Anak-anak, Sang Guru Inspiratif

“Siapa yang suka nonton televisi?”
“Saya…”
“Siapa yang suka nonton Ganteng-ganteng Serigala?”
“SAYAAAAAA…!”
“Nah, kalau lagi nonton, paling kesel kalau lagi ada apa? Lagi seru banget, eh tiba-tiba kepotong…”
“IKLAAAN…!”
“Nah, kakak ini yang suka bikin kalian kesel. Kakak bekerja sebagai penulis iklan. Tapi, penulis iklan di media cetak. Seperti apa ya itu? Nanti kita bakal cerita-cerita ya…”

Semoga bukan awal yang buruk saat apel pagi bersama adik-adik SDN 05 Pagi Grogol Utara. Sebuah inisiatif spontan saat harus memberi kata pengantar sembari mengenalkan nama. Ganteng-ganteng Serigala dicatut, padahal relasinya masih sangat jauh. Mau bagaimana lagi. Saya bingung setiap kali diajak sharing profesi. Menjelaskan tugas penulis iklan-dalam ranah media cetak-kepada orang dewasa saja membutuhkan waktu, apalagi kepada anak-anak. Pertemuan dengan mereka barangkali tidak akan pernah terjadi jika saya tidak mendaftar menjadi relawan dalam Inspirasi KG pada 21 Agustus 2014.

Ya, momennya memang sudah lama terjadi. Semoga tidak ada pembelajaran yang terlambat dari pilihan yang setengah nekat ini. Nekat karena saya tidak cukup percaya diri untuk berbicara di depan anak-anak. Takut menjadi pribadi yang menyebalkan, takut terlihat kaku, takut takut takut dan takut… Namun, segala ketakutan saya coba tenangkan dengan tekad awal: berbagi.

Apel pagi di SDN 05 Pagi Grogol Utara. | Foto: Desti

Apel pagi di SDN 05 Pagi Grogol Utara.

Inspirasi KG merupakan program Kompas Gramedia (KG) yang terinspirasi dari Kelas Inspirasi milik Indonesia Mengajar, melaksanakan gerakan profesional turun ke sekolah-sekolah dasar selama sehari. Seluruh karyawan KG diajak untuk berbagi cerita, pengalaman kerja, serta memotivasi adik-adik demi meraih cita-cita.

Tema Inspirasi KG angkatan pertama yang saya ikuti adalah “Berbagi Cerita, Tumbuhkan Cita-cita”. Kali ini, lokasinya cukup sekitar kawasan Palmerah, Grogol, dan sekitarnya. Setiap satu tim yang akan mengajar satu sekolah terdiri atas 10 orang.

Saya bukan orang yang lihai ketika berbicara di depan anak-anak. Makanya, saya selalu salut kepada orang-orang yang cepat mengakrabkan diri dengan anak kecil. Selalu senang melihat orang dewasa yang bisa menjadi teman bermain bagi anak-anak.

Sebelumnya, saya pernah mengisi sesi sharing tentang menulis di depan adik-adik SMP dan SMA Sekolah Lentera Harapan (SLH) Sekampung, Lampung Timur. Akan tetapi, setiap anak punya karakter yang berbeda-beda. Usia, latar belakang keluarga, tempat domisili, dan aspek-aspek lainnya. Alhasil, saya kembali memutar otak ketika mendapat tugas mengajar kelas 1 dan 3 di SDN 05 Pagi Grogol Utara.

Apa yang harus saya lakukan supaya tidak “krik-krik” di depan mereka? Sama seperti curhatan sewaktu berada di SLH, saya memohon petunjuk kepada teman yang lebih berpengalaman. Kali ini, pilihannya jatuh kepada bung Ardi Wilda alias Awe. Laki-laki beraliran sidekick ini alumni Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar. Saya langsung meminta tips dan trik, H-1. Hahaha. Waktu persiapan selama seminggu yang diberikan pun akhirnya dihantam dengan semangat proyek Roro Jonggrang.

Perlengkapan mengajar yang baru 80 persen selesai disiapkan, padahal kurang dari tiga jam sudah harus berangkat untuk apel pagi. Beruntung, masih ada waktu menyelesaikannya di kantor sembari menunggu rombongan. Terima kasih, Bung Awe atas pencerahannya.

