Mengenal OPRAH, Belajar Banyak dari Anak-anak

Saya selalu percaya cara kerja semesta yang menerapkan konsep perpanjangan tangan, termasuk dalam urusan pertemanan. Berkat A, saya bisa mengenal B, lalu berteman dengan C, dan begitu seterusnya. Inilah yang saya rasakan ketika mengikuti program sOcial Project of RAbbit Hole (OPRAH), bermain sekaligus belajar dengan adik-adik Yayasan Sayap Ibu Cirendeu.

OPRAH merupakan proyek sosial dari Rabbit Hole, sebuah jasa pembuatan buku anak dengan cerita yang bisa dirikues sesuai pemesan (customised). Proyek ini bertujuan untuk membuat buku secara gratis. Selain itu, ada juga kegiatan relawan profesi yang akan bercerita kepada anak-anak. Cerita tersebut juga akan dimuat sekaligus dibagikan agar mereka selalu ingat dan bersemangat meraih cita-cita. OPRAH diinisiasi oleh seorang psikolog anak bernama Mba Devi Raissa selaku pemilik Rabbit Hole.

2 Maret
Perkenalan pertama saya dengan Yayasan Sayap Ibu Cirendeu serta Mba Devi terjadi pada saat acara puncak OPRAH dengan kegiatan sharing profesi. Beberapa hari sebelumnya, Mba Sumi (dikenal juga dengan nama Asti), salah satu teman cubicle, membekali saya dengan tautan ini. Menjadi jawaban sekilas dari pertanyaan: saya akan bertemu siapa saja? Melakukan apa saja? Untuk apa?

Yayasan Sayap Ibu Cirendeu mengenalkan saya kepada enam anak laki-laki yang mulai beranjak remaja (11–13 tahun). Vikri, Jaya, Joni, Oki, Mulya, dan Akbar. Mereka memiliki kondisi yang berbeda. Dua di antaranya mengalami tuna rungu dan tuna grahita, ada pula anak yang memiliki tingkat intelegensi rata-rata, sedikit di bawah rata-rata, dan di atas rata-rata. Pada usia 18 tahun, mereka harus lepas dari panti asuhan tersebut karena telah dianggap dewasa. Maka dari itu, Mba Devi dan Mba Sumi mengajak siapa pun turut memberikan bekal agar mereka semakin mematangkan diri.

Satu hal yang membuat saya tersentil adalah adanya prinsip pemberdayaan. Ya, Mba Devi tetap ingin melibatkan adik-adik. Mereka menjadi subyek, tetap bergerak aktif dan mandiri demi kebaikan mereka sendiri. Inilah prinsip yang kerap dilupakan oleh siapa pun, termasuk saya.

Berkat Mba Sumi, saya mengenal Mba Devi, orang yang juga bersedia berkolaborasi dalam proyek #ceritauntukIndawa. Berkat Mba Devi, saya mengenal Kak Fadhli, Kak Febry, Kak Lila, Kak Rasyid, Kak Sella, Kak Selly, dan Kak Agung. Cerita kakak-kakak yang ikut sharing profesi telah dirangkum dalam buku Menggapai Mimpi.

Agustus
Setelah pertemuan pertama, berlanjut hingga pertemuan kedua, dan ketiga. Kali ini, giliran saya yang “ditantang” untuk memberikan sesuatu kepada adik-adik. Sama seperti waktu mengikuti Inspirasi KG, lagi-lagi ada keputusan yang sedikit nekat. Di antara pilihan membuat tie-dye, kerajinan tangan dari kertas, dan clay, akhirnya pilihan terakhir yang dilakukan. Yap. Membuat clay.

Sejujurnya, saya belum pernah membuat prakarya dari clay sama sekali. Jadi, bakal ada trial and error. Saya mulai browsing jenis-jenis clay yang cocok untuk anak-anak, YouTube-ing tutorial tentang clay, dan mempelajari campuran warna. Tak kalah penting, mencari-cari informasi lokasi toko yang menjual clay.

Saya membelinya di salah satu toko kerajinan tangan di Supermall Karawaci, mal dekat rumah. Menurut informasi dari penjaga toko, clay biasanya dijual dalam bentuk adonan dan dibungkus oleh kantong kedap udara. Hanya ada warna-warna dasar yang dijual. Alhasil, pembeli harus lihai mencampurkan warna-warna dasar untuk menghasilkan warna sekunder. Kembali mengingat pelajaran sewaktu duduk di bangku sekolah. Kesulitannya, kita harus memiliki takaran yang sesuai. Untuk menghasilkan warna kuning cerah, seberapa banyak adonan merah dan biru yang harus dicampurkan? Bagi saya yang masih amatir, hal tersebut cukup membuat keringetan.

