Perjalanan, Pertanyaan, Ingatan, dan Pembelajaran

Tak seperti tahun lalu, perjalanan kali ini tak membawa saya keluar dari Tangerang dan Jakarta. Tahun ini tidak ada Ganjuran atau Yogyakarta. Tahun ini tidak ada keinginan menyepi di suatu tempat. Beruntung, selalu masih ada pembelajaran dari apa yang sudah didapatkan, lakukan, dan rasakan.

Perjalanan

Awal Maret silam, saya bersama beberapa kawan melakukan aksi #ceritauntukIndawa. Kami menggalang donasi buku dan finansial untuk adik-adik di SD Inpres Indawa. Kesempatan yang luar biasa untuk bisa bekerja sama dengan mereka dan mengenal lebih banyak orang lain. Lengkapnya, bisa disimak di sini.

Dari kegiatan tersebut, saya merasakan perjalanan yang tak kalah ajaib. Dari titik satu ke titik lain menjemput buku. Menuju tempat yang sebelumnya tidak pernah diketahui. Bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal. Mengenal kebaikan orang lain lebih banyak lagi tanpa harus keluar dari Tangerang dan Jakarta.

“Iya, ya… tahun ini ndak ada rencana menyepi ke mana-mana. Sama sekali ndak kepikiran malahan. Tapi, perjalanan tahun ini tidak kalah menyenangkan dan membahagiakan.” Mungkin, ini terkesan terlalu dramatis dan berlebihan. Saya bergumam usai menjemput buku di daerah Klender pada hari terakhir pengumpulan donasi #ceritauntukIndawa, 31 Maret 2014.

Perjalanan tak melulu dikaitkan dengan seberapa jauh kita melintasi jarak, tetapi seberapa jauh kita mengenal apa yang ada di sekitar.

Pertanyaan

Dua bulan yang lalu, saya jatuh hati dengan channel SoulPancake di Youtube. Terlambat jatuh cinta, tepatnya. Candu dimulai saat mengetahui adanya reality show Little Kids. Big Questions. yang menghadirkan mba Ingrid Michaelson sebagai pembawa acara. Lalu, mulai menyimak video-video lainnya. Kecanduan berikutnya disebabkan oleh serial Kids President.

Dari sekian banyak video yang ada, saya tersentil dengan video yang berjudul Kid President Explains it All. Ucapan si bocah bertampang tengil pada menit ke 1:36 benar-benar menampar saya. “Eh, iya ya… benar juga,” pikir saya.

How to make the world more awesome? How we can do that?

Be awesome. Treat people awesome. Treat everybody like it’s their birthday.

Benar juga. Sebagian orang akan merasa bahagia ketika berulang tahun. Penuh ucapan selamat. Penuh doa. Penuh harapan. Tak hanya dari diri sendiri, tetapi juga orang-orang sekitar. Selain pernikahan, ulang tahun jadi momen yang menyadarkan diri sendiri bahwa masih ada orang yang mendoakan kita. Doa terlihat begitu nyata karena hadir melalui kata-kata yang dilontarkan melalui pesan singkat (SMS), aplikasi chatting, status Twitter, atau komentar Facebook.

Kids President memberikan contoh, setiap orang berhak melakukan parade. Ya, tak hanya orang penuh kuasa saja yang bisa berjalan-jalan di tengah jalan dengan leluasa. Tetapi, saya coba melakukan apa yang bisa saya lakukan.

“Setiap ulang tahun, saya mendapat banyak ucapan selamat, harapan, dan doa. Lalu, apakah saya sudah mendoakan kembali orang-orang yang telah mendoakan saya? Apakah orang lain juga harus menunggu ulang tahun dulu untuk bisa membuat dan mendapat harapan? Kenapa yang make a wish besok hanya saya? Memangnya orang lain ndak boleh ikut make a wish? Harus menunggu ulang tahun dulu? Hanya boleh setahun sekali saja?”