Perlengkapan mengajar yang baru 80 persen selesai disiapkan, padahal kurang dari tiga jam sudah harus berangkat untuk apel pagi. Beruntung, masih ada waktu menyelesaikannya di kantor sembari menunggu rombongan. Terima kasih, Bung Awe atas pencerahannya.

Ajaib
Kegiatan mengajar tidak sesuai dengan rencana. Saya bersama satu rekan relawan, Mas Bayu, dari majalah National Geographic Indonesia tidak jadi mengajar kelas 1 SD. Ternyata, kelas tersebut sudah dipulangkan sebelum jadwal kami mengajar. Sedih.

Awalnya, kami akan mengisi kelas dengan berbagai aktivitas. Mas Bayu sudah menyiapkan lembar aktivitas agar adik-adik bisa menghubungkan titik-titik hitam hingga membentuk gambar utuh. Sementara saya, sudah ada tumpukan koran edisi bendera merah putih yang siap digunting dan ditempel. Ada juga pohon cita-cita yang siap menuai buah cita-cita adik-adik. Tapi, apa mau dikata. Sembari menunggu jadwal mengajar pada jam terakhir, saya berkeliling sekolah dan membantu tim relawan lainnya yang sedang mengajar.

Salah satu relawan sedang mengenalkan profesinya sebagai reporter Kompas TV kepada salah satu murid kelas VI.

Salah satu relawan sedang mengenalkan profesinya sebagai reporter Kompas TV kepada murid kelas VI.

Anak-anak sekarang bukanlah seperti saya ketika anak-anak dulu. Seorang relawan cukup terkejut dengan jawaban salah satu murid ketika ditanya tentang menabung. Menabung buat apa? Buat nikah, kak.

Sewaktu jam istirahat, saya bertemu dengan salah satu murid yang asyik bersandar. “Saya mah enggak mau jadi apa-apa. Yang peting, saya jadi orang kaya.” Lalu, ada hal lain yang membuat saya terperangah. Beberapa di antara mereka justru membicarakan soal ketidakharmonisan dalam keluarga, perkara kawin-cerai. Ini jauh dari haha-hehe yang saya alami pada 16 tahun silam.

Baiklah. Keajaiban bermuara di sini. Tingkah mereka ajaib, kisah mereka ajaib. Saya menanti keajaiban-keajaiban selanjutnya, semesta. Saya membatin, menenangkan diri. Bagaimana pun, saya hanya punya satu kesempatan mengajar. Berharap bisa menginspirasi, bukan menyesatkan.

Memasuki ruang kelas 3. Beruntung, saya ditemani oleh Narita, teman semasa seragam putih-merah yang kini berprofesi sebagai jurnalis di Kontan. Saya jadi agak tenang jika ingin meminta bantuan. Ah, baru sadar. Kami adalah kawan satu sekolah dasar yang pernah mengajar adik-adik SD bersama.

Kartu sinyal
Belajar itu seperti bermain, menyenangkan. Sebelum memulai lebih jauh, saya mengenalkan kartu kuning dan kartu merah. Saya memodifikasi saran Bung Awe tentang sinyal lampu lalu lintas. Saya menghadirkannya dalam bentuk kartu. Cara ini dipakai untuk menyiasati ketika kelas sudah mulai ribut.

Ketika kartu merah dikeluarkan, adik-adik tepuk tangan sekali. Ketika kartu kuning dikeluarkan, adik-adik tepuk tangan dua kali. Ketika kartu hijau dikeluarkan, adik-adik tepuk tangan tiga kali. “Itu lebih efektif daripada kamu nyuruh diam. Oh, iya sinyal lampu lalu lintas enggak bisa dipakai kalau kelas 1 dan 2. Soalnya, mereka belum paham,” begitu pesan Bung Awe. Kartu sinyal pun berhasil mencuri perhatian mereka ketika mulai tak terkendali. Beruntung pula saya mengemasnya dalam kartu karena suara perlahan-lahan mulai habis.

Kartu senyum
Visual memudahkan anak-anak lebih cepat memahami. Visual itu menyenangkan. Ya, 70 hingga 80 persen manusia lebih cepat menyerap informasi dalam bentuk visual.

Saya ingin memberikan apresiasi bagi adik-adik yang aktif bertanya atau menjawab pertanyaan. Tidak perlu berlari-larian di dalam kelas, tidak berdiri di atas meja, tidak menggebrak meja. Ada reward and punishment. Awalnya, hanya ada ide membuat bintang sebagai reward. Bung Awe mengenalkan model sticky note ber-emoticon.

