Belajar dari Pembawa Lentera di Lampung Timur (1)

“Mba Gandes! Kapan anda jadi ke sini? Sangat ditunggu kedatangannya… Jadi kepikiran untuk bikin workshop ‘menulis dengan benar’ untuk anak-anak di sini. Hahaha… ayo2!” 27 September 2013, pukul 20.24 WIB. Jumat malam yang begitu melelahkan tiba-tiba berganti menjadi Jumat yang menyegarkan. Ini berkat pesan singkat (SMS) dari “sahabat berjarak”, Dewi.

Dewe, ia justru lebih senang menulis namanya sendiri dengan nama itu. Perempuan yang saya kenal sejak duduk di bangku SMP ini menempuh studi Teacher Collage di sebuah universitas swasta di Tangerang. Dulu, kami tumbuh tomboy bersama, bahkan beberapa guru dan teman menganggap kami sebagai anak kembar. Tapi, perubahan semakin kentara setelah ia memutuskan untuk menjadi guru. Rambutnya semakin panjang dan tubuhnya lebih sering bertemu dengan rok. Sedangkan saya, begitu stagnan. Kami pun tak lagi menjadi kembar. Beruntung, waktu tak turut mengubah selera humor kami, meski jarak kerap hadir menjadi pihak ketiga.

Sejak 2007, kami berdua mau tak mau harus berhubungan jarak jauh. Saya kuliah di Yogyakarta, dia kuliah di Tangerang. Empat tahun kemudian, ketika saya pulang kampung ke Tangerang, dia harus menjalani kontrak dinas di Sekolah Lentera Harapan (SLH) Sekampung, Lampung Timur selama tiga tahun.

Sebenarnya, wacana untuk bermain ke Lampung sudah hadir di dalam kepala semenjak saya diangkat menjadi karyawan tetap setahun silam. Bagaimana tidak tertarik untuk pergi menemui anak-anak didiknya yang duduk di bangku SMP dan SMA SLH Sekampung. Setiap kami bertemu, Dewi selalu menceritakan kisah unik dari para murid. Ada murid yang bercita-cita menjadi tenaga kerja Indonesia yang keluar negeri supaya bisa mempunyai rumah besar, kisah tentang anak-anak yang lebih memilih mengukur sungai dengan meteran ketimbang rumus kesebangunan, dan masih banyak lagi. Cerita yang mengundang tawa di awal, tetapi lebih banyak mengundang kepekaan dan pemahaman kami berdua.

Begitu mudah kita mengetahui apa yang dilontarkan orang lain ketimbang belajar memahami alasan mengapa orang lain mengatakan hal itu. Dengan mengetahui “why”, kita jadi lebih bisa menentukan apa yang harus dilakukan.

Itu pula yang saya terapkan saat memutuskan untuk berbagi dengan anak-anak SLH. Saya bertanya kepada Dewi tentang kondisi sekolah dan karakter mereka. Apa yang mereka butuhkan. Apa yang perlu diingatkan. Di sana ada apa saja. Banyak ide melintas, mulai dari konsep idealis hingga realistis. Beberapa ide diadaptasi dari “ilmu” yang saya curi ketika mengunjungi gelaran Festival Indonesia Mengajar tahun kemarin (terima kasih untuk Ocha yang telah mengajak saya). Lainnya, modifikasi dari materi pelatihan menulis milik tim copywriter kepada anak-anak SD, pencurian ilmu dari para sang pencerah seperti Mas Bukik dan Rizki Ramadan Cardtopost. Misi utama adalah membuat aktivitas yang seru tetapi sarat ilmu. Sersan alias serius tapi santai, begitulah bunyi jargon lawas.

Berikut catatan kecil yang saya dapatkan dari Dewe, perempuan yang menggandrungi Valentino Rossi sejak kami berkenalan pertama kali.

Catatan ini jadi pedoman untuk mempersiapkan "amunisi".

Catatan ini jadi pedoman untuk mempersiapkan “amunisi”.

Antara antusias dan gelisah

“Ndes… 43 siswa yang mau ikut. Guru hampir semua. How2? Banyakan ya? >.<”

H-2 keberangkatan, Dewe kembali mengirimkan pesan singkat. Saya kaget, senang, terharu, sekaligus semakin minder. Rencana awal, kuota untuk acara sharing adalah 30 anak. Tujuannya, supaya bisa lebih fokus dan jujur, saya sebenarnya khawatir anak-anak tidak tertarik. Apakah materi yang dibawakan nanti cukup asyik? Cukup mencerahkan? Cukup bisa dipahami? Cukup seru untuk diikuti?

Saya memang senang berada dekat dengan anak-anak, tetapi kesukaan ini tak mengurangi kegelisahan yang terus bergelinjang. Berhadapan dengan anak-anak tidaklah mudah, apalagi saat mengajak mereka untuk beraktivitas. Duh, siapalah saya ini.

“… jangan minder, sharingsharing… itu aja yang dipikirin kalau deg-degan. Pray from here dear…”

Sahabat saya yang satu ini memang selalu mampu menenangkan, meskipun hanya melalui kata-kata. Berbagi. Inilah yang harus saya ingat. Kalau ruangan tidak cukup, bisa pakai lapangan. Kata Dewi. Hehehe…

Untuk mengurangi rasa gelisah, saya merasa butuh untuk berkonsultasi kepada pihak yang memang lebih mumpuni dan berpengalaman. Saya menghubungi rekan yang pernah menjadi Pengajar Muda di Lampung, yaitu Bung Awe alias Ardiwilda. Namun, dia merekomendasikan Mba Arnellis yang dikenal sebagai pengajar bahasa Indonesia. Saya segera menghubunginya via Twitter (karena akses itu yang bisa saya capai). Sembari menunggu jawaban, saya pelajari blog Mba Arn. Mencerahkan. Ia menceritakan aktivitas dan metode pengajaran yang ia terapkan di kelasnya. Seru.