Selasa (8/4), saya siapkan sesuatu yang mungil untuk teman-teman kantor. Berharap ini akan jadi kejutan. Nyatanya, beberapa kawan sudah mengucapkan selamat pada pagi hari, lalu memublikasikannya di Path. Ketahuan sudah kalau traktiran datang dari saya. Tetapi, bisa pastikan, ada beberapa kawan lain yang sempat bertanya-tanya: “dari siapa?”, “dalam rangka apa?” Misi kejutan belum gagal sepenuhnya. Hehehe… Iya, saya sukaaaa sekali (membuat) kejutan.

“Kalau besok kuenya sudah datang, jangan lupa difoto. Lalu, upload di Instagram.” Niat tinggal niat belaka. Beruntung, Instagram membantu saya mengumpulkan yang tak sempat diabadikan. Maturnuwun, Gusti.

“Ya ampun. Kamu ini mau ulang tahun, malah bikin prakarya. Besok ada apalagi?” Hehehe… Mama mulai mengajak bercanda saat saya asyik menggunting kertas-kertas itu.

Mengapa #haveagr8april? Karena 8 April bukanlah 8 April yang biasa bagi saya. Plus, saya mau angka delapan bisa “terbaca”. Kaum alay bule membaca “gr8” dengan “great”. Hehehe…  Saya ingin 8 April juga jadi hari yang OKE buat orang lain. Mengapa harus pakai tagar? Berharap ada yang memotretnya sembari mengucapkan permohonan pribadi dan tak lupa mencantumkan tagar agar bisa terlacak. Toh, saya sering melihat #[namabulan]wish berseliweran setiap pergantian bulan atau tahun di lini masa. Nyatanya, tidak ada yang mengucapkan harapan pribadi. Pembelajaran yang saya dapat: Pertama, tidak boleh kepo. Kedua, terkadang permohonan terdalam justru tulus dipanjatkan dari dalam hati. Ketiga, jangan menyamaratakan orang lain.

Karena saya tidak belum bisa membuat camilan enak, maka saya membuat elemen tambahannya. Setidaknya, satu orang mendapat satu muffin, lalu bisa mengucapkan harapan tanpa harus menunggu ulang tahun.

“Oh, artina eta… Kalau begitu, saya mau berdoa dan bersyukur dulu ya mba…” kata seorang petugas kebersihan dengan lugu setelah saya coba artikan teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Ah, iya. Bersyukur. Setiap ulang tahun, seseorang pasti bersyukur atas umur yang baru. Saya justru diingatkan olehnya bahwa mengucap syukur juga tak harus menunggu ulang tahun lebih dulu. Saya tersenyum. Banyak pembelajaran baru hari itu.

Semoga teman-teman yang menerima bingkisan mungil kemarin sempat mendaraskan doa, bersyukur, dan membuat permohonan entah untuk siapa. Saya tak mau melakukannya sendirian.

SENANG. Beberapa teman menganggapnya sebagai mood booster pada sore hari. Hore, muffin menjelma sebagai obat penyemangat (meski bukan saya yang membuatnya)! \m/

Ini hanyalah penyederhanaan atas kebutralan yang sebenarnya terjadi... :D

Ini hanyalah penyederhanaan atas kejanggalan dan ketidakwajaran yang sebenarnya terjadi…😀

Ingatan

Hidup ini perkara ingat dan lupa. Diingat, diingatkan, mengingat, dilupakan, dan melupakan.

Saya mulai mengurangi peran Facebook yang telah bertahun-tahun menemani, mengikuti jejak beberapa kawan lainnya. Saat ini, saya pun mau tak mau siap menerima karma karena sudah melupakan dan/atau sengaja mengabaikan orang lain.

Maksudnya?

Apa yang kamu lakukan ketika melihat notifikasi adanya teman Facebook yang berulang tahun? Apakah langsung memberikan ucapan selamat kepada yang bersangkutan? Saya, belum tentu. Aplikasi Sunrise membuat saya tetap mengetahui jadwal ulang tahun teman Facebook tanpa harus mengakses Facebook. Notifikasi saya atur setiap pukul 18.00 WIB karena malam adalah waktu yang tepat untuk mengakses media sosial bagi saya. Sayangnya, saya semakin sadar. Notifikasi perlu dimundurkan kembali.

Ketika notifikasi muncul, respons pun beragam. Tergantung dari kadar jalinan kekerabatan.

Oh, dia ulang tahun. Ya ampun, kok bisa lupa. Kemudian langsung kirim pesan via SMS atau Whatsapp.

