Kedinginan, (Nyaris) Sendirian di Dieng

“Bagaimana ya rasanya melakukan perjalanan sendirian menuju suatu tempat-entah-di-mana-dan-belum-pernah-dikunjungi-pada saat momen bertambahnya usia?” Saya pernah membicarakan hal ini kepada seorang kawan. Sampai sekarang, belum pernah merasakannya. Akan tetapi, bersyukur masih bisa mendapatkan kesempatan untuk bepergian. Sendirian.


Tujuan solo trip terakhir pada 2014 adalah Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Nyali mulai ciut ketika admin Twitter @FestivalDieng mulai mengabarkan bahwa suhu di Dataran Tinggi Dieng mencapai minus jelang keberangkatan. Perjalanan kali ini bisa jadi lebih berat. Dinginnya bisa luar dalam. Tapi, tekad sudah bulat. Bahkan, sudah sejak tahun lalu. Tak ingin ada yang dilewatkan lagi.

Coretan ini saya tulis pada 2013. Dengan penuh emosi. Baru terbayar satu. Semoga lainnya menyusul. Maaf, kamu tidak masuk dalam daftar. Eh.

Coretan ini saya tulis pada 2013. Dengan penuh emosi. Baru terbayar satu. Semoga lainnya menyusul. Maaf, kamu tidak masuk dalam daftar. Eh.

Sebelumnya, saya belum pernah pergi ke Dieng. Sama sekali. Beberapa teman kampus sudah sering ke sana untuk sekadar menikmati matahari terbit. Kalau berangkat dari Jakarta, saya harus bertanya kepada banyak pihak. Beruntung, pihak panitia Dieng Culture Festival (DCF) memberikan petunjuk rute berangkat dari Jakarta-Dieng. Namun, ada beberapa hal yang masih perlu saya tanyakan lebih lanjut mengenai tarif taksi dan jam operasi angkutan umum. Langsung saja saya ber-surel-ria dan ber-WhatsApp-ria dengan panitia demi mengurangi kecemasan.

Terlalu lama tulisan tidak di-posting, catatan pun sudah buruk rupa.

Terlalu lama tulisan tidak di-posting, catatan pun sudah buruk rupa.

Awalnya, saya merancang rute seperti ini: Jakarta-Stasiun Purwokerto-Wonosobo-Dieng. Untuk arah balik, saya harus otak-atik rute sendiri karena masih ingin mampir ke Jogja. Iya, Jogja. Dieng-Wonosobo-Stasiun Purwokerto-Yogyakarta. Lalu, seorang kawan merasa ada yang ganjil dengan rencana saya. Jreng! Seharusnya, tidak perlu balik ke Stasiun Purwokerto lagi. Cukup Dieng-Wonosobo-Yogyakarta. Hal ini baru disadarkan beberapa hari sebelum keberangkatan. Makin degdegdegan kalau-kalau penyakit disorientasi arah semakin parah saat hari-H. Mestakung!

29 Agustus 2014
Jumat malam, saya berangkat. Padahal, ingin rasanya berangkat pada 28 Agustus agar bisa menjelajahi Dieng lebih dulu sebelum mengikuti serangkaian acara festival. Sayangnya, Jumat terlalu sakral untuk ditinggalkan.

Barangkali, ini perjalanan yang biasa bagi kebanyakan orang. Jaraknya dekat. Bukan solo trip ke luar Pulau Jawa atau luar negeri. Tapi, saya tetaplah merasa degdegan. “Jika datang dengan niat baik, maka semuanya akan baik-baik saja. Berdoalah kapan dan di mana saja.” Wejangan Mama yang selalu diingat selain “Jangan sampai ketiduran, nanti kelewatan”.

IMG_0434-1 copy

30 Agustus 2014
Menyapa Stasiun Purwokerto sekitar pukul 03.30 WIB. Dingin. Benar-benar dingin.

“Mau ke mana, Mba?”
“Mau ke Dieng.”
“Oh, enggak ikut rombongan to? Dari kemarin sudah banyak yang datang. Saya antar sampai ‘atas’, gimana?” Atas, merujuk pada Dieng yang letaknya di dataran tinggi.
“Enggak usah, Pak. Sampai terminal saja…”
“Enggak apa-apa. Bisa, kok. 300 ribu.”

