Little India, saya bingung harus ke mana karena jalan tak tampak familier. Belok kiri atau belok kanan. Padahal, saya sudah membayangkan ada perempatan besar, menyeberang, lalu bertemu Albert Street. Celingak-celinguk.

Do you get lost?” Akhirnya, ada perempuan yang mau menanggapi sapaan saya. Ternyata, saya tidak salah jalan, hanya saja trotoar yang saya lintasi sedang dipagari dengan papan besar karena ada proyek perbaikan jalan. Jadi, cukup berjalan lurus lebih dulu hingga papan tersebut tidak menghalangi. Syukurlah…

Segala ketersesatan pada hari pertama membawa banyak hikmah. Merasakan bagaimana rasanya pergi sendiri di tempat asing. Terkadang ke-sok-tahu-an membawa keberuntungan, terkadang membawa petaka juga. Semakin membuktikan pepatah klise “malu bertanya, capek di jalan”. Ya, tersesat akan membuat energi kita terbuang berkali-kali lipat.

Sebelum kembali ke hotel, energi harus diisi. Singgah sejenak di warung dekat hotel, memesan nasi goreng – menu standar jika kita mampir di rumah makan yang belum pernah disambangi sebelumnya. Saya pesan ukuran medium karena (bayangan saya) ukuran small akan menyuguhkan porsi nasi ala junk food. Nasi segepok. Sayangnya, saya salah besar! Porsi nasi untuk ukuran medium bisa dinikmati oleh 2-3 orang. Glek!

10-12 Januari 2013, #solotrip

to be continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s