Surat untuk Om

Hari ini aku meminjam kebaya milik Mama yang sudah diperbesar sedikit. Kebaya polos tanpa riasan brokat. Warnanya krem, berpadukan rok panjang bermotif batik. Kebaya yang sempat diniatkan untuk dipakai saat seorang kawan menikah dua tahun silam. Sayangnya, aku justru tidak bisa hadir. Pagi ini kuberikan kesempatan kepadanya lagi.

“Sudah siap? Aku sudah di lobi hotel ya…” Notifikasi Whatsapp memanggil. Lebih cepat dari yang kuprediksikan. Pukul 07.00 WIB. Tidak seperti biasanya kau bisa bangun pagi.

Ini kedatanganku yang pertama pada tahun ini. Tapi, bukan untuk pertama kali aku menyambangi kotamu. Sudah sejak delapan tahun yang lalu. Tak melulu pula kita bertemu. Tergantung keputusan waktu.

“Rapi banget. Acaranya besok, bukan sekarang,” katamu sembari memperhatikan tangan kananku yang sibuk mengurusi rok agar tidak terjepit pintu mobil.

“Hehehe… Iya, aku tahu.” Sudahlah, ini hari spesial bagiku. Kau saja yang tak menganggapnya istimewa. Kaos oblong hitam bergambar band kesayangan yang kerahnya sudah mulai terkikis masih saja kau pakai. Jadi ingat perkataan ibumu yang pernah memintaku agar bisa mengingatkan si anak lanang kalau sudah jatuh cinta pada satu baju. Tapi, bagaimana mungkin aku menjadi “alarm”. Aku pun masih suka begitu, kecuali hari ini.

“Kira-kira, Bapak mengenaliku, ndak ya?” Aku berusaha menyembunyikan rasa antusias, tetapi tetap saja gagal.

“Nanti kita lewat jalan pintas saja agar sampai lebih cepat…” Lebih gagal lagi, kamu tidak menjawab pertanyaan, malah mengalihkan pembicaraan. Ini sebenarnya hal biasa, harusnya bisa kuprediksi dari awal.

Tak ingin mendapatkan respons ajaib lainnya, aku lebih memilih untuk membayangkan wajah bapakmu. Empat tahun yang lalu, aku memintamu agar dikenalkan, tapi kau selalu saja mengalihkan pembicaraan. Hingga aku menyerah dan kau malah memberikan ajakan. Tanpa penjelasan dan alasan.

Sudah tak ingat lagi parasnya seperti apa. Aku melihatnya empat tahun lalu, di ruang tamu rumahmu. Ia berdiri mendampingi ibumu. Cukup sekilas, tak berani mendekat. Seperti apa Bapak? Apakah sangat idealis sepertimu? Cuek? Punya ego besar? Kata Mama, semua pria itu egois. Atau, Bapak…

“Kita sudah sampai…”

Aku menghela napas panjang. Lamunan sirna, berganti degdegan.

“Enggak usah tegang. Biasa saja.” Memang. Sepertinya, tidak ada keistimewaan sedikit pun bagimu.

“Hehehe… Iya. Padahal, acaranya besok ya?” Bukankah tidak apa-apa jika aku mencicilnya mulai hari ini? Biarkan degup jantung berderu tak keruan hingga kelak menemukan iramanya kembali.

“Lingga, kenalkan. Ini Bapak, orang yang ingin kau temui sejak empat tahun yang lalu. Maaf, aku baru bisa mengenalkanmu sekarang. Silakan jika ingin bercakap-cakap. Aku menunggumu di belakang,” kau melangkah mundur. Memberi waktu untuk kami berdua.

Degup makin tak keruan. Seolah-olah kawanan kuda liar Sumbawa sedang berpacu dalam arena balap di keempat ruang jantungku. Samar-samar bayang paras bapakmu berbaur dengan wajahmu. Selintas pula ada senyum ibumu.

“Ha-halo, Om…” Sapa yang terbata-bata. Permulaan yang mungkin tidak baik. Aku memejamkan mata, menghela napas perlahan-lahan. Lebih mendekat dengannya.