Sebenarnya, jarak Purwokerto hingga Dieng dibayar Rp 300.000, itu sudah murah. Tapi, tubuh ini rapuh. Dinginnya sampai tembus ke tulang. Perjalanan dari stasiun menuju terminal membuat saya menggigil lebih cepat. Masih berkilo-kilo meter dari Dieng. Selama di motor, saya sibuk merekatkan kancing parka, memakai pasmina. Dingin. Banget.

Naik ojek adalah pilihan lain karena taksi (mobil sejenis Kijang)-yang direkomendasikan panitia-tidak berkenan menghantarkan wisatawan yang hanya satu orang. Tidak sepadan dengan bahan bakar yang dikeluarkan. Harga taksi (jika rombongan) sekitar Rp 300.000. Saat saya menawar, harga dipatok hingga Rp 600.000. Glek.

Menyusuri terminal pada subuh hari. Gelap. Ini ke kanan atau ke kiri? Arahan dari tukang ojek yang diberikan beberapa detik yang lalu pun terlupakan. Katanya, bus menuju Wonosobo baru ada sekitar pukul 04.30 WIB atau pukul 05.00 WIB. Saya mencari gang yang paling terang. Beranikan diri bertanya kepada laki-laki paruh baya ditemui pertama kali. Bersyukur, bus yang dicari sudah datang dan siap untuk berangkat. Jadi, saya tidak perlu menunggu di terminal.

Ketika berjalan-jalan sendiran, tingkat waspada dan kecurigaan pasti meningkat. Pria yang duduk di depan saya sempat kena curiga karena banyak tanya. Turun di mana? Dari mana? Kok, sendirian? Untungnya, dia segera tidur. Maklum, saya sempat kecopetan saat di bus Jogja-Tangerang. Pelakunya mas-mas berwajah pemain sinetron. Lain lagi saat sang kondektur meminta ongkos. Saya justru terbuka kalau ingin menuju Dieng Kulon, tempat berlangsungnya Festival Dieng. Butuh diingatkan kalau kelewatan.

Pak kondektur menyuruh saya turun pada jalur yang membelah menjadi dua arah, beberapa orang menyebutnya dengan nama simpang Dieng. Saya tak perlu sampai Terminal Wonosobo karena nanti malah butuh naik angkot lagi untuk berbalik arah. Simpang Dieng merupakan tempat ngetem beberapa mikro bus. Pilih saja, mikro bus yang jurusan Dieng.

Setelah sampai Wonosobo, saya masih harus naik angkutan umum mikro bus menuju Dieng Kulon. Sepanjang perjalanan berhiaskan bukit-bukit dan pegunungan. Saya yang biasanya diperlihatkan hutan beton begitu semringah saat menyaksikan hutan sesungguhnya. Sesekali melirik ke arah penumpang lain. Beberapa di antara mereka membawa satu karung besar berisi sayur-mayur. Lainnya, pemuda yang hendak naik gunung. Hanya saya yang berpakaian rapat. Masih memakai kaos kaki pula. Lemah sekali saya ini.

Menurut info panitia, lokasi registrasi ulang berada di posko khusus dekat Indomaret. Indomaret mana? “Hanya ada satu Indomaret tertinggi di Indonesia, kak.” Hahaha… saya terbiasa melihat Indomaret menjamur di mana-mana. Dan, benar saja. Saya akhirnya melihat Indomaret tertinggi di Indonesia. Festival Budaya Dieng benar-benar hajatan besar. Memasuki kawasan Dieng Kulon, jalanan mulai padat merayap. Di atas pukul 10.00 WIB pada hari I festival, jalanan macet hingga jelang malam.

SELAMAT DATANG DI DIENG CULTURE FESTIVAL. Iya, sponsornya itu.

