Belajar dari Pembawa Lentera di Lampung Timur (3)

Selasa, 29 Oktober 2013

Tak seperti biasanya, saya bangun lebih pagi, menikmati udara dingin di kala mentari belum meninggi. Tak seperti biasanya, saya tak bersua dengan barisan kendaraan dan seruan klakson yang membahana. Tak seperti biasanya pula, saya berjalan kaki bersama dengan sahabat sembari melempar senyum kepada para tetangga.

“Pagi, Miss Gandes…”
Di antara ketidakbiasaan, masih ada hal-hal yang membuat saya mulai terbiasa. Ya, panggilan “Miss” mulai terdengar akrab pada hari kedua. Saya mulai terbiasa berkostum beda meski orang dewasa lainnya menggunakan setelan putih-biru dengan sepatu pantofel hitam. Saya pun semakin terbiasa dengan keunikan keluarga di Sekolah Lentera Harapan (SLH) Sekampung, Lampung Timur ini.

Selamat pagi....

Selamat pagi….

Mereka asyik. Seru. Sekali lagi, menyenangkan. Mencerahkan. Dari kesederhanaan mereka, saya belajar banyak. Dari tekad mereka, saya belajar banyak. Dari kegelisahan mereka, saya belajar banyak. Dalam acara sharing, justru saya yang banyak banyak banyak belajar.

Mereka tak memiliki jalan mulus, tetapi selalu ada harapan atas segala tekad dan semangat belajar yang tak pernah putus.

Mereka tak memiliki jalan mulus, tetapi selalu ada harapan atas segala tekad dan semangat belajar yang tak pernah putus.

Berbekal kondisi yang diceritakan Dewi dan saran yang diberikan Mba Arn, saya mengaplikasikan kegiatan seperti ini.

Berkenalan

Pada bagian awal, Dewi meminta saya untuk memberikan pengantar. Berkenalan. Mengenalkan profesi yang saya geluti. Jujur, saya sempat bingung menjelaskan apa itu copywriter, istilah yang barangkali belum cukup familier bagi mereka. Rasanya, akan lebih mudah jika saya menjelaskan profesi wartawan, dokter, arsitek, dan profesi lainnya. Beruntung, ada cara singkat untuk memberikan pemahaman untuk mereka. Ada koran di SLH Sekampung.

Jujur, saya sendiri tidak tahu jika SLH Sekampung berlangganan koran yang bisa semakin memudahkan sesi perkenalan diri.

Saya sendiri tidak tahu jika SLH Sekampung berlangganan koran yang bisa semakin memudahkan sesi perkenalan diri.

fdsfdsfdsf

Terdata ada 44 murid yang ikut serta. Nyatanya, saya tidak tahu ada berapa. Berapa pun jumlahnya, saya tetap senang. Terima kasih juga untuk Dewi yang telah membantu persiapan kegiatan dan dokumentasi. Saya tidak akan bisa melakukan ini semua sendirian.

Cita-cita

Setelah berkenalan singkat, saya mengajak mereka untuk membuka cerita sendiri. Berawal dari pertanyaan seputar cita-cita. Klise? Iya, klise. Tapi, hal sepele ini bisa menjadi modal bagi saya dan mereka. Dengan mengetahui harapan mereka, saya jadi lebih bisa memberikan pendekatan yang kontekstual sesuai dengan harapan mereka.

gfgdgs

Mereka familier dengan Coboy Junior. Saya sertakan saja gambar ini.

fdsfdsfdsf

Kedatangan mereka adalah wujud apresiasi tersendiri.

gfdgfdg

Sisi kiri sebagian diisi oleh murid kelas XII. Salut, mereka sama sekali lebih tahu dan lebih bisa di depan adik-adik kelas.

Ada yang bercita-cita menjadi dokter, guru, bahkan penulis novel. Ya, penulis novel. Waktu kecil, saya tidak cukup jeli menjadikan penulis novel sebagai asa masa depan. Langsung saja sampaikan mengenai beberapa wadah untuk menuangkan bakat menulis, misalnya note Facebook-seperti pengalaman saya tujuh tahun lalu, membuat blog, atau memanfaatkan platform kompasmuda.com. Hal yang lebih memungkinkan diakses mereka adalah note Facebook karena akses internet yang mudah. Mereka bisa memanfaatkan ponsel ketimbang harus wira-wiri ke warnet.

