Uji Arah di Negeri Singa (2)

Singapura, 11 Januari 2013

Sugeng makaryo (selamat bekerja)…

Mari menghadiri open house LASALLE College of the Arts. Gedungnya apik. Selain karena institusi pendidikan tersebut fokus pada jurusan desain, sepertinya penduduk Singapura memang gemar mengemas kota kesayangan dengan bangunan-bangunan artistik dan fungsional.

Infrastruktur kota dan model bangunan terlihat tak sekadar keren. Arsitek Ren Katili dalam Kompas Klass (8/11) pernah menulis tentang hunian vertikal di Singapura. Hunian sengaja dibangun bergerak ke arah vertikal dengan desain yang mampu merespons iklim tropis lembap yang menaungi negara tersebut.

Teman-teman mahasiwa dan panitia open house sangat ramah. Saya mendapat hospitality yang menyenangkan, termasuk akses penginapan yang bersebelahan persis dengan lokasi kampus.

LASALLE College of the Arts, institusi pendidikan di bidang seni.

LASALLE College of the Arts, institusi pendidikan di bidang seni.

Banyak belajar, belajar banyak

Saya ikut belajar banyak dari LASALLE College of the Arts. Bahkan, sejak menjelajahi situs resmi miliknya sebelum pergi. Di dalam situs tersebut terdapat menu-menu yang barangkali diabaikan sejumlah institusi pendidikan dalam negara. Salah satunya adalah menu “alumni”. LASALLE College of the Arts memperlihatkan beberapa profil alumni yang berprestasi dalam segala bidang. Ada pula dokumentasi atau hasil publikasi dari acara-acara kampus yang sempat diliput media. Menurut saya, inilah portofolio sebuah institusi selain status akreditasi. Kualitas hasil didikan bisa disimak lebih praktis dan cepat.

“Di LASALLE College of the Arts, kami tak semata memikirkan bunga, furnitur, karpet, dan warna, tetapi juga arsitektur. Mahasiswa dituntut untuk memadukan riset dan teori, serta mampu memecahkan masalah (problem solving). Mereka memasukkan unsur art pada karya, tanpa menanggalkan nilai fungsionalnya,” tutur salah satu pengajar desain interior Lasalle College the Arts Nicholas Ooi.

LASALLE  menerapkan kurikulum pendidikan seni berbasis praktik. Kurikulum ini merupakan keseimbangan antara keterampilan disiplin ilmu, profesionalisme, serta Penelitian dan Pengembangan (Research and Development-R&D). Tak sekadar belajar hal teknis, mahasiswa juga diajak untuk mengumpulkan portofolio ketika berkolaborasi dengan industri melalui project dan bentuk partisipasi dalam proses kreatif interdisipliner.

Kampus yang terdiri atas 40 persen mahasiswa asing ini memiliki 300 mahasiswa asal Indonesia. Program Diploma menawarkan Faculty of Design, Faculty of Fine Arts, Faculty of Media Arts, dan Faculty of Performing Arts.

Salah satu karya yang dipamerkan oleh mahasiswa jurusan Fashion Design. Karya ini terbuat dari kertas yang biasanya digunakan sebagai karung semen.

Salah satu karya yang dipamerkan oleh mahasiswa jurusan Fashion. Karya ini terbuat dari kertas yang biasanya digunakan sebagai karung semen.

Sewaktu open house, saya diajarkan cara menyablon oleh salah satu mahasiswa jurusan Fine Arts (Printingmaking).

Sewaktu open house, saya diajarkan cara menyablon oleh salah satu mahasiswa jurusan Fine Arts (Printmaking).

Hasil dari belajar menyablon.

Suguhan terakhir di hari pertama open house. Para siswa di berbagai jurusan berkolaborasi, di antaranya Audio Production, Animation Art, Film,  dan Music.

Suguhan terakhir di hari pertama open house. Para siswa di berbagai jurusan berkolaborasi, di antaranya Audio Production, Animation Art, Film, dan Music.

Visual karya jurusan Animation Art yang didukung oleh para pengisi suara dan lantunan musik dari jurusan lainnya. Kolaborasi antardisiplin ilmu adalah konsep yang juga perlu diusung oleh institusi pendidikan Tanah Air.

Visualisasi karya siswa jurusan Animation Art didukung oleh para pengisi suara dan iringan musik dari siswa jurusan lainnya. Kolaborasi antardisiplin ilmu adalah konsep yang juga perlu diusung oleh institusi pendidikan Tanah Air.

Ada lagi

Seorang mahasiswa jurusan desain interior bercerita. Ia dan kawan-kawan mengerjakan project – semacam tugas akhir semester tetapi bukan TA atau skripsi – untuk “menghias” Garden by The Bay, salah satu potensi wisata di Singapura. Ada kerja sama antara institusi pendidikan dengan pihak swasta. Apakah hal ini sudah sering dijumpai di Indonesia?