SELAMAT DATANG DI DIENG CULTURE FESTIVAL. Iya, sponsornya itu.

Pelepaan balon (yang tertinggal) pada saat opening ceremony.

Setelah gerak jalan opening ceremony, para pejabat dan peserta disambut dengan minuman purwaceng. Sudah pernah mencoba?

Setelah gerak jalan saat opening ceremony, para pejabat dan peserta disambut dengan minuman purwaceng. Sudah pernah mencoba?

Tongsis (1)

Tongsis (1). Begitu terasa. Ketika kita berwisata, tongsis di mana-mana😀

"Mba foto, mba... Fotoin, dong mba..." Iya, adik-adik. Silakan tag sendiri-sendiri ya... :)

“Mba foto, mba… Fotoin, dong mba…” Iya, adik-adik. Silakan tag sendiri-sendiri ya… *macak di FB*🙂

Tarian Kuda Lumping.

Tarian Kuda Lumping menjadi salah satu pertunjukan tradisional saat opening ceremony.

Pagelaran wayang kulit.

Pagelaran wayang kulit.

Rizky (baju merah) merupakan salah satu anak gembel yang maish bertahan dengan rambutnya. Fotonya kerap muncul dalam promosi wisata Dieng. Ia juga sempat tampil pada saat malam pagelaran musik DCF.

Rizky (baju merah) merupakan salah satu anak gembel yang maish bertahan dengan rambutnya. Fotonya kerap muncul dalam promosi wisata Dieng. Ia juga sempat tampil pada saat malam pagelaran musik DCF.

Lanskap sekitar kompleks Candi Arjuna.

Lanskap sekitar kompleks Candi Arjuna.

Ini dia pohon carica. Salah satu kekayaan alam yang jadi andalan Dieng. Biasanya, diolah jadi manisan carica.

Ini dia pohon carica. Salah satu kekayaan alam yang jadi andalan Dieng. Biasanya, diolah jadi manisan carica.

Tongsis (2). Di sekitar lokasi Museum Kailasa.

Tongsis (2). Di sekitar lokasi Museum Kailasa.

Menuju senja.

Menuju senja.

Senja. Dua warna.

A photo posted by Cecilia Gandes (@ceciliagandes) on

Dalamnya cokelat, kok.

A photo posted by Cecilia Gandes (@ceciliagandes) on

Panitia DCF mneyediakan camping ground juga. Saya jelas tidak ada niatan untuk menjajal. Bisa beku luar dalam.

Panitia DCF juga mneyediakan camping ground. Saya jelas tidak ada niatan untuk menjajal. Bisa beku luar dalam.

Nikmati senja sebelum acara bakar jagung, pertunjukan musik, dan lampion.

Jelang malam sebelum acara bakar jagung, pertunjukan musik, dan lampion.

Ibu Juariah 
Terkadang, orang lain lebih prihatin melihat kita pergi sendirian. Tak terkecuali, ibu pemilik homestay. Mba Gandes beneran ke sini sendirian? Kok, sendirian? Teman-temannya enggak diajak? Ibu Juariah namanya (semoga tidak keliru cara penulisannya). Walaupun sudah saya ceritakan via telepon saat memesan penginapan, ternyata beliau tetap saja kaget melihat kedatangan saya. Sendirian.

Patokannya, masjid putih. Lalu, di belakangnya ada gang. Namanya Penginapan Delima. Warung pink. Ancer-ancer yang berhasil saya ikuti walaupun sempat kebingungan karena selama perjalanan memasuki Dieng Kulon banyak menjumpai mushola yang berbentuk menyerupai masjid. Luar biasa.