Selain note Facebook, saya juga merekomendasikan mereka membuat blog. Saya ingat cerita Mas Bukik tentang anaknya, Ayunda Damai yang mulai menulis sejak usia 6 tahun. Mas Bukik memang lebih mengarahkan buah hatinya menulis di web situs ketimbang mengakses jejaring sosial seperti Facebook, terlebih lagi masih di bawah umur.

dfdfdf

Slide bagian atas adalah tampilan situs web milik Damai, AyundaDamai.com.

fhdfgfdgfgg

Slide ini saya copy dari bahan presentasi tim copywriter tentang bekal apa saja yang perlu disiapkan ketika menulis.

Mereka adalah generasi beruntung karena banyak cara alternatif yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi diri asalkan mau berusaha dan cermat. Mulai dari media konvesional seperti media cetak hingga digital. Namun, segalanya tetap dikembalikan lagi, tergantung dari kemampuan dan kemudahan akses.

Apa pun cita-cita yang diimpikan, kita akan dituntut untuk bisa menulis. Menulis bisa berguna di mana saja dan kapan saja. Dengan menulis, kita menyuarakan dan membagikan segala sesuatu yang diketahui kepada orang lain.

gsgsgsg

Tak hanya jurnalis saja yang bisa menulis di koran. Dokter pun bisa. Ahli ekonomi ya bisa. Novelis? Bisa juga. Semuanya bisa menulis. Saya pun mengajak Dewi untuk menuliskan ceritanya selama menjadi guru🙂

Preposisi

Tak ingin banyak bicara, saya selipkan juga aktivitas. Tersedia dua boks dengan warna berbeda. Mereka masih yang kesulitan membedakan penggunaan di- sebagai preposisi dan di- sebagai awalan diajak untuk memasukkan kata-kata yang saya siapkan sesuai dengan boksnya, merah muda atau kuning. Sebenarnya, kesalahan ini juga masih acap terjadi di jenjang kuliah bahkan profesional. Namun, bukankah tidak ada salahnya jika mereka bisa lebih memahami sejak dini?

gfdgfdg

Sebelum bermain preposisi, saya berikan satu paragraf untuk diperiksa. Bagian mana yang salah dan bagaimana memperbaikinya. Mereka cukup sering menggunakan kata yang disingkat atau bahasa gaul (seperti bahasa SMS) dalam penulisan sehari-hari. Akan tetapi, ketika saya menampilkan hal tersebut di monitor dengan tulisan komputer, mereka sangat menyadari bahwa itu adalah kesalahan.

Preposisi atau bukan? Pink atau kuning?

Preposisi atau bukan? Merah muda atau kuning?

Kartu pos

Selanjutnya, ada tantangan untuk mereka. Menulis kalimat pendek tentang apa saja. Agar lebih menarik, saya coba memanfaatkan kartu pos kosong buatan Cardtopost. Warna cerah dan gambar nan apik diharapkan bisa membuat mereka lebih antusias. Mereka juga saya perbolehkan untuk menghias kartu pos tersebut sembari menunggu teman lainnya selesai menulis. Bercerita apa saja tak ubahnya sedang berkirim surat dengan sahabat.

Seorang murid pernah menanyakan perangko karena di kartu pos tertera tulisan "Kartu pos tanpa perangko itu seperti gado-gado tanpa sayur. Ayo sempurnakan kartu pos ini dengan menempel perangko dan mengirimkannya." Awalnya, saya memang punya konsep korespondensi dengan mengirimkan kartu pos, tetapi takut terlalu rumit dan memakan proses yang lama.

Seorang murid menanyakan prangko karena di kartu pos tertera tulisan “Kartu pos tanpa prangko itu seperti gado-gado tanpa sayur. Ayo sempurnakan kartu pos ini dengan menempel prangko dan mengirimkannya.” Awalnya, saya memang punya konsep korespondensi dengan mengirimkan kartu pos, tetapi takut terlalu rumit dan membutuhkan proses lama. Terima kasih untuk Cardtopost yang telah menginspirasi.

Wahyu (kiri) yang dikenal sebagai siswa paling atraktif bersama Andre. Keduanya murid kelas VII.

