Ruwatan Rambut Gembel, Kekayaan Tradisi Dieng

Tujuh anak perempuan duduk di kawasan Candi Arjuna yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, pada Minggu (31/8) pagi. Mereka berpakaian putih dan berkain batik. Kain mori putih menjadi ikat kepala. Mereka merupakan anak-anak berambut gembel—sering juga disebut anak bajang—yang bersiap menjalani ritual pencukuran.

Orang awam barangkali lebih familier dengan istilah gimbal. Namun, penduduk lokal Dieng mempunyai alasan tersendiri dengan penyebutan gembel. Pemilik rambut gembel menyerupai gelandangan yang tidak pernah mencuci rambut. Hal ini tidak berdasarkan pada faktor keturunan, tetapi memang hanya bisa tumbuh alami pada anak-anak Dataran Tinggi Dieng. Kemunculan rambut gembel akan disertai demam tinggi serta mengigau pada waktu tidur. Gejala ini tidak dapat diobati secara medis hingga akhirnya akan tumbuh normal dengan sendirinya. Rambut sang anak pun menjadi kusut dan menyatu.

Menurut kepercayaan penduduk setempat, apabila rambut anak gembel hendak dicukur, harus melalui prosesi ruwatan yang sakral. Tradisi yang masih terus dipertahankan ini menjadi acara puncak dari gelaran Dieng Culture Festival (DCF) yang berlangsung pada 30–31 Agustus 2014. Puluhan ribu wisatawan domestik dan mancanegara turut menyaksikannya.

Prosesi pencukuran rambut gembel diawali dengan arak-arakan menuju lokasi ritual sekitar pukul 08.00 WIB. Dimulai dari rumah sesepuh pemangku adat. Arak-arakan dikawal para sesepuh, tokoh masyarakat, kelompok-kelompok paguyuban seni tradisional, dan masyarakat. Terlihat dua orang pembawa dupa (tungku penolak bala), serta para prajurit pembawa tombak, keris, dan pusaka lain. Ada pula barisan pembawa permintaan, sesaji, serta sejumlah syarat seperti nasi merah, daun dari pohon cemeti, dan lawe wenang.

Arak-arakan tokoh masyarakat, anak-anak gembel, warga.

Arak-arakan yang melintasi gang permukiman masyarakat, termasuk lokasi homestay saya.

Salah satu kesenian lokal yang ikut memeriahkan arak-arakan.

Salah satu kesenian lokal yang ikut memeriahkan arak-arakan.

Salah satu kesenian yang ditampilkan saat arak-arakan.

Salah satu kesenian yang ditampilkan saat arak-arakan.

Arak-arakan menuju lokasi ritual.

Arak-arakan menuju lokasi ritual.

Para pembawa permintaan, sesaji, dan syarat.

Para pembawa permintaan, sesaji, dan syarat.

Para pembawa permintaan, sesaji, dan syarat.

Para pembawa permintaan, sesaji, dan syarat.

Anak-anak gembel diarak. Mereka menaiki andong.

Rombongan mulai menghadiri ritual jamasan.

Rombongan mulai menghadiri ritual jamasan.

Setelah arak-arakan, anak gembel menuju Sendang Sedayu atau Sendang Maerokoco untuk menjalani ritual jamasan atau memandikan anak gembel. Lokasinya tepat di utara Darmasala Kompleks Candi Arjuna.

Berkat ponsel.

Berkat ponsel.

Ritual jamasan atau memandikan anak gembel. Lokasinya tepat di utara Darmasala Kompleks Candi Arjuna.

Ritual jamasan atau memandikan anak gembel. Lokasinya tepat di utara Darmasala Kompleks Candi Arjuna.

IMG_1037copy-15-2 copy

KEPANASAN. Kala itu, cuaca memang cerah sekali.

KEPANASAN. Kala itu, cuaca memang cerah sekali.

Prosesi pencukuran dilakukan para tokoh masyarakat dan dipandu pemangku adat. Gembel dianggap sebagai bala atau malapetaka. Oleh karena itu, rambut harus dicukur melalui upacara ruwat. Tentu saja setelah si anak benar-benar bersedia untuk dicukur dengan pengajuan sejumlah permintaan langsung kepada orangtua. Apabila memaksakan kehendak anak, rambut gembel akan tetap tumbuh meski sudah dipotong.

Mereka sungguh menggemaskan :p

Jelang ritual. Saya berada di barisan VIP.

Jelang ritual. Saya berada di barisan VIP.

Terlihat syarat dan hadiah untuk anak-anak bajang.

Terlihat syarat dan hadiah untuk anak-anak bajang.

 

Ketujuh anak gembel tahun ini mempunyai permintaan yang berbeda-beda. Ada yang memohon cokelat sekeranjang, sepeda ontel berwarna merah, es lilin milik tetangga, hingga permohonan menjadi anak yang soleha. Setiap kali pencukuran, sang pemandu mengajak warga sekitar maupun wisatawan yang datang menyaksikan ritual turut mendoakan harapan baik kepada anak-anak bajang.

IMG_1131-3 copy

IMG_1172-4 copy

 

IMG_1198-5 copy

Setelah pencukuran, upacara dilanjutkan dengan doa, ngalap berkah, dan larungan. Ritual ini merupakan peninggalan leluhur yang menjadi tradisi turun temurun. Masyarakat Dataran Tinggi Dieng sadar,  mereka tetap harus menjaga kekayaan budaya lokal tanpa harus khawatir dengan derasnya arus modernitas. [Dimuat dalam epaper 9 September 2014]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s