Lima Akun Twitter yang Menjadi Sasaran “Stalking” Sepanjang 2013

Judul yang panjang. Tak apa-apa. Bukankah judul panjang sedang jadi tren di dunia perfilman? Hehehe…

Baru kali ini mencoba untuk membuat tulisan tematik penutup tahun. Awalnya, saya tidak ada niatan untuk menulis tentang ini. Tetapi, tiga minggu yang lalu, saya menemukan pandangan lain. Tulisan ini barangkali bisa menjadi wujud apresiasi untuk sejumlah orang karena telah memberikan pembelajaran melalui cara yang unik.

***

Menggunakan Twitter sudah pasti tak lepas dengan kebiasaan memantau alias stalking. Lepas dari definisi yang serius (karena bisa termasuk aksi kriminal), tindakan stalking dalam konteks ini lebih merujuk pada aksi “berjalan-jalan” menuju akun lain dengan motif tertentu.

Saya sendiri sering memantau lini masa akun personal milik orang lain. Ingin tahu kabar terakhir dari akun tersebut. Kepo, istilah populer yang sedang digandrungi saat ini. Tetapi, tindakan ini dilakukan bukan untuk mencari bahan sindiran, melainkan ada motif lain. Ya, tergantung akun siapa yang dituju.

Selama setahun, inilah lima akun yang sering kali jadi sasaran stalking. Benar-benar terpilih lima akun.

Akun Kelima

Akun yang satu ini cukup intens berkicau dalam satu hari. Di dunia maya maupun dunia nyata, sang pemilik akun juga memiliki relasi yang banyak. Pada tahun-tahun awal, saya selalu singgah di lini masanya. Selalu dalam setiap jeda waktu bermain di dunia maya.

Aksi pengintaian dilakukan karena saya membutuhkan informasi terbaru mengenai keadaan pemilik akun tersebut. Lama tak saling bertukar kabar, saya justru lebih memilih untuk mencari kabar tentangnya melalui lini masa, bukan langsung mengirim SMS. Fitur “search mentions” pun sempat menjadi senjata andalan selama beberapa bulan. Ini jangan ditiru.

Untungnya, khilaf dan ikhlas tak lama-lama meninggalkan saya. Perlahan-lahan, saya mulai mengurangi kebiasaan stalking. Yang tadinya setiap hari, perlahan-lahan mulai berkurang menjadi seminggu dua kali, dua minggu sekali, sebulan sekali, hingga muncul penyadaran “ah, sudahlah… ndak sehat jika diteruskan”. Kalimat terakhir itu muncul saat kekepoan berujung pada sakit hati .

Kini, akun yang mampu menghabiskan waktu pada semester pertama 2013 ini justru menjadi akun yang tak lagi menjadi sasaran stalking pada semester selanjutnya. Terima kasih telah mengingatkan kembali bahwa menyakiti diri sendiri itu tidaklah baik dan tetap saja menyakitkan.

Akun Keempat

Karakteristik akun ini berbeda dengan akun sebelumnya. Sang pemilik Akun Keempat tak begitu gemar berkicau. Jadwal kicauan yang dibagikan pun tak tentu, manasuka. Tidak berkicau selama satu hingga dua bulan pun pernah. Jadi ya terserah sang pemilik saja.

Sejak beberapa bulan yang lalu, nyaris setiap hari saya memantau lini masa Akun Keempat. Alasannya, saya membutuhkan informasi mengenai keadaan pemilik akun tersebut. Meskipun masih sering saling bertukar kabar dengannya, saya malah lebih memilih untuk mencari tahu melalui lini masa.

Menurut saya, mengirimkan SMS justru akan mengganggu sang pemilik akun. Celakanya, pertanyaan mengenai kabar tak terjawab dengan mudah karena ia sendiri jarang berkicau. Kalau sudah begini, saatnya menertawakan diri sendiri.

Kala itu, saya berpikir bahwa perasaan hati seseorang dapat diprediksi dari isi kicauan. Twitter, full of unedited and uncensored words.