Penginapan Delima saya pilih secara random dari daftar homestay yang dipaparkan situs web resmi Dieng Culture Festival. Saya baru panik ketika admin Festival Dieng memberitahu bahwa semua penginapan telah penuh. Nekad. Setelah gagal menghubungi tiga nomor penginapan, saya menjajal menghubungi Penginapan Delima. Karena saya datang hanya sendirian, selalu ada tempat yang bisa diusahakan. Sendiri membawa hikmah dan berkah, bukan? Hahaha…

Ibu Juariah memiliki dua rumah yang dijadikan homestay. Keduanya sudah dipenuhi rombongan. Saya tidur di warung bersama dengan beliau. Saya sendiri tidak masalah karena terasa lebih hangat. Hehehe… Rumahnya mengingatkan saya dengan ibu indekost sewaktu kuliah di Jogja. Ibu juga sering tidur di warung, bahkan di teras rumah kalau sedang kepanasan.

Ibu Juariah begitu sederhana dan murah senyum. Ia memiliki seorang anak perempuan yang aktif dalam kegiatan olahraga dan musik. Bahkan, menjadi “duta wisata” cilik bagi daerahnya sendiri. “Tadinya, saya enggak mau jadikan rumah sebagai homestay. Ini berkat anak saya,” Ibu Djuariah justru total memberikan pelayanan kepada tamu. Ada air hangat, makanan (pagi, siang, malam), plus camilan. Kalau ingin minta antar ke beberapa obyek wisata, bisa dibantu sang suami atau anaknya. Tanpa ada biaya tambahan. Fasilitas ini belum tentu juga dimiliki semua homestay.

Harga penginapan di kawasan Desa Wisata Dieng relatif sama karena telah mendapat kesepakatan bersama, berada di bawah lembaga semacam koperasi. Namun, fasilitasnya tetap berbeda. Tergantung kemampuan si pengelola. Jika tidak peak season, pemilik homestay kembali menjalani pekerjaan sebagai petani.

Bepergian sendirian menjadikan saya banyak mendengarkan dan tak asyik sendiri. Terlebih lagi, sinyal jaringan telepon genggam sangat tidak bersahabat. Jadi, mencari sahabat di sekitar. Ibu Juariah bekali banyak cerita. Salah satunya, tentang anak gembel atau anak bajang. “Waktu itu, ada anak bajang yang kecelakaan, tapi enggak apa-apa, lho Mba. Iya, kalau rambutnya gembel gitu, kecilnya sakit-sakitan. Jangan digunting sembarangan. Itu ada kekuatannya. Setelah diruwat dan dipotong, kekuatannya ya suka masih ada, kok.” Beliau juga bercerita kuatnya budaya dan sakralnya Dieng. Alam bisa memberikan pertanda ketika ada sesuatu hal yang terjadi dengan candi.

Berikutnya, giliran saya kena senggolan. “Mbak umurnya berapa? Sudah berkeluarga? Oh, belum. Kirain… Wah, kalau di sini, begitu lulus SMA, sudah diburu sama anak tetangga buat dinikahin.” Ini masih belum seberapa. Masih ada yang lain.

30 Agustus 2014

Arak-arakan menuju lokasi ritual.

Arak-arakan menuju lokasi ritual, dimulai sejak pukul 08.00 WIB.

Salah satu kesenian yang ditampilkan saat arak-arakan.

Salah satu kesenian yang ditampilkan saat arak-arakan.

Tongsis (3)

Tongsis (3)

Tidak semua anak gembel diruwat pada hari itu. Ruwatan dilakukan jika sang anak benar-benar mau. Tidak ada paksaan.

Tidak semua anak gembel diruwat pada hari itu. Ruwatan dilakukan jika sang anak benar-benar mau. Tidak ada paksaan.

Ritual jamasan.

Ritual jamasan.

Tongsis (4). Offside di lokasi jamasan.

Tongsis (4). Monopod yang offside di lokasi jamasan.

"VVIP dulu yaa... VIP belakanga... Kalau pers, tunjukin, dong kartunya..." Seruan yang terdengar sepanjang jalan dari lokasi jamasan menuju tempat ritual pencukuran.

“VVIP dulu yaa… VIP dan Festival belakangan… Kalau pers, tunjukin, dong kartunya…” Seruan yang terdengar sepanjang jalan dari lokasi jamasan menuju tempat ritual pencukuran. Gitu, deh.