Reward and punishment mengajarkan adanya kompetisi. Saya menggunakan sticky notes merah muda bergambar emoticon senyum (reward) dan kertas biru bergambar raut cemberut dengan air mata (punishment). Sticky note ini disematkan di dada mereka.

Pada saat kami menyanyikan yel-yel, salah seorang murid “bertepuk meja”, bukan bertepuk tangan. “Ngeeeeenggg… Kartu biru melayang, deh ke kamu. Kita bertepuk tangan, bukan bertepuk meja.” Lalu, ada pula yang naik ke atas kursi. Kartu biru pun melayang di tempat lain.

“Aku mau kartu yang pink, dong kak…” seru murid lainnya ketika kartu merah muda diberikan kepada temannya yang berani menjawab pertanyaan.

Iklan pisang
“Kakak punya pisang dari Ibu. Sebagiannya mau kakak jual ke Kak Narita. Tapi, Kak Narita enggak suka pisang. Ada yang mau bantuin kakak jualan pisang? Kasih tahu ke Kak Narita kalau pisang itu banyak manfaatnya. Mau bantu kakak?”

“MAUUUU…” Merinding juga. Mereka sangat antusias diajak jualan pisang. Semoga analogi yang dipakai tidak menyesatkan.

Sangat sulit jika harus menjelaskan kepada mereka tentang tugas penulis iklan di media cetak adalah membuat supporting article untuk brand milik klien, advertorial, atau liputan untuk konten bebas. Membuat iklan pisang jadi pilihan yang saya pakai untuk mendekatkan mereka dengan dunia iklan. Cara ini terinspirasi dari Mba Sumi yang sempat mengajak anak-anak Yayasan Sayap Ibu Cirendeu mengiklankan pensil saat mengenalkan profesinya sebagai copywriter. Saya memilih pisang sebagai obyek karena itu yang terpikirkan pada H-1. Hahaha…

Satu kelas dibagi dalam 8 kelompok, masing-masing 5-6 murid. Mereka mendapatkan satu karton tebal ukuran 30 x 30 cm serta potongan-potongan kertas bergambar pisang, awan (entah mengapa selalu senang dengan obyek ini), anak perempuan bermain sepatu roda, anak laki-laki, matahari, kera, dan beberapa kata sifat. Awalnya, saya ingin membuat puzzle, tapi kemampuan tidak ada. Sempat terpikir juga membawa papan yang licin dan gambar-gambar tersebut diprint di kertas sticker. Sayangnya, waktu yang tidak ada untuk mengurusnya. Alhasil, kembali pada cara manual. Mereka harus menggunting dan menempel gambar yang ada. Mereka juga harus memilih tiga kata positif yang memiliki asosiasi dengan pisang.

“Kamu suka pisang? Kenapa kamu suka pisang? Nah, nanti kasih tahu ke Kak Narita ya… biar dia mau makan pisang,” saya coba menjelaskan kepada salah satu kelompok saat mereka harus memilih tiga kata dari sekian banyak pilihan kata yang disediakan. Iya. Saya ini orangnya ribet banget.

Puji Semesta, mereka sangat sangat mau repot. Mereka paham atas arahan yang diberikan. Pada sesi ini, saya berterima kasih kepada Narita yang juga ikut membantu mengarahkan.

Meski saya menyediakan gunting dan lem yang terbatas, mereka mau bergantian. Mereka pun mau diajarkan “menggunting” dengan penggaris (maafkan kakak ya, adik-adik). Bahkan, mereka mengembalikan semua peralatan yang telah dipinjamkan. Orang dewasa saja sulit mengembalikan pulpen milik orang lain. Hehehe…

Ini, nih. Ajaran saya. Menggunting dengan penggaris :p

Ini, nih. Ajaran saya. Menggunting dengan penggaris :p

“Kelompok yang sudah selesai pertama kali bisa taruh karyanya di depan. Jangan lupa kembali ke tempat duduk semula, lalu sampah-sampahnya dibersihkan. Duduk yang manis.” Mereka masih ingat kalau ada kartu senyum dan kartu cemberut yang bisa mendarat tiba-tiba.