Akan tetapi, hal tersebut bisa saja berlaku jika memang sang pemilik punya hobi curhat di Twitter. Bagaimana dengan orang yang introvert? Apakah bisa diprediksi dari bunyi tweet? Belum lagi, banyak orang yang pandai menutupi perasaan. Pada saat sedih pun seseorang bisa menulis “hahaha” di Twitter. Jika lini masa adalah panggung, maka wajar saja jika banyak pengguna yang bersandiwara. Baiklah, pola pikir saya berubah.

Kini, Akun Keempat perlahan-lahan tak lagi menjadi ruang bermain bagi jemari saya. Sang pemilik akun seolah-olah berkata, “If you need the answer, just ask, not stalk. If you need a conversation, let’s talk, not stalk.”

Ia seolah-olah berkata demikian karena memang seolah-olah. “Tamparan” itulah yang menyadarkan saya untuk berada pada titik “Ah, sudahlah… ndak sehat jika diteruskan”. Terima kasih telah mengingatkan.

Akun Ketiga

Akun yang satu ini lebih bersifat tentatif. Terkadang begitu ceriwis dalam sehari, terkadang diam seribu bahasa. Tapi, jangan salah mengartikan aksi diamnya. Bisa saja ia tetap memantau akun lain secara diam-diam. Luar biasa, bukan?

Saya mengenal sang pemilik akun sejak empat tahun silam. Meski umurnya sedikit lebih mudah dibandingkan saya, kawan yang satu ini cukup bisa menjadi pendengar yang bijak. Oleh karena itu , saya butuh sekali melihat lini masa miliknya sembari berkata, “Hei, aktif, dong. Bantuin kancamu yang lagi di-bully…”

Akun Ketiga menjadi sasaran stalking ketika saya mau tak mau harus menghadapi “serangan” dari (dua) akun yang lain. Ini dirasakan sejak awal 2013.

Biasanya, saya memeriksa dulu kicauan terakhir miliknya. Jika tweet terakhir kurang dari satu jam yang lalu, masih ada kemungkinan sang pemilik masih berkeliaran di lini masa. Alhasil, ia dapat membantu saya untuk mengalihkan topik. Sayangnya, tak jarang pula akun ini ikut-ikutan untuk menyerang saya. Nasib.

Kebutuhan akan sebuah pembelaan masih berlanjut hingga sekarang karena entahlah, sampai kapan serangan gerilya akan berakhir. Terima kasih, ya nak…

Akun Kedua

Tibalah kita mengenal akun lain yang menjadi sasaran stalking sepanjang 2013, peringkat kedua. Saya mengenal sang pemilik akun sejak 2007. Pada awal tahun, kebiasaan stalking mulai tertanam perlahan-lahan. Maklum, saya benar-benar membutuhkan informasi bahwa dia sedang tidak berkeliaran di dunia maya.

“Lho, kok kamu update banget tentang kegiatan dia? Kamu udah jadi asistennya ya?” Seorang kawan yang lain sempat heran karena saya mengetahui agenda terbaru dari sang pemilik Akun Kedua ini, padahal kami tidak berada dalam satu kota. Ya, bagaimana saya tidak update. Saya merasa (sangat) perlu memantau tweet terakhir dan memeriksa serangan nomention darinya yang sempat terlewat.

Jika menemukan kicauan terakhir kurang dari satu jam yang lalu, biasanya saya menunda untuk melontarkan tweet-tidak-serius. Sayangnya, strategi idealis ini sering kali dilupakan. Saya justru berkicau lebih dulu. Ketika Akun Kedua ini mulai menyambar, barulah saya sadar bahwa ia masih berkeliaran di lini masa. Lebih menyebalkan lagi, saya tidak bisa memprediksi gerakan gerilya dari sang pemilik akun. Meskipun tweet terakhir tertulis enam jam yang lalu, dia bisa saja datang tiba-tiba.

