OPRAH: Mengenal Internet dengan Bijak

Lokasinya di Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cirendeu, dekat Terminal Lebak Bulus. Nanti dikasih ancer-ancernya, deh. Nah, nanti kita bakal ketemu enam anak dengan keterbatasan dan kondisi berbeda. Mereka paling suka pinjam ponsel untuk foto-foto atau rekam video. Ya, selayaknya fotografer atau videografer lihai, gitu. Setiap ada kakak-kakak yang baru pertama kali berkunjung, biasanya diajak sharing singkat soal profesi. Singkat. Santai saja. Inilah gambaran sekilas yang saya lontarkan setiap kali ada teman yang ingin menyapa Oki, Jaya, Vikri, Akbar, Mulya, dan Joni.


7 Desember 2014. Kami berusaha menggenapi rencana kunjungan sebulan sekali. Saya jadi ingat ujaran Mba Like, salah satu penggiat Ruang Baca Kota, “Menjalani suatu kegiatan sosial atau komunitas bukan soal maksimal, tapi konsisten. Menjalaninya maksimal tapi hanya sekali jalan, ya sama saja.” Deg. Saya sepakat. Perlu adanya konsistensi, keberlanjutan. Cerita tentang keseruan OPRAH yang pernah saya ikuti bisa disimak di sini.

Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini saya datang pada sore hari. Saya berhasil mengajak teman SMA, Antonius Tan, untuk ikutan. Terima kasih ya Anton yang sudah ikut bertualang (sekaligus “olahraga kaki”) ke Cirendeu.

Saya merasa perlu mengajak teman-teman lain karena setiap orang bisa menginspirasi siapa pun. Banyak teman yang memiliki latar belakang profesi, pengetahuan, bahkan keahlian di bidang yang berbeda-beda. Keberagaman tersebut bisa memperkaya pengetahuan dan kemampuan adik-adik pula. Maka dari itu, saya senang sekali jika ada teman yang bersedia meluangkan waktu untuk berbagi dengan mereka.

Berdasarkan informasi dari pertemuan pada November, kami mengetahui bahwa adik-adik telah memiliki dua perangkat komputer dengan akses internet. Maka dari itu, Mba Devi mengusulkan tema Berinternet Sehat untuk pertemuan bulan ini. Gagal mengajak penggiat Internet Sehat tak menyurutkan semangat kami memberikan materi sederhana kepada adik-adik. Semoga di lain kesempatan bisa kesampaian mengajak pihak tersebut untuk memberikan arahan langsung karena pastinya lebih kredibel. Poinnya, kami tidak ingin kehadiran internet membuat nilai-nilai pelajaran adik-adik anjlok.

Saya dan Anton terlambat tiba di Cirendeu. Di ruang tamu, sudah ada Mba Devi dan Mba Sumi yang berkumpul bersama adik-adik. Mereka bersiap-siap skype-ing bersama Kak Fadhli yang sedang menempuh pendidikan S2 di Belanda.

Siap-siap skype-ing dengan Kak Fadhli. | Foto: Devi Raissa

Siap-siap skype-ing dengan Kak Fadhli. | Foto: Devi Raissa

Dibimbing oleh Mba Devi, satu per satu mendapat giliran bertanya kepada Kak Fadhli. Mulai dari seputar musim, suasana di luar asrama Kak Fadhli, kondisi jalan raya di Belanda, mata uang Belanda, hingga harga mi instan di sana. Hehehe… Adik-adik juga bercerita kalau telah menerima dan membalas kartu pos kiriman Kak Fadhli yang dititipkan kepada Kak Lila. Semoga kartu pos lekas sampai ya…

Pindah ke teras. Mari cari sinyal :D

Pindah ke teras. Mari cari sinyal😀

Pak Hadi juga ikutan ngobrol via Skype. Hehehe...

Pak Hadi juga ikutan ngobrol via Skype. Hehehe…

Setelah asyik ber-skype-ria, giliran Kak Anton yang memperkenalkan diri. Ia bekerja di perusahaan riset multinasional. Tugasnya, meriset pasar produk-produk retail, kebutuhan sehari-hari yang dikonsumsi rumah tangga. Misalnya, pasta gigi, sabun, toiletries, dan sejenisnya. Setelah mendapatkan data, hasil dianalisis.

Kak Anton sedang bercerita tentang profesinya. | Foto: Devi Raissa

Kak Anton sedang bercerita tentang profesinya. | Foto: Devi Raissa

Kalau kita punya usaha pasta gigi merek A, tetap butuh informasi tentang pesaing lain. Sekali pun penjualan pasta gigi kita meningkat terus. Kita harus memantau dan mengetahui posisi produk sendiri dengan pesaing lainnya. “Supaya tetap laku, ya Kak?” salah satu dari mereka menyahut.

“Kalau mau data-datanya itu gimana?” Joni menyimak dengan serius.

“Nah, data-datanya bisa dibeli.”

“Mahal ya kak?”

“Tentunya…”

Internet asyik, asalkan…
Sebelum hari kian larut, misi berbagi informasi tentang internet sehat segera dilakukan. Tak banyak materi yang saya siapkan, padahal Mba Devi telah memberikan beberapa kisi-kisi. Karena harus menyelesaikan hal lain, maka slide presentasi sederhana yang ditampilkan. Semoga tetap bisa memberikan arahan positif.

