Belajar dari Pembawa Lentera di Lampung Timur (2)

28 Oktober 2013

Hari pertama di Sekolah Lentera Harapan Sekampung.

Selamat Hari Sumpah Pemuda! Seruan itu semarak di lini masa seperti yang sempat saya intip sepanjang sinyal internet singgah. Namun, kala ini saya justru melihat semangat generasi penerus secara langsung.

Datang dengan pakaian tak berseragam jelas menjadi pusat perhatian. Para murid pun sangat mudah mendeteksi wajah asing karena jumlah total dari enam kelas sekitar 75 siswa dengan 14 guru. Sekolah Lentera Harapan Sekampung justru menggambarkan rumah besar yang terdiri dari beberapa ruangan keluarga. Ya, mereka adalah keluarga besar.

Sekolah Lentera Harapan. Langit-langit sekolah mereka lebih tinggi untuk imajinasi yang tak terbatas. Pekarangan sekolah mereka pun lebih luas untuk memicu kreativitas. Keterbatasan yang tak jadi pembatas.

Sekolah Lentera Harapan Sekampung (28/10/2013). Langit-langit sekolah mereka lebih tinggi untuk imajinasi yang tak terbatas. Pekarangan sekolah mereka pun lebih luas untuk memicu kreativitas. Keterbatasan yang tak jadi pembatas.

Di hari pertama, di antara deg-deg-deg-an, saya merasa sangat beruntung bisa berada di SLH Sekampung. Melihat tawa mereka, keluguan, dan tekad mereka untuk belajar. Tak hanya para murid, tetapi juga para guru dan karyawan yang berada di sana. Termasuk, ibu kantin yang akrab disapa Bunda.

Dewi mengajak saya untuk menyapa Bunda pada jam pelajaran pertama.

Dewi mengajak saya untuk menyapa Ibu Kemi yang akrab disapa Bunda pada jam pelajaran pertama.

Pak Mat. Beliau setia merapikan rerumputan yang mengganggu sejak SLH Sekampung hadir pada 2003.

Pak Mat. Beliau setia merapikan rerumputan yang mengganggu sejak SLH Sekampung hadir pada 2003.

Ini bukanlah perjalanan yang “wah” seperti bertualang ke daerah terpencil dan minim segala akses layaknya para petualang atau backpaker ulung. Ini perjalanan “wah” karena banyak inspirasi yang didapat dalam setiap langkah. Banyak pembelajaran dari orang-orang sekitar. “Wah” pula karena saya belum merasa dipuaskan oleh inspirasi yang didapat hanya dalam beberapa saat.

Siapa yang tak senang memiliki lapangan nan luas?

Siapa yang tak senang beraktivitas di lapangan nan luas?

“Miss, itu siapa?” seorang anak laki-laki mengintip dari pintu ruangan Dewi. Namanya Stevanus, putra Batak yang lebih lihai berdialek Jawa. Dalam keseharian, murid-murid SLH menggunakan sapaan untuk guru perempuan dengan “Miss” dan guru lelaki dipanggil dengan “Mister”. Kala itu, sedang pergantian jam pelajaran. Biasanya, murid-murid memanfaatkan jeda untuk keluar kelas dan menyapa teman yang berada di kelas lain.

Ruangan Dewi yang bergabung dengan ruang UKS. Berada di sudut bangunan sekolah.

Ruangan Dewi yang bergabung dengan ruang UKS. Berada di sudut bangunan sekolah. Melihat gambar Garuda di dekat tempat tidur? Kala itu, sekolah mengadakan lomba mading bertemakan nasionalisme dalam rangka Hari Sumpah Pemuda. Murid kelas VII hingga XII diajak untuk berpartisipasi.

Salah satu mading buatan murid-murid SLH Sekampung.

Salah satu mading buatan murid-murid SLH Sekampung.

Tak jauh berbeda dengan Dewi yang dulu, penuh dengan pernak-pernik (penyemangat).

Tak jauh berbeda dengan Dewi yang dulu, penuh dengan pernak-pernik (penyemangat).

Saya tersenyum. Terdengar sayup-sayup suara Dewi yang mempersilakan sang murid untuk beranikan diri berkenalan langsung. Ia hanya membalas arahan guru dengan menyengir. Hehehe… “Miss Gandes…”Excuse me, Miss… May I ask you, what’s your name?” Ya, sepanjang hidup selama nyaris seperempat abad, inilah pertama kali saya dipanggil “Miss” oleh murid sekolah. Tersanjung sekali. Saya serasa menjadi pendidik, padahal bukan. “Tadinya, anak-anak biar panggil ‘kak’ saja. Eh, tapi kok rasanya enggak enak. Ya udah, biar mereka panggil ‘Miss’ aja ya, Ndes…” Dewi menjelaskan kepada saya setelah curhat bagaimana kagetnya mendapat panggilan selayaknya guru. Pelajaran terakhir, Dewi mengajar bahasa Inggris di ruang sebelah, Kelas VIII. Ia mengajak anak-anak satu per satu membaca ulang tentang fabel, melatih pelafalan. Murid-murid yang telah selesai giliran bisa melatih bahasa Inggris dengan bertanya kepada saya. Karena mereka penasaran dengan sosok saya, maka Dewi memanfaatkan peluang ini. Hehehe…

Dewi (sebelah kiri) sedang menyimak anak didiknya yang membaca cerita fabel dalam bahasa Inggris.