Jelang ritual pencukuran. Saya berada di barisan VIP.

Jelang ritual pencukuran. Saya berada di barisan VIP.

Adiknya dapat permen FKY duluan ketimbang saya...

Adiknya dapat permen FKY duluan ketimbang saya…

Tongsis (5)

Tongsis (5)

Usai menyaksikan jamasan dan ritual pencukuran rambut gembel, saya bersiap-siap pulang. Kala itu, waktu menunjukkan sekitar pukul 13.30 WIB. Pukul 14.00 WIB, saya harus segera meluncur ke Wonosobo karena mengejar travel yang berangkat pukul 16.00 WIB.

Saat jelang pulang, saya memberikan lampion yang tak sempat diterbangkan karena kedinginan. Lebih memilih memotret pengunjung festival yang ber-lampion-ria. Sekalian untuk artikel. Kalau asyik main lampion, justru lupa foto-foto.

Ibu senang sekali. “Wah, ini buat saya, Mba? Makasih, ya… Nanti malam mau saya terbangin sama bapak, ah. Kalau nerbangin lampion ya memang lebih seru sama pasangan, ya Mba? Kalau sendirian ya enggak seru. Besok, kalau ke sini, sama pasangan, Mba… Nerbangin lampion.” Ibu, saya enggak nerbangin lampion karena kedinginan. K E D I N G I N A N, bukan KESEPIAN. Hikmah lain saat berjalan-jalan sendirian. Hahaha…

Salah satu rombongan yang asyik bermain lampion pada malam itu.

Rombongan wisatawan menerbangkan lampion pada malam itu. Asyik ya kalau difoto beramaian begini. Hehehe…

Ibu Juariah menyampaikan, saya bayar seikhlasnya saja karena ditempatkan di warung. Tapi, saya tidak mau. Bagaimana pun, saya sudah menikmati air hangat, opor ayam nan nikmat, dan teh manis. Selama di Dieng, saya malah tidak jajan di luar kecuali beli oleh-oleh.

Saya berjanji akan kembali (entah sendiri lagi atau bersama kawan-kawan). Bapak juga menyayangkan waktu menginap yang sebentar karena beliau tak sempat mengantar ke beberapa obyek wisata seperti Bukit Sikunir, Gunung Prau, Telaga Warna, dan masih banyak lagi. Tenaga saya memang dikerahkan untuk DCF karena masih ada perjalanan berikutnya. Tenang, saya ada niatan kembali, kok. Semoga terjadi meski entah kapan.

Ini dia Ibu Juariah yang berpose di depan homestay. Warungnya laris-manis.

Ibu Juariah yang berpose di depan homestay. Warungnya komplet, wajar saja jika laris-manis diserbu wisatawan.

Nyaris sendirian
Seperti judul yang tertulis. Saya tidak benar-benar sendirian. Kali ini, saya punya teman baru nan mungil bernama #Gitu7, sengaja menyembunyikan jenis serinya. Berkat teman mungil ini, saya berhasil menghasilkan video hore #piyambakantheseries. Plus, bertemu Hasbi dan kawan-kawan.

Selain ada wisatawan-wisatawan lainnya, ternyata saya dipertemukan dengan beberapa kawan. Sebenarnya, teman-teman SD sempat mengajak berangkat bersama dengan mobil. Tapi, saya tidak bergabung karena jadwal yang tidak sesuai. Sampai di Dieng, kami malah tidak sempat bertemu. Ada juga teman SMA, tetapi tidak sempat bertemu juga.

Pada Sabtu (30/8/2014) sore, saya hendak berjalan-jalan lagi. Keluar dari homestay, saya melihat Novi, kawan sewaktu ber-UKM. Ternyata, dia bersama rombongan dari Jogja. Alhasil, saya bergabung bersama mereka.

Ini dia rombongan dari Jogja yang saya temui. Masih ada beberapa teman lainnya.