“Kita masih temenan, kan?” Inilah kalimat terakhir yang biasanya saya ucapkan. Tanda setengah menyerah yang sebenarnya menyiratkan kalimat “Nek isih kekancan, mbok’ kancamu ki ditulungi…”

Akun Pertama

Ini dia akun yang paling sering jadi sasaran stalking di 2013. Kawan sendiri.

Sama dengan akun sebelumnya, kebiasaan memantau telah saya lakukan sejak awal tahun (dan kelanjutan dari tahun sebelumnya. Miris). Serangan gerilya pun masih saja dialami pada pertengahan Desember. Waktu itu, memang ada tweet-tidak-serius yang terlontarkan. Kemudian, tiba-tiba saja Akun Pertama mulai menyambar. Saya langsung mengecek lini masa miliknya. Olala! Tweet terakhir miliknya sudah lebih dari tiga jam yang lalu, mengapa masih bisa menyambar?

Tingkahnya membuat saya geleng-geleng. Kawan yang satu ini seperti dibekali radar khusus atau merupakan seorang cenayang sehingga mampu melacak tweet-tidak-serius saya, kapan pun. Entah sore maupun malam. Luar biasa, bukan?

“Enggak ngetweet bukan berarti enggak aktif, Ndes…” Inilah alibi yang acap kali ia gunakan (sambil tertawa di balik layar ponselnya). Saya mengaku kalah.

Lebih konyol lagi, suatu waktu saya sangat waspada. Sebelum ceriwis soal tweet-tidak-serius, saya memastikan dulu bahwa Akun Pertama (sekaligus Akun Kedua) sedang tidak berkeliaran di lini masa. Sayangnya, upaya preventif tersebut tidak berhasil. Ternyata, sang pemilik akun sedang menyimak diam-diam. Alhasil, tetap saja serangan gerilya dilakukan. Nasib.

Dibandingkan dengan Akun Kedua, pemilik Akun Pertama lebih banyak melakukan serangan nomention. Biasanya, saya akan membunyikan peluit dan memperingatkan bahwa itu adalah bagian dari pelanggaran.

“Priiittt… Pelanggaran!” Inilah yang saya lakukan jika Akun Kedua dan Akun Pertama melakukan nomention. Kami bertiga memiliki perjanjian tidak tertulis, “jangan ada nomention di antara kita”.

Saking isengnya akun yang satu ini, ia sengaja mem-peleset-kan nama saya agar tidak kena semprit. Bikin geleng-geleng, bukan?

Akun Pertama dan Akun Kedua memang piawai dalam melakukan serangan gerilya. Sasarannya tak hanya saya, banyak akun-akun teman lain yang kerap disambar. Mereka berdua sepertinya memang punya bakat cenayang.

***

Dari aksi stalking ini saya belajar banyak, banyak belajar.

Ada banyak akun yang saya ikuti, mulai dari akun milik teman, portal berita, hingga para praktisi yang tidak diragukan lagi ilmunya, lengkap dengan tweet-sangat-serius-nya. Tetapi, saya justru lebih banyak memantau akun-akun yang sebenarnya telah dikenal secara personal.

Saya semakin menyadari bahwa hal-hal sederhana lebih menjadi perhatian, bukan soal twitwar politik, perdebatan tentang kelas menengah, rancangan kurikulum 2104, dan tweet-sangat-serius lainnya. Bukan bermaksud untuk menjadi orang yang apatis terhadap segala hal yang terjadi di bangsa tercinta ini, tetapi saya juga tak ingin lebih mudah melihat semut di seberang lautan ketimbang melihat gajah di pelupuk mata – dengan interpretasi berbeda.

Jangan sampai saya tidak peka terhadap hal-hal sederhana yang ada di sekitar. Toh, setiap orang bisa menginspirasi siapa pun. Kelima akun ini pun menginspirasi saya dengan cara mereka masing-masing. Bukan perkara siapa yang lebih cerdas daripada siapa.

Maaf, ya sudah sering stalking lini masa kalian :)

2 thoughts on “Lima Akun Twitter yang Menjadi Sasaran “Stalking” Sepanjang 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s