Foto: Devi Raissa

Foto: Devi Raissa

“Siapa yang punya Facebook? Punya Wechat? Suka buka Google? YouTube? Berapa lama kalau buka Google? Berapa lama main Facebook? Jangan lama-lama ya… Ingat belajar.”

Kehadiran internet bisa membantu mereka saat mengerjakan pekerjaan rumah (PR), tapi penggunaan yang kurang bijak justru mengakibatkan efek sebaliknya. Terlalu asyik main internet jadi lupa belajar. Nilai pelajaran pun ikut anjlok. Belum lagi, kalau ada orang asing yang mengajak bertemu di dunia nyata. Lebih berbahaya.

Internet dan anak-anak. Tidak perlu harus dijauhkan secara ekstrem. Arahkan untuk hal positif, termasuk menjadikannya sebagai wadah penyimpan karya. Inspirasi pertama datang dari Mas Bukik yang sempat saya wawancarai. Ia bercerita tentang anak perempuannya bernama Ayunda Damai yang lebih memanfaatkan internet dengan membuat blog, menulis sejak usia 6 tahun.

Slide tentang blog Ayunda Damai

Slide tentang blog Ayunda Damai. Masih dengan tampilan blog lama.

Ayunda Damai senang sekali menulis. Banyak kisah seharian yang diceritakan, termasuk tentang kucing kesayangan. Blog Ayunda juga sempat saya kenalkan saat bertemu dengan adik-adik di Sekolah Lentera Harapan Sekampung, Lampung Timur. Menulis blog bisa mengasah bakat anak-anak yang gemar menulis. Hasil tulisan pun terarsip dengan baik.

Sebagai tambahan, saya juga mengenalkan akun Vine milik Arwen, salah satu buah hati dari Mas Pinot dan Mba Dita. Pencerahan ini datang berkat menyimak mereka presentasi di TEDxJakarta sehari sebelum ke Cirendeu. Ah, memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Slide tentang akun Vine milik Arwen

Slide tentang akun Vine milik Arwen

“Media sosial enggak boleh dipakai untuk narsis, selfie. Narsis-nya harus narsis karya.” Ucapan Mba Dita benar-benar mencerahkan. Benar-benar membuka sudut pandang baru, termasuk menjadi panutan jika saya menjadi orangtua kelak. Ya, bagaimana pun, orang dewasa turut menjadi penentu tingkat keamanan anak-anak saat berinternet.

“Sebenarnya, batas waktu kapan anak-anak diberikan akses main gadget atau internet itu bukan tergantung anaknya. Tetapi, tergantung orangtuanya sendiri. Sudah siap untuk membimbing dan mengawasi atau belum,” ujaran-entah-milik-siapa-ini kembali terngiang.

Joni, Vikri, Akbar, Mulya, Jaya, dan Oki benar-benar takjub melihat galeri karya milik Arwen yang berisikan video stop motion berdurasi 6 detik. Ada pula tautan kompilasinya di sini. Terlebih lagi, beberapa karya telah diapresiasi secara internasional. Saya dan kakak-kakak lainnya pun ikut tercengang. Kalau Arwen bisa, adik-adik Yayasan Sayap Ibu Cirendeu pasti juga bisa.

“Itu cara bikinnya gimana, kak?” Vikri langsung penasaran.

“Pakai aplikasi Vine. Nanti kita belajar cari tahu ya…” Duh. Saya sendiri belum pernah menggunakan Vine, apalagi menjajal membuat stop motion. Pertanyaan Vikri membuat saya ingin mengajak Arwen bisa memberikan tutorial langsung kepada mereka. Mungkinkah?

“Saya mau instal dulu ah…”

Ayunda Damai dan Arwen benar-benar bisa menginspirasi anak-anak generasi saat ini di tengah minimnya idola seumuran.

Foto: Devi Raissa

Foto: Devi Raissa

Selain memberikan contoh cara menggunakan internet sebagai wada berkarya, adik-adik juga diajak menonton video tentang internet sehat. Jujur, saya cukup kesulitan mencari video Iklan Layanan Masyarakat (ILM) buatan Indonesia yang pas untuk dikonsumsi anak-anak di bawah usia 17 tahun. Alhasil, saya hanya memperlihatkan satu video, imbauan tidak boleh berkenalan dengan orang asing.

Beberapa bulan yang lalu, saya menemukan video ILM yang dibuat oleh lembaga dari Australia yang melindungi anak-anak terhadap Cybercrime. Namun, link tersebut kembali sulit dicari. Video pun dikemas dalam bahasa Inggris. Kalau teman-teman punya link video ILM tentang internet sehat yang bisa ditonton anak-anak, silakan beritahu saya ya… Sangat membutuhkan.

Ke depannya, kami masih ingin memberikan pembekalan kepada adik-adik Yayasan Sayap Ibu Cirendeu. Tentu saja dengan cerita yang baru dari kakak-kakak semua. Mereka masih punya waktu banyak sebelum benar-benar harus keluar dari panti saat beranjak usia 18 tahun. Kita juga masih punya banyak cerita dan keseruan yang bisa dibagi kepada mereka. Berharap ada perpanjangan tangan selanjutnya yang bersedia untuk berbagi dan menginspirasi. Saya selalu percaya, siapa pun bisa menginspirasi siapa saja🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s