Ini dia rombongan dari Jogja yang saya temui. Masih ada beberapa teman lainnya.

“Syukurlah, Mba Gandes ada temannya. Iya, gabung sama teman-teman saja, Mba…” Lagi-lagi. Ibu Djuariah yang lebih prihatin dengan saya. Hehehe… Pada hari kedua, saya bertemu kembali dengan Novi serta rombongan di tengah-tengah padatnya wisatawan yang menyaksikan ritual jamasan dan ruwatan.

Selain mereka, saya juga bertemu Dita, salah satu teman kuliah. Kami bertemu saat berpapasan mengikuti arak-arakan. Tidak, dia tidak sendiri. Saya saja yang sendiri. Hahaha…

Wajar jika sata masih bisa berjumpa dengan teman-teman Jogja atau teman-teman lainnya. Selain jarak yang relatif dekat, DCF juga merupakan acara nasional, bahkan internasional. Semua orang dari berbagai penjuru berkumpul.

Perjumpaan dengan beberapa kawan bisa jadi membuat solo trip kali ini tidak afdol. Atau, semakin menyadarkan bahwa “sendiri” bukanlah soal kehadiran atau ketidakhadiran secara fisik. “Sendiri” adalah pilihan. Raga boleh saja berjalan sendiri, tetapi kita bisa memilih untuk tidak merasa sepi. Jika hati selalu yakin ada yang akan selalu mengikuti, maka sendiri tak lagi mendatangkan sepi. Kita juga bisa memilih untuk memberanikan diri menghadirkan ketidaksendirian dengan lebih peka dan menyapa orang-orang sekitar.

Mas Surip
Perjalanan dari Wonosobo menuju Yogyakarta membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Ingin rasanya lekas sampai. Ingin rasanya tidur sepanjang perjalanan setelah uji adrenalin naik ojek dari Dieng menuju Wonosobo melintasi danau dan bukit. Ternyata, yang terjadi adalah kebalikan. Saya terus terjaga, bahkan nyaris terus berbicara dengan pria yang duduk di samping saya. Dia bernama Mas Surip. Saya tidak bisa menebak umurnya dengan pasti, antara 30 atau 40-an.

Mbak sudah sempat ke Telaga Warna? | belum sempat, mas. Saya ngejar waktu | Nah, pas to... Saya lewatin ojeknya di sini | .... || Akibat macet berkepanjangan, sang tukang ojek mengambil jalur alternatif dengan menyusuri rute wisata dan bukit-bukit. Dengan sigap, saya asal jepret saja danau ini selagi motor terus berjalan.

Mbak sudah sempat ke Telaga Warna? | belum sempat, mas. Saya ngejar waktu | Nah, pas to… Saya lewatin ojeknya di sini | …. || Akibat macet berkepanjangan, sang tukang ojek mengambil jalur alternatif dengan menyusuri rute wisata dan bukit-bukit. Dengan sigap, saya asal jepret saja danau ini selagi motor terus berjalan.

Berawal dari curhatan macetnya jalur Dieng-Wonosobo usai gelaran DCF, cerita berkembang tentang gunung-gunung api di Indonesia. Ternyata, Mas Surip bekerja sebagai petugas Pos Pemantauan Gunung Api Dieng.

“Saya juga mau ke Jogja, Mba. Lalu, ke Bali, ada pertemuan para pemantau gunung api se-Indonesia,” curhat Mas Surip yang kerap dipanggil Mbah Surip oleh rekan-rekannya. Keren. Ternyata, ada juga pertemuan besar yang membahas gunung api. Walaupun posnya ada di Dieng, Mas Surip bisa melancong ke mana saja. Biasanya, dia dipanggil ketika gunung-gunung lain berstatus Siaga menuju level Awas.

“Waktu itu, ada panggilan di Kelud. Ya, saya ke sana. Lalu, Sinabung bergejolak. Saya ya ke sana. Setiap pos sudah ada petugasnya. Biasanya, saya dipanggil sebagai konsultan, membaca situasi, atau ikut bantu sosialisasi kepada penduduk,” ceritanya. Jumlah gunung api di Indonesia ada ratusan, tetapi tidak sebanding dengan jumlah petugas pemantau.