Kemudian, deg-degan masih saja hadir, takut kalau-kalau saya dikira jadi orang yang sok kenal sok deket sok akrab karena tiba-tiba saja berkonsultasi.

Beruntung, semesta mendukung. Mba Arn membalas mention saya dan kami melanjutkan percakapan via surel. Tentu saja ini saatnya menjelaskan niat pribadi supaya tidak dianggap sok kenal sok deket sok akrab. Catatan mengenai kondisi SLH saya sampaikan di dalam surel, berikut dengan rencana aktivitas dan tujuan dari setiap aktivitas. Bahkan, kegelisahan yang ada di dalam pikiran pun tak ketinggalan. Curhat panjang.

Puji semesta, Mba Arn merespons dengan cepat dan membalasnya dengan ramah. Senang sekali rasanya, padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya. Saya benar-benar lega. Terima kasih untuk Bung Awe dan Mba Arn tentunya…🙂

sehabis curhat panjang via surel.

Sehabis curhat panjang via surel.

Saya semakin paham alasan semesta menunda perjumpaan saya dengan anak-anak SLH Sekampung. Tidak ada kata terlambat. Ini justru waktu yang tepat agar saya punya bekal yang cukup dan berjumpa lebih dulu dengan mereka yang tak enggan berbagi ilmu.

Percakapan dengan Mba Arn saya teruskan kepada Dewi. Akhirnya, saya tetap menjalankan rencana-rencana yang telah disusun dengan beberapa revisi sesuai dengan tambahan ilmu baru. Saatnya semangat dipupuk lagi!😀

***

27 Oktober 2013

Selalu percaya. Jika kita datang dengan niat baik, pulang akan baik-baik pula.

Kali ini, saya diajak mengenal keluarga di Sekolah Lampung Harapan Sekampung. Lokasinya  berada di tempat yang lumayan jauh dari perkotaan. Tidak dekat, tidak terlalu jauh juga.

Tiba di Terminal Rajabasa sekitar pukul 18.00 WIB. Tak lihai memperkirakan jarak, saya gunakan alat ukur jauh dengan waktu tempuh. Perjalanan Rajabasa menuju Metro membutuhkan waktu 1-1,5 jam (lupa angka pasti karena terlalu lama tidak ditulis. Maafkan). Lalu, dari Metro, kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Desa Sumber Sari sekitar 1 jam melintasi jarak sepanjang 23 kilometer. Terima kasih untuk Dewi yang telah menjemput dengan sepeda motor, melawan truk dan bus, menerjang dinginnya malam, serta selalu berusaha awas dengan kondisi jalan yang ramai dipenuhi bebatuan dan lubang. Salut untuk penggemar Rossi yang satu ini.

Baru kali ini saya ke Lampung. Ternyata, hampir setiap bangunan di sana memiliki mahkota siger pada bagian atas. Simbol kebanggaan ini merupakan mahkota yang dikenakan pengantin perempuan Lampung.

Baru kali ini saya ke Lampung. Ternyata, hampir setiap bangunan (bahkan lampu kota) memiliki mahkota siger pada bagian atas. Simbol kebanggaan ini merupakan mahkota yang dikenakan pengantin perempuan Lampung.

Berhati nyaman

Infrastruktur yang kurang nyaman tak menciutkan keyakinan di awal. Lampung Timur mampu menyamankan hati saya. Ya, tak hanya Yogyakarta saja yang bisa memberikan kenyamanan. Saat menikmati makan malam di Metro, Dewi mengajak singgah di tempat makan langganannya. Saya menyantap nasi tiwul dan ayam bakar. Iya, nasi tiwul, panganan yang terbuat dari ketela atau singkong ini biasanya mudah ditemui di Wonosari. Sang penjual pun lihai berbahasa Jawa. Serasa di Yogyakarta. Ke-Yogyakarta-an di Lampung berlanjut saat saya melihat papan petunjuk arah bertuliskan Bantul. Awkward. Semoga tidak berlebihan jika saya merasa nyaman pada persinggahan pertama ini.

Sebelumnya, bapak sudah pernah bercerita kalau kawasan Metro menjadi salah satu area yang dihuni masyarakat Jawa. Jadi, jangan kaget jika kelak banyak bertemu dengan orang berdialek Jawa.

Jendela kamar Dewi yang mampu mengantarkan hangatnya mentari pagi hari.

Jendela kamar Dewi yang mampu mengantarkan hangatnya mentari pagi hari.

Menuju pukul 22.00 WIB, akhirnya kami berdua tiba di tempat tinggal Dewi selama menuntaskan dinas. Letaknya tak jauh dari SLH Sekampung, Desa Sumber Sari. Bangunan rumahnya sederhana, tetapi memiliki tanah begitu luas. Ini mengingatkan saya dengan rumah eyang di Klaten, Jawa Tengah. Terima kasih untuk keluarga yang telah memberikan keramahan dan suguhan kenyamanan yang menyenangkan. Maaf, saya banyak merepotkan.

27-29 Oktober 2013, #solotrip

hari pertama…..

2 thoughts on “Belajar dari Pembawa Lentera di Lampung Timur (1)

    • Iya, Mas Iwan…
      Semoga membawa pencerahan dan tak menyesatkan meski hanya sebentar di sana. Kita justru bisa banyak belajar dari mereka yang hidup dalam keterbatasan ya mas…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s