Pukul TigaPagi

Katanya, pukul tiga pagi adalah waktu sakral. Beberapa orang sengaja tetap terjaga, menenangkan diri, melayangkan doa. “Semesta akan lebih mudah mendengarkan segala ucapanmu,” begitulah katanya.

Katanya, pukul tiga pagi adalah waktu antara, penuh serba salah. Nyatanya, ini terbukti beberapa kali.

Ketika kantuk mulai menerjang, mata tak urung terpejam. Ketika berusaha untuk terus terjaga, kelopak mata justru ingin segera merapat. Akhirnya, kepala tumbang di depan monitor komputer. Tak sesuai dengan harapan. Apakah semesta lupa mengabulkan?

Pukul tiga pagi. Saya pernah masih terjaga tetapi bukan perkara sengaja atau tidak sengaja. Kita pun pernah terjaga bersama, meskipun di tempat yang berbeda.

Jemari kita menari pada pukul tiga pagi secara bersama-sama, meski di tempat yang berbeda pula.

Ada cerita yang kita tuliskan bersama, meski dengan kisah yang berbeda.

Aku punya tenggat waktu. Kau tak punya tenggat waktu.

Aku berlari mengejar waktu terengah-engah. Kau tetap tenang, terjaga, dan masih saja mampu menjagaku, meski di tempat yang berbeda.

Aku menyerah setelah pukul tiga pagi lewat. Kau masih terjaga dan menjaga.

Aku terpejam setelah pukul tiga pagi lewat. Kau masih terjaga dan menjaga.

Kau memang tak pernah tidur.

Tuhan…

"Seakan aku bermimpi, bermimpi. Bermimpi aku berdiri tanpa kaki. Kuikuti terus alur ini, yang tak pernah bisa kumengerti."

Seakan aku bermimpi, bermimpi. Bermimpi aku berdiri tanpa kaki. Kuikuti terus alur ini, yang tak pernah bisa kumengerti.” -Tangan Hampa Kaki Telanjang

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s