Dewi (kiri) sedang menyimak anak didiknya yang membaca cerita fabel dalam bahasa Inggris. Mereka lebih memilih untuk beraktivitas di luar kelas.

Ada yang sedang menunggu giliran, ada pula yang sudah selesai membaca. Saya pun mengganggu mereka dengan kamera. Hehehe...

Beberapa murid merasa aneh ketika melihat sekolahnya tak berpintu. Mereka tak perlu khawatir. Beberapa sekolah di kota pun memiliki model yang sama, termasuk sekolah SMA saya dulu. Tak ada pintu dengan tembok setengah justru menyenangkan. Angin sejuk bebas masuk walaupun murid-murid tetap harus waspada setiap kali ada guru yang lewat.

Lagi-lagi. Kamera menangkap senyum mereka. Beruntung bisa menyaksikannya langsung.

Lagi-lagi. Kamera menangkap senyum mereka. Beruntung bisa menyaksikannya langsung.

BELAJAR, BUKAN DIHUKUM. Kelas lainnya pun senang beraktivitas di luar. Berbeda dengan aturan milik sekolah-sekolah pada umumnya yang menghukum anak didik untuk berada di luar kelas.

BELAJAR, BUKAN DIHUKUM. Kelas lainnya pun senang beraktivitas di luar. Berbeda dengan aturan milik sekolah-sekolah pada umumnya yang menghukum anak didik untuk berada di luar kelas.

Mereka menyenangkan. Mereka mau belajar. Icha, salah satu dari kerumunan anak-anak yang menghampiri saya, tak segan bertanya kepada guru lebih dulu sebelum memulai percakapan. “Miss Dewi, kalau mau tanya ini… bahasa Inggris-nya apa?” ia mencatat kalimat yang diberikan, lalu membacakan ulang di hadapan saya. Anak-anak yang lain pun begitu. Menyenangkan. Sementara itu, murid lainnya berujar, “Ah, aku enggak bisa kalau pakai bahasa Inggris. Pakai boso Jawa wae lah…” Giliran saya menyengir. Hingga pertanyaan berikutnya, mereka bertanya tentang orangtua saya. “My father comes from Ambarawa. My mother comes from Klaten. Yes, they both are Javanese,” saya menanggapi. “Javanese?” Mereka sepertinya belum familier dengan kosa kata ini. mereka berlari ke ruangan sebelah lagi, bertanya kepada Dewi lagi. “Miss Dewi, Javanese itu apa?” “Orang Jawa? Oalah…. Berarti, dari tadi Miss Gandes ngerti aku ngomong apa, dong? Jowo juga to…” komentar seorang murid yang tadi nyaris menyerah. Ia merasa tertangkap basah. “Aaaaa… Kirain Miss-nya beneran orang bule. Taunya, bisa bahasa Jawa… Aaaa…” Ada lagi yang kecewa. Hihihi. Saya menahan tawa kala itu, setidaknya tidak sampai terbahak-bahak. Ya, banyak murid SLH yang berdialek Jawa. Saya sempat tak merasa sedang di Lampung. Seketika itu pula teringat Samsul, Dita, dan Ula. Tiga bocah tetangga kos sewaktu di Yogyakarta. “Can you speak Javanese language? Can you give us some examples?” Hahaha. Anak-anak ini iseng juga ya. “Jenengku Gandes. Omahku neng Tangerang. Tekan Lampung ki wingi bengi, jam 10.” Empat tahun tinggal di Yogyakarta, saya pun hanya bisa berbahasa Jawa apa adanya. Rikues bahasa kromo inggil? Maaf, saya menyerah. “Aku tahu artinya! Aku tahu artinya! Hahaha…” Satu per satu suara anak-anak bersahutan. Ada yang tak mau kalah, menunjukkan bahwa mereka memahami artinya. Ada pula yang meminta untuk diartikan. Mereka benar-benar unik. Senang bisa melihatnya secara langsung.

Setelah sesi reading, Dewi mengajak saya untuk ikut bermain Hangman di kelasnya. Memang guru yang satu ini sukses bikin degdegan.

Setelah sesi reading, Dewi mengajak saya untuk ikut bermain Hangman di kelasnya. Memang guru yang satu ini sukses bikin degdegan.

Ini dia yang namanya Icha.

Icha (kanan) mencoba untuk menebak huruf berikutnya.