Wahyu (kiri) yang dikenal sebagai siswa paling atraktif bersama Andre. Keduanya murid kelas VII.

Waktu yang terbatas membuat saya tak bisa memantau anak satu per satu. Semoga mereka tetap mendapat pencerahan.

Waktu yang terbatas membuat saya tak bisa memantau anak satu per satu. Semoga mereka tetap mendapat pencerahan.

Waktu begitu terbatas, tak semua surat terbaca. Sebagian besar, mereka bercerita tentang kegiatan sharing. Meluangkan waktu untuk mendengarkan saya bercerita. Ada juga yang menulis tentang cita-cita dan harapannya kelak saat beranjak dewasa. Setelah ditulis, kartu pos dikumpulkan dan dibagikan secara acak. Metode ini saya dapatkan sewaktu duduk di bangku SMP. Mereka belajar menulis, mengoreksi milik orang lain, mempertanggungjawabkan hasil koreksi, menerima penilaian, dan memeriksa ulang penilaian orang lain.

“Miss, kalimatku yang ini, kok disalahkan ya?” Tanya seorang murid ketika kartu posnya telah kembali.

“Nah, coba dilihat siapa nama pemeriksa. Coba tanyakan ke orangnya langsung…”

Dari sekitar 40-an murid yang ikut kegiatan sharing menulis, ada yang bebas dari kesalahan penulisan. Ada pula yang mendapatkan kesalahan lebih dari lima. Maklum, peserta tidak dalam jenjang kelas yang sama. Mulai dari kelas 7 hingga kelas 12 ikut meramaikan. Bersyukur, mereka yang lebih senior tetap mau membimbing dan tidak merasa paling benar saat berada di tengah-tengah adik mereka. Salut.

Sebelum menutup acara dan teringat jadwal keberangkatan bus DAMRI dari Metro, saya memberikan tugas tidak wajib. Anak-anak bisa berkirim surat kepada saya, menulis apa saja. Tak perlu prangko karena mereka bisa menitipkannya kepada Dewi yang akan pulang sejenak ke Tangerang untuk menghadiri acara wisuda. Tak ingin melempar ekspektasi tinggi-tinggi, saya tetap membagikan kertas kosong kepada mereka.

“Miss, kalau pakai kertas lain, boleh?”

“Boleh banget…. Dihias-hias juga boleh. Lebih dari selembar juga boleh. Nanti Miss balas, kok…”

Ketika bisa mendapatkan cerita dari mereka, saya bisa belajar banyak lagi. Memantau gaya penulisan pasca-sharing, belajar dari semangat mereka, dan menerima penilaian dari mereka sebagai koreksi diri.

Beberapa hari kemudian, surat-surat (penuh) cinta bertandang ke rumah. Ada yang menulis cerpen pula. Mereka asyik! Tunggu ceritanya secara terpisah ya…  :)

Bertemu di tempat Dewi berbagi ilmu. Terima kasih untuk Riza yang telah merekam kebersamaan kami :)

Bertemu di tempat Dewi berbagi ilmu. Akhirnya…

Kalian menginspirasi! Semoga kita bisa bertemu kembali. Foto: Dewi

Kalian menginspirasi! Semoga kita bisa bertemu kembali.  

Semoga tidak ada pembelajaran yang “so last year”.

Terima kasih untuk keluarga Sekolah Lentera Harapan Sekampung, Lampung Timur.

Terima kasih untuk keluarga rumah tinggal Dewi.

Terima kasih untuk Dewi atas segala pencerahan. Senang, akhirnya kau mulai menulis.

Terima kasih, perjalanan.

Terima kasih, semesta.

27-29 Oktober 2013, #solotrip

ps: Jangan terlalu asyik menikmati #solotrip, nanti enggak tahu asyiknya nge-trip berdua :p 

2 thoughts on “Belajar dari Pembawa Lentera di Lampung Timur (3)

    • Hahaha… Mas Iwan teliti banget. Nah, kui mas… Justru aku yang ndak akrab sama SNSD. Aku takut, mereka lebih fokus ke SNSD ketimbang fokus ke aku. Hehehe…

      Suwun, Mas Iwan sudah mampir *sungkem*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s