Video Hore Ketika #piyambakantheseries

Sudah lebih dari 30 hari. Pada 29 September silam, saya menjalani ibadah #solotrip atau #piyambakantheseries. Dalam bahasa Jawa, piyambakan berarti sendirian.

Sudah menjadi tekad. Tahun ini harus ada #solotrip lagi. Uji tes keberanian kali ini membawa saya ke Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Sejak tahun lalu, sudah ada tekad untuk datang ke Dieng Culture Festival. (Mohon maaf, hingga saat sekarang cerita lengkap perjalanan #solotrip belum bisa ditulis. Semoga bisa. Segera)


Selain menyiapkan peta dan petunjuk arah dari Jakarta menuju Dieng, saya berpikir untuk membuat sesuatu selama perjalanan. Apalagi, kaki masih akan singgah di Yogyakarta pada hari ketiga. “Membuat rangkaian foto atau merekam video? Atau, membuat semacam unofficial video?” Video hore, saya menyebutnya begitu. Video untuk menyenangkan hati. Sendiri.

Seiring dengan kebimbangan, saya sempat melihat video klip dari Ran feat Tulus berjudul “Kita Bisa”. Saya terinspirasi untuk membuat video dengan konsep serupa. Iya, saya terinspirasi meskipun kualitas video yang dibuat sendiri masih kalah kalah kalah jauh dengan karya tersebut. Saya membuat sesuai dengan kemampuan yang ada.

Ada banyak kandidat lagu. Ini sebenarnya dipengaruhi oleh tujuan pembuatan video. Awalnya, #solotrip ditujukan sebagai momen refleksi. Siapa saya? Untuk apa saya di sini? Siapa dia? Apa itu pertemuan? Apa itu perpisahan? Seberapa penting sebuah kepastian? Apakah ini perjalanan untuk mencari kepastian atau justru akan menuai kembali pertanyaan? Apakah ada yang pasti dalam hidup ini? Pergumulan ini sempat menggiring ego pada pilihan daftar lagu nomor satu. Lalu, keputusan tak jadi bulat.

1. The Adams – Hanya Kau yang Bisa
2. Banda Neira – Berjalan Lebih Jauh
3. Banda Neira – Ke Entah Berantah
4. Dialog Dini Hari – Lengkung Langit
5. Dialog Dini Hari – Hiduplah Hari Ini

Hidup tak melulu tentang ego. Tidak ada yang boleh memonopoli perasaan. Siapa pun. Bukan hanya tentang saya dan dia. Begitu juga ketika kita bicara cinta, kasih. Rasa yang universal. Ada mereka.

Saya hidup tak sendirian karena ada keluarga, sahabat, dan orang lain. Mereka ada meski pada akhirnya saya tetaplah harus bertumpu pada kaki sendiri. Mereka ada dan menginspirasi. Mereka ada dan tanpa disadari menjadi alasan mengapa saya harus tetap tersenyum menjalani hidup. Mereka adalah sumber kekuatan. Mereka, termasuk Pencipta, semesta, bahkan sosok yang masih dalam angan.

Pemahaman tentang cinta yang universal mampu melunturkan ego. Lagu kelima pun dipilih. “Bisikan doa di tengah alam.” Penggalan lirik yang menjadi kata kunci.

Dialog Dini Hari merupakan grup musik asal Bali, Pulau Seribu Pura yang mampu menyajikan pengalaman spiritual. Sedangkan Dieng, dikenal sebagai Negeri Para Dewa dengan karakteristik yang sama. Apakah ini pertanda adanya benang merah di antara keduanya?

Saya mengaku. Tidak semua momen #solotrip direkam. Banyak faktor yang memengaruhi. Salah satunya, keterbatasan gerak. Saya ingat betul. Dari awal, saya sudah wanti-wanti kepada diri sendiri untuk merekam prosesi pencukutan rambut gembel. Nyatanya, saya lebih fokus memotret. Bukan merekam. Kondisi di lapangan tidak memungkinkan. Apalagi, “Kamera standby. Jangan sampai melewatkan momen. Ambil foto untuk artikel” terus melintas di pikiran. Begitulah. Meski sudah niat berlibur, tetap saja memikirkan hal lain. Alhasil, tombol record hanya sebentar ditekan. Sayang sekali.

Jakarta-Dieng-Yogyakarta. Tiga kota yang dilintasi dalam lima hari. Belum sempat video disunting, saya mendapat kabar kalau akan pergi ke Bali pada medio September yang lalu. Ya, bukan untuk urusan liburan. Awalnya, saya berharap sudah bisa pulang pada malam hari-tepat usai acara-ketimbang esok pagi karena raga sudah lelah. Tetapi, semua berubah ketika mendapat kejutan. Saya malah bersyukur.

Usai acara, saya menghubungi cah Fisip UAJY cabang Bali. Saya diajak menonton Dialog Dini Hari dalam rangka ulang tahun Antida Sound Garden, Pesta di Halaman Rumahku. Meski lokasinya harus ditempuh dalam waktu 1 jam dari tempat penginapan, saya tetap meluncur ke Jalan Waribang 32, Kesiman. Terima kasih, Antida Sound Garden. Berkat perayaan ulang tahunmu, saya bisa menonton Dialog Dini Hari. Menggenapi video ini. Sukses selalu untuk orang-orang yang ada di baliknya.

Terima kasih banyak untuk Mba Natnat. Adegan berdendang waktu itu benar-benar di luar dugaan. Tadinya, saya menganggapnya sebagai kebetulan. Tapi, terlalu jahat. Saya tak mau menyangkal rencana Tuhan. Malam itu (20/9) adalah kejutan yang super menyenangkan. Yeay!

Bonusnya, bertemu dengan Mba Ike, plus acara makan malam bersama Mba Lala, bung Toink, serta dua kawan mereka. Gusti pancen penuh kejutan. Terima kasih, Semesta. Sitimewa-nya Jogja memang sampai ke mana-mana. Eh.

Inilah video hore saya. Jika gambar kurang berkenan, musiknya masih bisa dinikmati, kok🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s