Berubah? Lalu, Kenapa?

“Tapi, dia enggak seperti yang dulu. Hmm… Gimana ya… Beda, deh pokoknya…”

Begitulah komentar seorang teman saat saya menanyakan pendapatnya tentang teman yang lain. Setahun yang lalu. Kala itu, saya juga menyadari adanya perubahan yang terlihat. Namun, saya tidak begitu mempermasalahkannya karena perubahan (bukan perobahan) tersebut saya maknai atau setidaknya bisa ditarik hikmah positifnya. Tetapi bagi teman yang lain, perubahan menimbulkan kejanggalan karena mematahkan kebiasaan.

Saya justru sempat khawatir kalau-kalau si pemberi komentar tidak lagi ingin berteman akrab dengan orang yang katanya telah berubah. Takut jalinan pertemanan mereka kandas hanya karena salah satu dari mereka ada yang berubah. Entahlah, malah saya yang dirundung gelisah dan sibuk memikirkan jalinan pertemanan orang lain.

Kembali diingatkan
Lama tak menggubris soal perubahan, pikiran saya digoda-goda kembali dengan artikel yang dibaca beberapa minggu terakhir. Pertama, tulisan rubrik Parodi garapan Samuel Mulia yang berjudul “Ya, Ampun… Segitunya?” di Kompas (6/4). Jujur, ingatan tentang komentar teman setahun silam lagi-lagi tebersit. Sepanjang penelusuran tuturan lisan Samuel, saya jadi geli sendiri dan terus bergumam, “Nah, ini dia! Pas! Pas! Pas!” Semacam jargon iklan kopi susu saja.

Pertanyaan kenapa atau mengapa selalu saja melahirkan sejuta jawaban yang bisa jadi diterima dengan baik oleh si penanya atau malah melahirkan debat yang hebat. Mengapa orang baik bisa berbuat tidak baik, mengapa orang tidak baik bisa menjadi baik, mengapa orang berubah, mengapa orang tak mau berubah?

Saya pun sepakat dengan ujaran berikutnya. Menurut Samuel, semua kejadian tersebut terjadi karena pelakunya memutuskan untuk memilih jalur yang berbeda, setelah cukup lama ada di jalur yang itu-itu saja yang mungkin tak lagi memberi faedah.


Seorang teman tak lagi bergaya slenge’an seperti sewaktu duduk di bangku sekolah. Kini, ia lebih berhati-hati dalam bersikap dan tak mau lagi sembarangan ber-hahaha-hehehe. Langkah ini diambil karena ada misi lain demi kehidupan berikutnya yang lebih baik (menurut versinya sendiri). Mungkin. Sayangnya, beberapa orang memandang perubahannya sebagai keanehan dan tak lazim karena mereka telah terbiasa melihat sosoknya yang cuek.

Ada pula teman yang mampu mematahkan predikat orang alim–setidaknya ini anggapan mayoritas orang–setelah bertahun-tahun. Karena pengaruh lingkungan dan tempat tinggal yang baru, gaya hidupnya berubah drastis, termasuk dalam cara pergaulan, berbicara, dan berpakaian. “Kok, bisa sih? Ternyata, dia sekarang seperti itu ya…” Itulah respons dari beberapa teman yang lain. Mereka kaget tak ubahnya sedang tertipu penjaja obat yang lihai berorasi.

Ah, “baik-buruk”. Kategorisasi yang pada akhirnya menjadi penghakiman terhadap orang lain. Pengelompokan. Saya sendiri masih sulit menghindari kebiasaan ini. Di sisi lain, cara ini kerap menjadi penuntun bagaimana seseorang menyikapi perubahan orang lain.

Hak berubah

Seseorang itu berhak untuk berubah. Itu hak atas pribadi seseorang. Kalau memang orang lain tak nyaman lagi karena perubahan temannya, maka mereka juga berhak memilih: tetap menemani atau pergi. Ya, sudah. Dia sudah berubah. Ini lembaran baru baginya. Terserah orang lain, mau terima atau tidak.

Dua minggu setelah membaca rubrik Parodi, saya mendengarkan lontaran dari kerabat yang lain. Hmm… Jangan-jangan kita yang justru berubah? Yang awalnya menemani, sekarang malah pergi. Tak ditampik pula, perubahan seseorang memang tak melulu mendatangkan kenyamanan bagi orang lain.

Ya, ada orang yang tak bisa lagi menerima perubahan orang lain. Apabila perubahan tersebut tidak lagi bisa diterima, maka seseorang memilih untuk pergi. Bahkan, sama sekali enggan untuk menjalin hubungan kekerabatan kembali. Boro-boro mengingatkan. Namun, ada pula orang yang memilih untuk tetap menemani, seburuk apa pun perubahan yang dilakukan temannya. Dengan tetap tinggal, dia berharap bisa terus mengingatkan. Namanya saja manusia, beda-beda.


Dua sisi
Sayangnya, manusia acap alpa bahwa pihak yang diajak berinteraksi juga manusia. Tulisan Samuel kembali memberikan sentilan lainnya.