Menjadi pemantau gunung api juga tidak kenal libur dan tidur. Sampai kapan pun, aktivitas harus dipantau, bukan hanya pada saat tertentu-tertentu saja. Terlebih lagi, harus melakukan sosialisasi kepada penduduk sekitar bahwa ada beberapa area yang berbahaya yang tidak dilewati. Sama halnya pada saat peristiwa Gunung Kelud dan Gunung Sinabung. Koordinasi dengan stakeholder sudah pasti. Asalkan, petugas pos setempat juga kompak, memberikan informasi yang sama. Cara bersosialisasi yang baik tidak boleh memicu kepanikan warga.

“Saya sudah sering diancam dengan golok, parang. Warga tidak percaya dengan peringatan area berbahaya. Mereka ingin tetap mendekat untuk bekerja. Saya paham. Tapi, saya juga harus memberi tahu bahwa ada bahaya mencekam.” Mas Surip pernah membuktikan ucapannya dengan membawa tikus dan tupai. Dengan masker dan peralatan tambahan, ia membawa binatang tersebut ke area berbahaya. “Saat turun, saya tunjukkan kepada warga. Binatang ini mati. Saya selamat dengan banyak alat pelindung. Jika tanpa alat, bisa terbayang betapa bahayanya area tersebut.” Ia juga bercerita karakter yang berbeda antara Gunung Kelud dan Gunung Sinabung.

Amarah warga juga dipengaruhi faktor ketidaksiapan mental. Terakhir kali, bisa saja gunung meletus pada saat generasi eyang bahkan eyang buyut. Lalu, gunung tampak diam dan membisu. Tidak ada wejangan untuk bersahabat dengan alam hingga generasi kekinian lahir. Mereka pun terkejut bercampur dengan emosi. Belum lagi, jalur evakuasi belum dipersiapkan.

Mas Surip telah lama bergelut dengan gunung. Saya lupa. Yang jelas, lebih dari 10 tahun. Postur tubuhnya tinggi, langsing. Ia mengaku dapat naik-turun gunung dengan cepat. Awan panas dan debu vulkanik seolah-olah sudah jadi sahabat. Nyawa Mas Surip ada berapa ya?

“Mba datang ke ruwatan anak gembel to? Ada anak perempuan yang besar?”
“Iya, ada mas.”
“Nah, itu keponakan saya…”
“Lho, iya to? Hmmm… keluarga Mas Surip ada yang anak gembel juga dulunya?”
“Lah, saya ini dulu anak gembel juga…”
Terjawab sudah. Ingat ucapan Ibu Juariah. Percaya tidak percaya, kekuatan akan rambut gembel masih terus melekat. Mas Surip pun tak dapat mengingkari meski kepercayaannya terhadap Allah SWT tetaplah utuh. Ia melakukan sesuai dengan hati nurani. Bersahabat dengan gunung api menjadi panggilannya.

“Ketika gunung meletus, berikan dia kesempatan untuk ‘bangun dari tidur panjangnya’. Sebelumnya, dia telah memberikan tanah subur. Banyak lahan pertanian di daerah vulkanis. Bahkan, kesuburannya bertahan dari kakek-nenek buyut hingga sekarang. Mereka (gunung-gunung) hanya meminta waktu sebentar, tidak sampai puluhan tahun ‘batuk-batuk’ terus, kok. Jadi, kita harus bersabar dan bersahabat dengan alam. Jangan lupa merawatnya. Mereka punya cara sendiri untuk menyapa manusia,” pesan Mas Surip.