Saya membayangkan. Institusi pendidikan di Indonesia (dalam jenjang apa pun) bekerja sama dengan pihak swasta dan/atau pemerintah untuk melakukan sesuatu yang baru atau mengembangkan hal yang sudah ada. Misalnya, mahasiswa jurusan desain interior bekerja sama dengan pemerintah daerah. Tugas yang diberikan adalah membuat kursi, tempat sampah, atau fasilitas publik lainnya untuk kebutuhan taman kota. Mahasiswa dapat dibagi beberapa kelompok, diadakan pitching, lalu pihak yang terlibat memilih karya terbaik dan benar-benar merealisasikannya. Bukan sekadar jadi tumpukan ide.

Sewaktu kuliah, saya pernah mendapat tugas akhir semester pada mata kuliah produksi iklan. Bersama kawan-kawan Sandaljepit Advertising, saya membuat materi kampanye sesuai dengan kebutuhan sang klien, yaitu LSM. Brief yang diajukan memang berdasarkan isu nyata di lapangan, tetapi “kekuatannya” hanya sebatas studi kasus.

Selama mengikuti open house, saya ditemani oleh dua mahasiswa asal Indonesia, Regina dan Carolina. Faktanya, mereka cukup netral memberikan informasi dan penjelasan mengenai kampusnya. Tak melulu bicara kelebihan. Ada pula kekurangan yang tak enggan untuk diceritakan.

Dari mereka, saya ingat betul ada hal yang menjadi catatan bersama. Kebanyakan mahasiswa asal Indonesia terlalu asyik bergaul dengan mahasiswa lain yang berasal dari satu negara. Bahkan, saat makan siang bersama dan berbaur dengan mahasiswa yang lain, mahasiswa Indonesia masih saja senang menggunakan bahasa Indonesia. Bukan perkara menjunjung tinggi bahasa sendiri dan jiwa nasionalis, tetapi bagaimana kita menjaga etika di negeri orang. Mahasiswa yang bukan berasal dari Indonesia akan penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh mahasiswa Indonesia. Tidak menutup kemungkinan timbul prasangka dan salah paham.

“Kita kan jadi tamu di negeri orang. Ya, enggak ada salahnya menghargai mereka, terutama para Singaporean. Kalau sedang berbaur dengan mereka ya sebaiknya pakai bahasa Inggris meskipun ada beberapa teman Indonesia lainnya,” begitulah kira-kira pesan mereka.

Pengejaran lagi

Jelang acara open house usai, langit mendung pekat dan akhirnya menumpahkan hujan sederas-derasnya. Sendu sejadi-jadinya. Di kamar, sendirian, di negeri orang. Sore. Hujan pula.

Ya sudah. Mau tak mau, saya harus menunda pengejaran Merlion, padahal waktu setempat telah menunjukkan lebih dari pukul 17.00 waktu setempat. Semoga pukul 18.00 sudah reda. Semoga.

“Hujan. Katanya, sih… ini akan berulang. Eh, masa’ iya?” Inilah penghiburan di sela-sela kekecewaan. Saya adalah orang yang percaya bahwa hujan membawa pertanda. Jika kita berada di tempat asing, lalu tiba-tiba hujan, maka akan ada kejadian yang berulang, termasuk saat saya sedang bersama orang lain.

Pukul 18.30 waktu setempat. Hujan belum benar-benar berhenti, tetapi setidaknya mulai ramah. Ah, rasanya mustahil jika agenda mencari Merlion diteruskan. Masih ada agenda untuk mencari oleh-oleh pesanan dan bahan tulisan. Kali ini, sasaran saya adalah kawasan Orchad Street dan sekitarnya.

Lucky Plaza, salah satu mal yang juga jadi destinasi "klise". Cukup banyak turis Indonesia yang wira-wiri di sini.

Lucky Plaza, salah satu mal yang juga jadi destinasi “klise”. Cukup banyak turis Indonesia yang wira-wiri di sini.

***

Selesai berjalan-jalan dan menyimak tingkah laku orang-orang, saya kembali ke hotel sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Lagi-lagi. Tidak berani keluar hingga larut karena takut besok pagi susah bangun. Ini adalah malam terakhir, besok siang saya harus kembali ke rumah orangtua. Terima kasih, negara tetangga.

Terima kasih, perjalanan.

Terima kasih, semesta.

10-11 Januari 2013, #solotrip

ps: Jangan terlalu asyik menikmati #solotrip, nanti enggak tahu asyiknya nge-trip berdua :p 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s