Apa Kabar #ceritauntukIndawa? Saya Kangen

Duduk di tanah lapang dengan dikelilingi ilalang. Membaca buku kesayangan, duduk berlatarkan pemandangan menawan. Angin semilir sesekali berembus turut menggoda lembar halaman buku yang sedang diperhatikan.

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Begitulah ilustrasi sering saya temukan dalam sampul buku cerita anak-anak. Menyenangkan sekali meski saya sendiri belum pernah benar-benar merasakannya. Beruntung, ada yang sudah merasakan langsung, mereka. Ya, adik-adik di SD Inpres Indawa-Makki, Lanny Jaya, Papua. Saya tahu karena sebuah foto meluncur di beranda Facebook. Awal bertugas di Papua, Ino “memamerkan” foto dirinya yang berlatar pemandangan alam nan ciamik. Di akhir semester, ia pun berhasil membuat saya iri lagi. Hehehe…

Setelah bergumul dengan buruknya koneksi internet di Indawa, akhirnya #ceritauntukIndawa bisa dikabarkan kembali oleh Pak Guru Ino pada 4 Juli 2014. Kami mohon maaf atas jeda yang cukup lama dari catatan #ceritauntukIndawa V (10/4). Tak dimungkiri, selama berproses dan menanti kebaikan jaringan internet, saya semakin mengingat lontaran Bapak Menteri “internet cepat buat apa?”. Semakin mengingat, semakin gemas. Koneksi internet yang buruk layaknya garis takdir yang tak bisa saya ubah sendiri. Harga mati. Ketika koneksi internet buruk, apa yang bisa saya perbuat? Kabar singkat dari Indawa baru bisa disampaikan Ino melalui SMS atau Whatsapp. Itu pun, tidak melulu lancar. Ada pesan yang terpotong dan tidak terkirim. Kabar dari Ino pun baru bisa disampaikan kembali melalui Twitter. Namun, kembali pada prinsip bersyukur. Setidaknya, cerita masih bisa tersampaikan. Semoga keterlambatan tidak mengurangi rasa bahagia dan syukur.

#ceritauntukIndawa menemukan tujuannya. Sebanyak 1264 buku yang telah dikumpulkan selama sebulan akhirnya benar-benar sampai ke Indawa dengan selamat. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Yogyakarta, pada 20 April buku-buku sampai juga ke Wamena. Sehari setelahnya, Ino langsung membawanya naik ke Indawa. Lima karung besar membuat adik-adik senang bukan kepalang. Ini adalah berita menggembirakan untuk mereka.

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Pada 25 April, Ino dan murid-muridnya “bongkar muatan”. Sejak pagi, para murid tidaklah sabar. Ketika Ino memberi tahu kepada anak-anak bahwa hari itu akan membuka paket-paket buku, berbagai ekspresi kegembiraan muncul. Ada yang sontak berujar, “Nogoba Allah!” (“Oh my God” versi Indawa), ada yang meringis, ada yang saling bertukar pandang kegirangan. Cerita Ino membuat saya mulai membayangkan bahwa saya hadir di tengah-tengah mereka, menyaksikan langsung raut wajah menyenangkan. Merinding. Bahagia mereka tentu saja menjadi bahagia kita, tak terkecuali para donatur.

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Oh iya, waktu itu saya juga berkolaborasi dengan Rabbit Hole yang menerbitkan tulisan Ino, lengkap dengan ilustrasi. Menurut cerita Ino, murid kelasnya senang sekali membaca kisah tentang mereka. Apalagi, melihat wajah mereka dalam bentuk gambar. Mau tahu seperti apa ceritanya? Tim Rabbit Hole menyimpannya di sini. Beberapa waktu silam, ada kuisnya juga untuk menulis review buku #ceritauntukIndawa. Terima kasih untuk tim Rabbit Hole (Mba Devi dan Mas Guntur) yang telah membantu.

Lalu?
Buku-buku telah disimpan di ruangan khusus dan ditempatkan ke dalam rak sesuai dengan kategori yang telah dibuat pengajar. Namun, posisi buku masih ditempatkan dengan cara bertumpuk karena belum tersedia pembatas buku. Para murid mulai bisa mengakses “perpustakaan darurat” meski belum bisa semuanya karena kondisi ruangan belum 100 persen siap. Anak-anak kelas unggulan diberi kesempatan untuk membawa satu buku ke asrama.

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

“Sejak kami punya perpustakaan mini, anak-anak kelas unggulan kini punya kegiatan baru. Yang biasanya setiap jam istirahat mereka main congklak, main kelereng, atau main bola, sekarang mereka masuk ke perpus, memilih-milih buku, kemudian dengan asyik membacanya. Ah, adem rasanya melihat anak-anak ini…

Tapi untuk awal-awal ini, mereka memang baru sebatas melihat gambar-gambar yang ada di dalam buku yang dipilih. Kebanyakan dari mereka memilih buku karena melihat gambar-gambarnya yang menarik, apalagi yang full color. Belum banyak anak yang benar-benar membaca tulisan di dalam buku. Saya menganggap ini hal yang sangat wajar. Buku-buku ini adalah sesuatu yang baru untuk mereka. Saya pun tak ingin memaksakan agar anak-anak ini langsung membaca tulisan di tiap buku. Setidaknya untuk tahap awal ini mereka sudah punya ketertarikan yang tinggi terhadap buku. Menggembirakan.

