Dari Perempuan Pemalu untuk Lelaki yang Tak Sedang Dalam Pelukan

Lagi-lagi tak ada senja yang tertangkap kamera ponsel. Tertangkap oleh ingatan pun tidak karena memang tak ada yang terlihat. Pernah suatu waktu aku mengirimkan surat penawaran kepada senja, “Bisakah kau menunda kedatangan? Sembari menunggu tulisanku selesai, kau bisa menikmati kopi hangat lebih dulu di kafe yang tak jauh dari kantorku. Minumlah kopi barang satu hingga dua cangkir agar kau tak dilanda kantuk saat muncul nanti. Aku yang traktir.”

Ternyata, senja antisuap dan keras kepala. Ia tetap akan datang dan berlalu. Dua jam setelah kemunculannya, aku baru bisa benar-benar meninggalkan langit-langit ruangan dan merasakan langit malam. Gelap pun jatuh. Banyak bintang malam ini, mungkin ada seorang pemilik gelisah yang berusaha mengirimkan terang untuk mengelabui kekalutannya. Mungkin, ia tak ingin ada yang membaca pikirannya dan mempertanyakannya.

Lagi-lagi, aku menyusuri gang sempit dan selalu mampu menangkap lemparan senyuman dari sang rembulan. “Hei, perempuan! Malam ini sudah berapa kali menoleh ke belakang? Masih berharap ada yang menyapa dan menghentikan langkahmu? Masih berharap ada keajaiban yang menyamar menjadi kebetulan untuk sebuah pertemuan?” Selalu saja ia mengejek. Kujerat ia, kubungkam dengan obat tidur agar ia terlelap dan tugasnya segera tergantikan oleh mentari. Semoga pagi datang lebih cepat.

nanti malam kan ia jerat rembulan

disimpan dalam sunyi hingga esok hari

“Lingga…!”

Ini pasti rembulan yang coba mengejekku lagi. Menyebalkan.

“Lingga yang udah lama enggak pamer foto senja!”

Oke, sepertinya dugaanku keliru. Akhirnya, aku menoleh ke belakang untuk ke sekian kali. Pasrah sudah jika aku terjebak dengan lelucon rembulan.

“Lho…”

“Ha-ai…” suaranya terbata-bata, napasnya tersengal-sengal.

“Kok, bisa di sini? Kamu kan di…” Berharap penuh pada keajaiban. Ketika kejaiban mendatangkan kenyataan, aku justru tidak mempercayainya. Mempertanyakan. Manusia sekali.

“Hahaha.. Iya. Lagi ada perlu di sini. Enggak tahu juga. Lihat orang yang jalannya cepat banget. Dari belakang, sih kayak pernah lihat. Ternyata, beneran kamu… Kerja di sini?”

“I-ya…” Kali ini, giliran suaraku terbata-bata meski napasku tetaplah stabil. Lalu, mataku merasa malu. Semakin dalam ia malu kali ini. Kadang juga ia bercampur takut, tatkala harus berpapasan dengan kebetulan di tengah perjalanannya. Seperti malam ini.

“Kamu itu jalan atau lari, sih? Boleh, lho sekali-kali lihat ke belakang. Siapa tahu ada yang manggil untuk ngobrol sebentar. Hehehe…” Bagiku, ini sindiran yang menyenangkan, tak seperti tamparan yang kerap diberikan rembulan.

“Jalan, kok… biasa. Pelan. Jika aku menoleh ke belakang, aku tak fokus untuk melangkah ke depan. Aku… tak ingin menoleh ke belakang.”

lelah berpura-pura bersandiwara

esok pagi kan seperti hari ini

menyisakan duri, menyisakan perih, menyisakan sunyi…

“Bisa kau perlambat jalanmu? Ada orang yang berada di belakangmu dan merasa kau terlalu jauh untuk dikejar…”

“Tak ada yang sedang berlari lebih cepat atau lambat. Tak ada pula yang menuntut untuk mendahului. Jikalau aku yang lebih dulu tiba di garis akhir, biar kusiapkan teh manis hangat untuk menyambut… orang yang masih berada di belakangku. Jikalau.”

“….”

Ia terpaku. Pun demikian denganku. Tubuhku sudah kaku sejak ia berdiri di depanku 180 detik yang lalu. Rasanya tubuh ingin rubuh karena tabungan rindu yang sebagian kusimpan di dalam ransel seolah-olah semakin bertambah berat seketika. Seandainya bisa kubagi 10 hingga 20 gram kepadanya.

“Halo… Oh, gitu… Baiklah.” Ponselnya tiba-tiba menginterupsi. Raut wajahnya kembali tak bisa kutebak, sama seperti tiga tahun lalu ketika kami mengakhiri pertemuan dengan percakapan yang belum selesai. Kala itu, di kota yang tak pernah kusambangi lagi.

“Maaf, Lingga… Aku harus pergi…”

Kok, gitu? Itu telepon dari siapa? Sebentar, deh. Memangnya dalam rangka apa ada di sini? Terus, sampai kapan? Apa kabar orang rumah? Baik? Apa kabar benda kesayangan? Masih awet? Kapan lagi kita bisa berte…

“Lingga… aku duluan ya…”

Duluan? Duluan ke mana? Memangnya, besok masih di sini? Atau, kamu kembali pergi? Duluan ke mana? Hei…

Kali ini, kubungkam ucapanku sendiri.  Mengalah pada waktu. Lagi-lagi.

Barangkali, memang harus ada percakapan yang tak terselesaikan agar (salah satu dari) kita merindukan perjumpaan.

“Ya, hati-hati…”

Ia pun berlari. Duluan. Ya, berlarilah. Itu sebabnya aku tak ingin memelukmu agar kau tetap bisa berlari. Sesuka hati. Hingga kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan tiba di garis akhir lebih dulu suatu saat nanti. Jika kita tak bisa berlari beriringan, biar doa yang akan menjaga dan turut mengiringi.

Aku kembali menyusuri gang sempit. Tak ingin menoleh ke belakang. Barangkali, ini sudah pada level cukup untuk malam ini. Rembulan yang masih terjerat diam masih menemaniku sembari menyelipkan senyuman kepadaku. Kali ini lebih hangat rasanya.

Tubuh pun tak jadi runtuh. Mungkin, ada yang diam-diam mencuri beban yang ada di ranselku tadi. Rindu tak lagi utuh, gelisah terasa penuh. Apakah salah satu dari kita baik-baik saja?

di malam hari

sedikit rindu

banyak cemasnya

*Dua tahun silam, saya membuat surat berjudul Untuk Lelaki yang Sedang Dalam Pelukan sebagai balasan dari lagu “Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan” yang dinyanyikan Payung Teduh. Namun, tulisan urung dipublikasikan hingga saat ini. Kemarin (3/5) malam, saya mendadak menemukan benang merah di antara lirik buatan Is tersebut dan lirik “Lelaki Pemalu” yang dibawakan Efek Rumah Kaca (bukan versi Pandai Besi). Saya hanya mencoba untuk menginterpretasikan ulang dengan mengambil sisi kebalikan. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Jika ada kejadian yang serupa atau nyaris mirip, anggap saja sebuah kebetulan🙂

** Video klip “Lelaki Pemalu” versi Pandai Besi bisa disimak di sini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s