Kukendalikan degupku. Aku berusaha. Ketenangan membuatku lebih banyak bicara. Mungkin, sudah terlalu banyak tanya yang kupendam selama bertahun-tahun. Sebelum lupa, kukeluarkan surat dari tote bag. Semalam kau berpesan agar aku sebaiknya menulis surat. Ceritakan apa yang ingin diceritakan. Tanyakan apa yang ingin ditanyakan. Inilah cara yang biasa kau lakukan. Aku menurutimu.

Surat untukmu, Om...

Surat untukmu, Om… (Jika terlihat buram, ini memang disengaja)

***

“Siapa dia? Mengapa Bapak harus mengenalnya? Pertanyaan itu pernah ia lontarkan pada 11 tahun yang lalu, sesaat sebelum Bapak ke surga. Sejak itu pula, aku tak pernah mengajak siapa-siapa ke pusaranya karena tak ada alasan kuat yang bisa kujelaskan. Kamu yang pertama, Lingga.” Entah sudah berapa lama kau ada di belakangku lebih dekat. Suaramu kembali mengundang sekumpulan kuda Sumbawa berpacu. Sesak rasanya.

“La-lalu, siapa aku?”

“Bapak sudah mengenalmu. Bahkan, sejak kau gigih ingin bertemu dengannya. Empat tahun silam, saat kau mencuri-curi pandang foto keluargaku di ruang tamu. Mungkin, Bapak juga ikut pangling dengan dandananmu hari ini. Iya, kan Pak?” Kau mengusap nisan Bapak, melemparkan senyuman.

Kau dan Bapak seolah-olah saling bertatapan, menguatkan ikatan. Oh, Tuhan, rasanya aku kehilangan kekuatan untuk bersimpuh. Lututku lemas, bukan lelah. Masih ada semangat untuk besok pagi. Itu yang kuyakini.

“Sudah selesai? Aku harus mempersiapkan acara besok pagi.”

“Kinan?”

“Dia baru bertemu Bapak besok pagi sebelum kami misa pemberkatan pernikahan.”

“Mengapa?”

“Karena kau yang pertama kali membuatku lebih mengenal aku. Kau datang jauh lebih dulu. Kau menemani jauh lebih lama.”

“Mengapa Kinan?”

“Karena aku selalu berpikir, tak pernah bisa menyeimbangi kebaikanmu, Lingga. Aku memilihnya.”

“Kamu salah,” aku masih berdiri di depan rumah Bapak yang baru. Kau sudah melanjutkan langkah.

“Iya, aku salah. Semoga hari ini bisa menebus kesalahanku. Menjadikanmu sebagai orang yang pertama di depan Bapak. Bapak ingin bertemu denganmu lebih dulu. Semalam, ia mengacaukan mimpiku,” langkahmu lalu terhenti. Ucapan lirihmu tak diiringi dengan palingan wajah ke arahku. Tak sedetik pun. Bodohnya aku. Ini bukan FTV yang bisa berakhir menyenangkan. “Entahlah. Aku kacau, Lingga. Beri aku ketenangan sama seperti tahun-tahun sebelumnya.” Langkahmu kembali maju. Kau terburu-buru. Besok, kau menempuh hidup baru. Ini sudah putusan waktu. Bukan, ini keputusanmu.

Jika waktuku lebih lama, aku ingin bermalam di sini. Bersimpuh dan memeluk pusaramu sepanjang malam, Bapak. Maaf, aku tak lagi gigih. Aku sedih.

#np Di Beranda – Banda Neira

—————–

Pernahkah ada rasa ingin bertemu kepada sosok yang belum pernah dikenal dan ditemui sebelumnya? Saya pernah. Cerita fiksi ini saya persembahkan untuk mendiang ayah dari seorang kawan. Cerita yang sebenarnya sangat sangat sangat ingin ditulis sejak Agustus silam. Secara nonfiksi, saya telah membuat surat kepadanya dan dihantarkan dalam pementasan #SuratkeLangit oleh Papermoon Puppet di Salihara, Jakarta (27/9). Terima kasih telah menggenapkan sapaan. Ya, ini bukan kebetulan. Semoga Om membacanya. Salam kenal, Om🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s