Tak hanya jam istirahat, kini setiap jam pelajaran selesai pun anak-anak pulang tidak dengan tangan kosong. Berbeda dengan hari-hari sebelum perpustakaan ini ada. Masing-masing dari mereka rajin menyempatkan diri ke perpustakaan untuk memilih satu buku untuk dibawa pulang. Begitu setiap hari. Satu hari satu buku. Hebat! Saya sendiri enggak yakin, sih mereka membaca dengan benar-benar tiap buku yang dibawanya.. Hehehe. Tetapi, sekali lagi, ini barulah tahap awal. Saya sudah cukup senang dengan kebiasaan baru anak-anak ini.”

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Dok Winant Marcelino

Tahun ajaran ini, Pak Guru Ino kembali bertugas di sekolah yang sama dan mengajar untuk kelas IV SD. Anak-anak kelas IV yang ia ajarkan tahun lalu sudah naik tingkat menjadi kelas V. Selanjutnya, buku-buku akan diletakkan dengan cara berdiri karena Pak Guru sudah membawa pembatas buku. Tahap pemberian label akan kembali dilanjutkan, pembuatan daftar buku, dan sistem pendataan buku untuk memudahkan proses peminjaman.

Tugas berikutnya, mengajak anak-anak kelas reguler agar tidak sungkan bermain di ruang “perpustakaan darurat”. Jadi, tak hanya anak-anak kelas unggulan yang menikmatinya. Bagaimana pun, buku-buku ini untuk anak-anak SD Inpres Indawa-Makki. Pengajar juga akan semakin mematangkan penjadwalan khusus agar siswa memiliki waktu lebih panjang untuk membaca, tak hanya pada saat istirahat. Aktivitas story-telling hingga berkolaborasi dengan rumah baca milik teman-teman komunitas Buku untuk Papua di Wamena pun mulai dipikirkan. Perjalanan #ceritauntukIndawa tentu akan semakin menyenangkan.

Tanpa henti-hentinya, kami mengucapkan terima kasih untuk para donatur, perpanjangan tangan, teman-teman komunitas, dan segenap pemerhati #ceritauntukIndawa. Mohon maaf apabila ada ucap dan cara yang keliru selama kami menyebarkan #ceritauntukIndawa. Tanpa kalian, adik-adik SD Inpres Indawa-Makki tidak akan menemukan harta karun. Barangkali, mereka perlu menempuh perjalanan lebih lama lagi untuk bisa menceritakan buku-buku cerita yang telah dibaca. Tetapi, kalian semua telah mempersingkat jalan mereka untuk melihat dunia. Kalian semua menjadi perpanjangan tangan bagi mereka. Terima terima terima terima kasih.

Terima kasih juga untuk cetusan ide, letupan semangat, dan geliat diskusi dari Ino, Aring, dan Diki. Tanpa kalian, #ceritauntukIndawa bisa saja tidak akan pernah ada. Thanks, dab!

Berikut adalah kawan-kawan yang membantu menyebarluaskan potensi-potensi kebahagiaan untuk Indawa melalui tagar #ceritauntukIndawa. Ada pula mereka yang membantu me-retweet dan menyebarkan tanpa tagar yang belum bisa disebutkan satu per satu. Semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu bersama kalian. (data disusun oleh Fanbul dan Tonny)

Berikut adalah kawan-kawan yang membantu menyebarluaskan potensi-potensi kebahagiaan untuk Indawa melalui tagar #ceritauntukIndawa. Ada pula mereka yang membantu me-retweet dan menyebarkan tanpa tagar yang belum bisa disebutkan satu per satu. Semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu bersama kalian. (data disusun oleh Fanbul dan Tonny)

via Diki Cahyo

via Diki Cahyo

Jika semua warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak, maka semua warga negara juga berhak ikut memikirkan sekaligus bergerak demi pendidikan yang layak. Semoga semesta selalu menyertai kita semua. Amin.


Melewatkan cerita Indawa terbaru?

Layaknya Menemukan Harta Karun
Ada Pemandangan yang Berbeda

Melewatkan #laporanmingguan pertama? Sila mampir di sini.
Melewatkan #laporanmingguan kedua? Sila mampir di sini.
Melewatkan #laporanmingguan ketiga? Sila mampir di sini.
Melewatkan #laporanmingguan keempat? Sila mampir di sini.
Melewatkan #laporanmingguan kelima? Sila mampir di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s