Permainan Hangman bisa menambah kosa kata bahasa Inggris. Dewi biasanya memanfaatkan sisa-sisa jam pelajaran dengan permainan. Mereka tampak serius sekali ya...

Permainan Hangman bisa menambah kosa kata bahasa Inggris. Dewi biasanya memanfaatkan sisa-sisa jam pelajaran dengan permainan. Mereka tampak serius sekali ya…

"Anak-anak wajib melepas sepatu saat di dalam kelas agar ruangan tidak cepat kotor. Karyawan bagian kebersihan sangat terbatas. Maka dari itu, kami semua membantu untuk menjaga kebersihan, salah satunya ya tidak membuat kotor kelas," kata Dewi.

“Anak-anak wajib melepas sepatu saat di dalam kelas agar ruangan tidak cepat kotor. Karyawan bagian kebersihan sangat terbatas. Maka dari itu, kami semua membantu untuk menjaga kebersihan, salah satunya ya tidak membuat kotor kelas,” kata Dewi.

Dinding Penyemangat. Saya ingin punya kelas yang dihias-hias seperti ini.

Dinding Penyemangat. Saya ingin sekali punya kelas yang dihias-hias seperti ini. Dulu saya tak merasakannya.

Salah satu pojok karya murid-murid Kelas VIII.

Salah satu pojok karya murid-murid Kelas VIII.

Wahyu, anak yang unik dan akrab sekali dengan Dewi. Hehehe...

Wahyu, anak yang unik dan akrab sekali dengan Dewi. Hehehe…

Ketika mereka mendeskripsikan mereka sendiri...

Dari mereka untuk mereka.

Aturan unik “Kami tidak menghukum anak-anak dengan cara tidak boleh masuk kelas. Mereka justru akan ketinggalan pelajaran. Kalau tidak mendapat ilmu yang cukup, bagaimana nanti menghadapi ulangan?” Kemampuan kognitif para murid masih terbilang minim dibandingkan sekolah-sekolah lainnya yang berada di dalam satu yayasan. Namun, para guru mau dan mampu memahami anak didik, tidak pernah putus asa untuk mencari cara agar ilmu tetap bertambah. Mereka mengenal buku agenda. Saya lebih mengenalnya dengan buku tugas. Buku ini bertugas sebagai pengingat dan bisa menjadi laporan kepada orangtua atau orangtua wali. Apabila ada PR atau tugas khusus, murid wajib menulis di agenda dan ditandatangani orangtua.

Nah, di SLH, agenda wajib dikumpulkan setiap pagi sebelum memasuki kelas agar diperiksa oleh seorang guru yang telah ditugaskan. Mereka yang tidak melengkapi dengan tanda tangan akan dihukum. Hukuman yang harus dilakoni adalah menceritakan kembali berita koran yang telah dibaca. Mereka diminta untuk membaca di pinggir lapangan pada waktu istirahat. Tak perlu berteriak, guru akan menyiapkan microphone dan pengeras suara. Hmm… di saat anak-anak sekolah di perkotaan mulai tak mengenal koran, murid SLH justru akrab dengan media cetak.

“Mereka benar-benar baca artikel yang ada di koran? Kan, panjang-panjang. Bahasa pun cukup berat,” Saya penasaran di tengah rasa salut dan respect.

“Nah, itu dia. Karena mereka tahu banyak artikel panjang, mereka biasanya pilih artikel yang ringkas.”

SLH Sekampung berlangganan harian Kompas, meskipun koran yang diantar selalu edisi kemarin. Beruntung, koran yang satu ini masih ada beberapa rubrik yang dikemas dalam tulisan yang singkat dan bahasa yang mudah dicerna.

“… termasuk caption foto juga, lho…” Epic! Saya malah tidak memikirkan cara jitu ini. hehehe…

Masih ada “kebandelan” lainnya. Jeda pergantian mata pelajaran adalah waktu favorit mereka, tak jauh beda dengan pengalaman pribadi belasan tahun silam. Ketika bel pergantian mata pelajaran berbunyi, beberapa anak berlarian di teras, lalu menyapa teman-temannya di kelas lain. Seolah-olah seperti jam istirahat saja. Ini kerap menyita waktu para guru. Alhasil, perlu diberlakukan hukuman agar murid enggan untuk beranjak dari kelas, yakni BERNYANYI.

“Nyanyi, nih… nyanyi, nih…” Terdengar suara seorang guru yang berdiri di depan pintu kelas. Ia sedang “menggoda” muridnya yang terlihat masih berkeliaran di teras.

“Aaaah… jangan, Miss…” Ternyata, menyanyi di depan kelas cukup menguji mental anak-anak. Tak perlu lagi metode hukuman dengan pukulan penggaris atau arahan berdiri di depan kelas sembari mengangkat satu kaki dan tangan di kuping. Masih banyak cara (kreatif) untuk menghadirkan efek jera.

27-29 Oktober 2013, #solotrip

tak seperti biasanya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s