Kala itu, saya mengatakan tujuan membeli clay sejujurnya kepada sang penjaga toko. Ia merekomendasikan warna merah, biru, hitam, dan putih. Satu warna cukup satu kantong. Adonan tersebut cukup untuk enam anak. Sisa adonan dapat disimpan kembali ke dalam kantong asalkan ditutup rapat. Jika ingin dimainkan lagi, cukup diteteskan sedikit air. Jenis clay sangat beragam. Jenis yang baik untuk anak-anak adalah jumping clay. Sifatnya tidak lengket di tangan dan berbau. Setelah dibentuk, clay akan lekas mengering tanpa harus dijemur di bawah matahari. Beratnya ringan seperti gabus, tetap lentur, dan tidak pecah ketika jatuh. Berkat ikut OPRAH, saya jadi paham soal ini. Hehehe…

Lebih menyenangkan, saya justru menemukan bakat lain dari Vikri, Oki, Jaya, Akbar, Mulya, dan Joni. Mulai dari cara mencampurkan warna hingga membentuk clay sesuai imajinasi mereka. Awalnya, saya ingin kompak membuat obyek tentang sepak bola sesuai kegemaran mereka. Akan tetapi, imajinasi dan selera pasti akan berbeda. Jadi, dibebaskan saja. Hasilnya? Ajaib. Ada yang membuat tulisan band favorit, pemain sepak bola beserta gawang, tim sepak bola favorit, sepatu olahraga kece, kue cantik, bahkan semangat ke-Indonesia-an yang berbhineka.

Inilah karya adik-adik🙂

Di pertemuan ini, saya senang karena bisa mengajak teman-teman kampus, Kak Monic dan Kak Ana (alias Abul). Terima kasih ya sudah bersedia datang. Terlebih lagi, mereka berdua membantu membuatkan bola yang sangat detail. Ciamik. Berharap, teman-teman lainnya juga bisa ikut berbagi. Cerita lengkapnya bisa dilihat di catatan Rabbit Hole. Mba Devi berusaha untuk konsisten untuk berkunjung sebulan sekali ke Yayasan Sayap Ibu Cirendeu. Kami mengisi dengan berbagai kegiatan yang berguna bagi adik-adik. Salut dengan tekad yang ia miliki. Tak mudah menjaga semangat untuk terus berbagi. Ditambah lagi, mengajak orang lain ikut berbagi. Ya, Mba Devi, Mba Sumi, dan saya tidak bisa bergerak sendiri. Perlu perpanjangan tangan lebih banyak lagi.

23 November
Setelah mengajak adik-adik membuat clay, saya kembali menyapa Oki dan kawan-kawan pada November silam. Keren. Ternyata, mereka telah dibekali alat-alat musik dan memiliki jadwal latihan band. Luar biasa. Satu lagu berjudul “Ayah” dari Rinto Harahap pun sudah dikuasai. Ingin rasanya segera lihai bermain ukulele supaya bisa berkolaborasi dengan mereka. Semoga kesampaian.

Oki sang penggemar Noah juga meminta para pengajar memainkan lagu “Separuh Aku”. Dengan semangat, ia memainkan drum sembari dipandu. Dengan adanya alat musik dan jadwal latihan, keahlian mereka semakin bertambah. Mereka juga bersedia untuk bergantian memegang alat musik meski beberapa temannya telah menemukan minat pada alat musik tertentu.

Sejak kunjungan pertama hingga terakhir, banyak perubahan positif yang terlihat dari Oki, Jaya, Vikri, Akbar, Mulya, dan Joni. Satu sama lain mulai bisa saling mengingatkan teman yang tidak fokus mendengarkan orang lain yang sedang berbicara. Mereka aktif bertanya dan mengutarakan imajinasi kepada kakak-kakak pada saat sesi sharing profesi. Mereka juga semakin menunjukkan ketertarikan pada dunia kreatif, entah itu soal audio-visual, teknologi, maupun internet.

Segala perubahan positif tentu lebih dirasakan Mba Devi, Mba Sumi, dan kakak-kakak lain yang lebih dulu bermain dengan mereka. Bersama adik-adik Yayasan Sayap Ibu Cirendeu, saya justru belajar banyak, banyak belajar. Terima kasih, Semesta🙂

*Cerita tentang kunjungan pada Desember bisa dibaca di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s