“Yak. Waktunya habis. Kakak punya mahkota Jagoan Iklan, nih. Siapa yang mau?”
“SAYAAAAAAA…”
Narita membantu memilihkan satu iklan pisang terpilih. Terdengar seruan kekecewaan dari kelompok lain yang tidak mendapatkan mahkota. Tenang, adik-adik. Semua karya yang telah dibuat tidak ada yang salah. Semuanya ajaib. Kalian istimewa.

Narita bersama kelompok 6 pembuat iklan pisang terpilih. Mereka mendapatkan mahkota Jagoan Iklan dan bintang. Kata yang telah dipilih adalah “enak”, “sehat”, dan “bergizi”. Hasil karya pun bisa dibawa pulang.

Mereka mengapresiasi
“JANGAN, sekali lagi JANGAN kasih tahu siapa yang paling banyak cemberutnya. Si anak akan sadar sendiri, kok dan itu sudah akan membuat dia merasa buruk. Jadi, jangan diperparah dengan dipermalukan lagi,” pesan Bung Awe yang terus saya ingat selama di kelas.

Jelang akhir perjumpaan, saya malah bertanya kepada mereka siapa yang memiliki kartu merah muda terbanyak. Satu nama disebut. Dia berhak mendapatkan mahkota kebaikan. Lalu, masih ada satu mahkota lagi.

“Siapa yang mau mahkota kebaikan?”
“SAYAAAAA…”
“Duduk yang manis dulu. Kakak hitung sampai 10….”
Hitungan kesepuluh sudah selesai. Mereka manis sekali kalau sedang anteng. Hehehe… Saya masih belum memilih. Saya meminta bantuan kepada salah satu murid yang paling usil untuk merekomendasikan teman lain yang pantas mendapatkan mahkota kebaikan.

“Pssstt… pssttt… aku, dong…” Hihihi… ada yang melirik supaya dipilih.

Giliran saya sudah selesai. Rekan relawan lainnya mengajak adik-adik menulis surat kepada orangtua. Mereka bercerita tentang cita-cita masa depan. Kelak, surat tersebut akan diberikan kepada orangtua murid pada saat pembagian rapor.

Ini dia salah satu anggota kelompok yang mendapatkan mahkota JAGOAN IKLAN. Yeay!

Ini dia salah satu anggota kelompok yang mendapatkan mahkota JAGOAN IKLAN. Yeay!

Antre memasukkan surat ke dalam boks.

Antre memasukkan surat ke dalam boks.

Adik-adik SDN 05 Pagi Grogol Utara benar-benar mengusir kantuk saya. Saat keluar kelas, mereka justru meminta sticky notes yang saya buat. Tentu saja, warna merah jambu yang paling banyak diminta. Tanpa disadari, mereka justru mengapresiasi hal sederhana yang telah saya buat. Bagi saya, itu sekadar coretan di Post-it biasa. Bagi mereka, hal itu sungguh menyenangkan. Cukup menyesal tidak membuat banyak kartu senyum.

Pagi dibuka dengan apel bersama. Perjumpaan pun ditutup dengan kebersamaan. Adik-adik menuliskan nama dan cita-cita di balon. Kumpulan cita-cita itu didoakan, dilepaskan, dibiarkan mengangkasa. Semesta turut menjamahnya.

***

“Daaaa, kakak penulis iklan…” salah satu murid perempuan melambaikan tangan sebelum saya benar-benar keluar dari pintu gerbang sekolah. Wow. Ada yang ingat dengan “penulis iklan”. Tidak sia-sia harus mengandalkan Ganteng-ganteng Serigala sebagai jembatan di awal perjumpaan.

Sungguh menyenangkan bisa belajar dan bermain bersama dengan adik-adik SDN 05 Pagi Grogol Utara. Mereka bisa saja membuat kami jengkel dan kewalahan, tetapi tidak ada kebencian dan dendam. Bahkan, mereka mampu membuat kami merindukan momen-momen itu. Terima kasih telah mengapresiasi. Terima kasih telah menginspirasi, adik-adik🙂

*Terima kasih untuk Narita yang telah mengingatkan melalui postingan milikmu.

7 thoughts on “Anak-anak, Sang Guru Inspiratif

    • Suwun, Petra… Wah, menyenangkan. Bernyanyi juga salah satu cara belajar yang asyik. Semoga dirimu juga bisa terus berbagi dengan adik-adik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s