Info
Transportasi (Jakarta-Purwokerto-Wonosobo-Dieng):

  • Pasar Senen (Jakarta)-Stasiun Purwokerto: KA Senja Utama Solo (bisnis) Rp 230.000 (waktu tempuh 5,5 jam)
  • Stasiun Purwokerto-terminal utama Purwokerto: ojek Rp 25.000 (waktu tempuh 20–30 menit)
  • Terminal utama Purwokerto-simpang Dieng: naik bus rute Purwokerto–Wonosobo Rp 20.000 (+/- 120 kilometer, waktu tempuh 3 jam)
  • Simpang Dieng-Dieng Kulon: mikro bus Rp 15.000 (waktu tempuh 60 menit)
  • Dieng Kulon–agen travel Rama Sakti Wonosobo: ojek Rp 50.000
  • Wonosobo–Yogyakarta: travel rama Sakti Rp 60.000

*jika ada perkiraan waktu yang keliru, saya mohon maaf atas ingatan yang lemah.

Penginapan:

  • Homestay per malam (tarif rombongan, bisa diisi 5-10 orang): Rp 150.000-250.000
  • Jika ingin mengunjungi Dieng saat DCF berlangsung, pesanlah homestay 30–21 hari sebelumnya. Biasanya, pihak panitia memberikan daftar homestay di situs web resmi. Langsung telepon saja.
  • Bawalah bekal sarung. Mas Surip bilang, sarung justru bisa lebih menghangatkan tubuh.

Tentang DCF:

  • Tiket VIP DCF: Rp 175.000, sudah termasuk: lampion, jagung, kain DCF, kaos, akses masuk ruwatan area VIP (ini yang terpenting), tiket masuk kawasan wisata (Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Dieng Plateau). Pengumuman penjualan tiket ini saya dapat sekitar Juni atau Juli.
  • Follow saja akun Twitter @FestivalDieng. Adminnya interaktif. Kalau ada yang ingin ditanyakan, langsung disapa.
  • Situs web resmi festival: dieng.id. Waspada dengan situs web lain yang juga menawarkan paket Dieng Culture Festival jelang acara. Begitulah pesan panitia.
  • Kalau sudah mendapatkan bocoran tentang jadwal festival, bersiaplah untuk memantau terus lini masa @FestivalDieng untuk memesan tiket. Perburuan tiket tak kalah sengit seperti perburuan tiket pesawat murah.

It’s not about destination. It’s about the journey. Kutipan ini benar-benar berarti ketika saya belajar mengenal tempat lain. Semoga tidak ada pembelajaran yang so last year.

Terima kasih untuk perjumpaan yang mencerahkan.
Terima kasih, perjalanan.
Terima kasih, semesta.
29-31 Agustus 2014, #solotrip

ps: Jangan terlalu asyik menikmati #solotrip, nanti enggak tahu asyiknya nge-trip berdua :p

Tulisan lain tentang Dieng:
Malam Menawan Negeri di Atas Awan
Ruwatan Rambut Gembel, Kekayaan Tradisi Dieng

6 thoughts on “Kedinginan, (Nyaris) Sendirian di Dieng

  1. Gokil. Stuck here karena akhir bulan ini mau backpacker sama temen2 ke Dieng. But I love your blog. And I would really love to meet Mas Surip. Simply love every words he said. Nice one! Keep it up!

    • Halo… Terima kasih sudah mampir. Amin! Semoga bisa ketemu sama Mas Surip dan ikut mendengar ceritanya. Have fun with your trip. Enjoy the magical Dieng🙂

  2. hai gandes, tulisan apik.. saya juga dari jogja. Saya bahkan pernah ketemu kamu pas jaman masih kuliah. Kamu FISIP 2007 kan? saya FE 2007. Keep writing…🙂

    • Hai… Wah, terima kasih sudah “tersesat” di sini. Hehehe…
      Oh ya, kita pernah ketemu? Pas acara apakah? Maafkan, malah saya yang enggak ngeh😦

      Bener banget. Saya FISIP 2007. Salam kenal kembali ya… Tetap produktif menulis juga🙂

    • Seru banget. Hehehe…

      Sayangnya, tahun ini skip dulu. Semoga tahun depan bisa ke sana lagi. Terima kasih banyak sudah mampir. Semoga acara tahun ini makin keren🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s