… kekagetan yang dicerminkan dengan kalimat kok bisa sih itu, sebuah kebiasaan saya sebagai manusia untuk tidak menerima orang itu bisa hidup di dua dunia. Dunia yang santun dan dunia yang tidak santun. Ia positif, tapi kadang ia bisa negatif. Saya yang seharusnya kaget terhadap diri sendiri, bukan terhadap perubahan orang lain.

Bagaimana pun, manusia tetaplah memiliki dua sisi. Hal manusiawi inilah yang menandakan bahwa kita manusia seutuhnya. Tak sepenuhnya baik, tak sepenuhnya pula jelek. Ketika seseorang berubah menjadi positif, tentu ada hal-hal lain yang melatarbelakanginya. Begitu pula saat individu berubah menjadi negatif. Selalu ada alasan ketika seseorang mendesain dirinya sendiri. Sayangnya, kebanyakan yang terjadi adalah kita lebih mudah menangkap terhadap “what” ketimbang “why”.

Kesadaran akan dualisme sisi manusia semakin diteguhkan dengan hasil wawancara Daffa Andika dengan Cholil Efek Rumah Kaca yang dipublikasi portal musik Gigsplay pada Senin (28/4) silam.

Jikalau, pun, gue sudah berubah, memang tidak boleh orang berubah? Jikalau. Kebetulan sampai saat ini gue masih belum berubah. Tapi kalau pun orang berubah ya tidak ada masalah kan? Permasalahannya adalah orang-orang tuh sulit menerima kenyataan bahwa ide seseorang yang mereka sukai bisa saja berubah. Mereka sudah terlalu romantis, bukan lagi soal substansi. Sudah tidak lagi tentang substansinya, tapi tentang romantisme yang dipentingkan. Kalau misalkan secara substansi lo sudah berbeda dan bertentangan, ya sudah, santai saja, tidak usah terlalu romantis. “Wah lo kan idola gue, pahlawan gue, lo gak boleh begini, kenapa tiba-tiba lo begini, gue benci lo, gue gak mau lagi suka sama lo!” Menurut gue kebanyakan begitu.

Ini sama halnya dengan lontaran, “Wah lo kan teman gue, sohib gue, lo gak boleh begini, kenapa tiba-tiba lo begini, enggak asyik lagi. Gue enggak mau lagi temenan sama lo, sob.”

Orang berubah itu wajar dan kalau dia berubah lalu kita tidak suka pun ya tidak apa-apa juga. Kalau lo tidak suka ya lo tunjukin bahwa lo tidak suka, tapi ya….. sudah. Dia juga harus menerima itu sebagai fate dia bahwa dia bukan lagi idola lo. … Di dalam sejarah ilmu pengetahuan juga banyak banget kan orang yang berubah sikap, ada dasarnya, ada momentumnya, ada konteksnya. Karena bisa kacau, kalau orang tidak boleh berubah sikap agak fasis juga jatuhnya menurut gue.

Saya sendiri belumlah dibilang telah berubah, kecuali mendapat komentar, “Wah, agak gemukan ya sekarang…” Banyak hal yang masih melekat dalam diri seperti satu dekade sebelumnya. Mulai dari jerawat, rambut yang tak pernah awet panjang, karakter pendiam ketika awal perkenalan, muka masam yang mudah tertebak saat mood buruk, serta ideologi dan prinsip hidup. Cielah.

Di saat kawan-kawan perempuan sepermainan mulai memperhatikan penampilan berkat dunia kerja, saya pun masih begini-begini saja. Ingin, sih berubah. Berambut panjang, belajar menggunakan riasan setiap hari, atau menggunakan rok saat bekerja. Konsisten. Jikalau berhasil melakukan perubahan seperti itu, saya yakin, mayoritas teman akan bersorak-sorai dan mengadakan hajatan besar. Hahaha. Tetapi, saya sendiri masih terlalu nyaman dengan konsep diri yang saya desain saat ini.

Bagaimana pun, kebaikan dan kenyaman versi diri sendiri tak selalu sejalan dengan definisi yang dikonsepkan orang lain. Beruntung, teman-teman masih setia menemani untuk terus mengingatkan tanpa bosan, “Ayo, dong Ndes berubah… sekali-kali, deh….” Di saat ada teman yang menginginkan kerabatnya tidak berubah, ada pula teman-teman lain yang ingin sekali melihat kerabatnya berubah. Orang-orang yang ada di sekitar saya adalah para penyabar yang andal.😀

***

“Kabar terakhir, sih begitu.”
“Lho, kalian masih kontak-kontakan?”
Kecemasan yang terlintas setahun silam akhirnya mendapatkan penenang pada awal tahun kemarin. Nyatanya, si pemberi komentar yang katanya melihat perbedaan karakter seorang teman yang dulu dan sekarang, toh masih bertahan untuk menemani. Masih ada jalinan kekerabatan meski ada perubahan dan hal-hal di luar kebiasaan. Masih ada orang yang setia menemani orang lain meski seseorang telah berbeda. Tak ada lagi romantisme-romantisme lampau yang bersikukuh coba dibangkitkan kembali. Perubahan mengawali lembaran hidup baru seseorang. Yang ada (dan dibutuhkan) adalah penerimaan (acceptance). Menerima kenyataan bahwa manusia berinteraksi dengan manusia yang memiliki sifat dasar manusiawi.

3 thoughts on “Berubah? Lalu, Kenapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s