Oh, dia ulang tahun. Langsung kirim pesan via Facebook atau Twitter.

Oh, dia ulang tahun. Nanti, deh ucapannya. Kemudian malah lupa.

Oh, dia ulang tahun. Udah gitu aja.

Sepertinya, ada yang ulang tahun bulan ini. Ya ampun, kok bisa lupa. Kemudian langsung kirim pesan via SMS atau Whatsapp. Minta maaf, tetap mendoakan.

Lho, siapa nih yang ulang tahun? Memangnya ini siapa, kok bisa temenan? Kemudian langsung unfriend.

Ketika saya sering lupa dan abai, maka selalu ada giliran bagi saya untuk dilupakan dan diabaikan. Well, that’s life. Karma does exist, no matter how good or bad.

Lalu, siapa pengingat yang baik? Mereka yang mengenalkan rumah, keluarga. Pagi itu, mama kaget melihat anaknya bangun lebih awal daripada alarm. Sempat panik karena terlalu lama mencari lilin. “Kenapa mama ndak bangunin adek, lalu nanya lilin ulang tahun biasanya disimpan di mana? Kan, bisa adek bantu cari…” Kami pun tertawa bersama. Maturnuwun, Gusti. Tak seperti tahun lalu, kali ini saya mendengarkan nyanyian mama secara langsung. Tak lagi via telepon atau sedang dalam perjalanan dari stasiun Gambir. Maturnuwun, mama.

Semua akan kembali pada keluarga. Bahagia itu sederhana seperti mendapat kue ulang tahun berbentuk menara donat dari mama. Pagi itu, mama kaget melihat anaknya bangun lebih awal daripada alarm. Sempat panik karena terlalu lama mencari lilin. “Kenapa mama ndak bangunin adek, nanya lilin ulang tahun biasanya disimpan di mana? Kan, bisa adek bantu cariin…” Kami pun tertawa bersama. Maturnuwun, Gusti.

Bahagia itu sederhana seperti mendapat kue ulang tahun berbentuk menara donat dari mama.

Tak kalah haru, Dewi mengajak murid-murid Sekolah Lentera Harapan Sekampung bernyanyi di telepon. “Waaa… waaa.. Ya ampuun… Dewe gelooo…” Saking tak tahu mau bicara apa lagi. Langsung saja, terbayang pertemuan dengan mereka pertama kali. Mereka telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya, turut memberikan pembelajaran. Terima kasih para kaum pengingat yang baik. Siapa pun. Saya berhutang banyak pada kalian.

“Jejak lahirmu masih ada, kok di internet,” kata Purba. Hahaha… Jelas. Wong, tahun lalu saya menulis tentang perjalanan di blog. Lalu, ada foto-tipikal-perayaan-ulang-tahun yang sengaja saya publikasikan di Facebook via Instagram. Akibat uji coba #haveagr8april, jejak pun terekam di ruang yang lain. Pemantau yang andal tentu tidak akan terkecoh. Tapi, ini lagi-lagi jadi pembelajaran bagi saya. Jika orang lain berhak mengucapkan harapan meski tidak sedang berulang tahun, maka orang yang berulang tahun juga masih berhak mendapat ucapan selamat, doa, harapan, bahkan kejutan meski momen ulang tahun telah lewat.

Bagaimana pun, saya tetap percaya. Tidak ada doa yang terlambat.

Perjalanan belum usai. Entahlah, sampai kapan perjalanan akan selesai. Pun saya tak pernah tahu akan seperti apa perjalanan selanjutnya. Hal-hal yang jelas-jelas saya ketahui adalah bersyukur untuk hari lalu dan hari ini. Bersiap untuk menerima perjalanan, pertanyaan, dan pembelajaran yang barangkali penuh kejutan dari-Nya melalui semesta dan mereka. Atau, bersiap untuk membuat kejutan lagi?🙂

 

Terima kasih, semesta.

Terima kasih, perjalanan, pertanyaan, dan pembelajaran.

Terima kasih, kawan-kawan perawat ingatan, pengisi perjalanan, penemu jawaban atas pertanyaan, dan pemberi pembelajaran.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s