Maafkan Aku, Ibu

“Bahagia itu sederhana, teman-teman…”

Begitulah kata Asti, usai menanggapi celetukan Rima yang berandai-andai memiliki ayah dan ibu seperti orangtua Asti. Kedua bocah perempuan itu adalah teman sekelasku. Kami tidak saling bersahabat, tetapi kerap bercerita, “beradu nasib”. Ya, nasib masing-masing orang diadu. Barangsiapa yang paling banyak mengaduh, dianggap kalah.

“Maksudnya apa, Ti? Sederhana? Rumah Makan Padang?” Tanya Rima.

“Bukan. Itu dari Twitter. Ah, kalian ndak Twitter-an, sih. Akeh kata-kata apik neng kono, lho…”

“Wah, Twitter ki marai pinter yo…” Rima tampak takjub, padahal dia sama sekali belum mengenal Twitter.

Opo marai uwong keminter?”

Mata mereka seolah-olah menjelma menjadi silet-silet kecil yang siap menghunjam leherku. Aku bicara seperti itu pun karena memang belum mengenal Twitter. Sama sekali.

Mbok’ njaluk handphone anyar karo bapakmu. Minta hape baru sing iso Twitter-an, Facebook-an. Hape, kok warnane ireng kabeh…”

Kalau memang bahagia itu sederhana, mengapa masih harus menuntut apa-apa?

Orangtuaku, begitu juga dengan Rima, memang tak seperti orangtua Asti. Bapaknya staf kelurahan dan sangat baik kepada anaknya, itu kesimpulan Asti selama ini. Ponsel merek Blackberry hingga pasang kawat gigi pun diamini. Menyenangkan? Menurut Asti, ini adalah hal yang membanggakan.

Kata orang, hidup itu pilihan. Tetapi, apakah kita bisa memilih tumbuh di keluarga seperti apa? Apakah kita bisa memilih dilahirkan oleh ibu dan dibesarkan oleh ayah yang ideal sesuai dengan versi kita? Entahlah, sampai sekarang, aku belum pernah berandai-andai. Meski tak dipungut bayaran, aku tak pernah berani membuat pilihan yang sesuai keinginan karena aku yakin: pasti tidak akan kesampaian.

***

“Tak perlu sesumbar, kamu itu perempuan yang tumbuh lebih dewasa dibandingkan anak-anak seumuranmu.” Ucapan ini kerap keluar dari bibir Bapak ketika aku menceritakan ulang kisah kemenangan Asti setiap pulang sekolah.

Dewasa. Kata itu terlalu mewah bagiku yang masih berumur 10 tahun. Aku saja belum merasakan datangnya bulan yang katanya dapat membuat perut kram dan buah dada tegang. Jika memang benar, berarti aku bisa menyaksikan puting yang biasanya menguncup tumbuh merekah, meski tak setiap hari. Siapa tahu aku bisa mendapatkan hari kemenangan atas Asti.

Dewasa. Barangkali, kemewahan inilah yang hanya bisa diberikan Bapak. Berharap nilai pemberiannya lebih besar dibandingkan Blackberry atau kawat gigi.

Aku memang tak terlalu rewel untuk meminta ini-itu, padahal Bapak juga acap kali memintaku untuk mengerjakan ini-itu. Sejak berpisah dengan Ibu, Bapak menobatkanku sebagai pengganti beliau. Mulai dari urusan mencuci, memasak, hingga menyiapkan secangkir kopi hitam dengan dua sendok gula pasir.
“Aku pengecut. Aku suka kopi, tapi tidak pernah tahan dengan pahitnya,” begitu katanya. Pengecut yang mengaku pengecut. Apakah ada orang yang lebih berani melakukan pengakuan seperti itu dibandingkan dengan dirinya?

Lebih dari dua tahun Ibu meninggalkan kami, banyak terjadi perubahan di dalam rumah. Selain pengukuhan status baru terhadapku, Mas Yan tak bisa lagi ditemui setiap hari. Kakak yang terpaut selisih sembilan tahun dariku ini memutuskan untuk hijrah ke Solo. Kabar terakhir, ia bekerja sama dengan seorang teman membuka usaha warnet.

Neng kene wes akeh sing dadi petani dan pedagang, dik. Saiki giliran aku sing sinau internet, biar akeh uwong sing ngerti kalau daerah kita punya bahan baku apik-apik.” Begitulah tanggapannya saat aku selalu mempertanyakan ketertarikannya kepada internet yang begitu besar dibandingkan kepada anak gadis Pak Lurah yang menyapanya setiap pagi.

Kalau Mas Yan sudah mengenal internet, pasti dia juga sudah mengenal Twitter. Atau, Twitter-lah yang membuatnya enggan untuk singgah meski hanya semalam di Boyolali, tanah kelahirannya sendiri. Ia barangkali semakin mengenal internet, tapi apakah ia masih mengenali adiknya yang sudah lebih dari dua tahun ini hanya disapa melalui ponsel?

***

“Kinan, kopine ki isih pait. Wis pirang-pirang taun nggawe wedhang buat bapak to…” Hari Minggu. Aku bebas dari seruan Asti, tapi tak pernah alpa untuk mendengarkan seruan Bapak setiap pagi.

“Mungkin, Kinan ndak cocok jadi Ibu, Pak.”

Ya, sampai sekarang aku tak pernah bisa meracik kopi yang pas untuk pria berumur 40 tahun itu. Selalu saja masih ada rasa pahit di ujung lidahnya. Ingin sekali menemui Ibu untuk meminta resep jitu, tapi beliau sepertinya tak mengacuhkanku. Apakah Ibu merasa tersaingi ketika Bapak mengangkatku sebagai penggantinya? Apakah Ibu membenciku? Atau, aku sendiri yang takut untuk menyambanginya?
Tok tok tok…

Lamunanku sirna. Kubuka pintu kayu yang mulai rapuh di siku bagian bawah. Kulihat sosok yang tak asing meski kami lama tak saling berpelukan.

“Dik, aku pengen ketemu Ibu. Kamu mau ikut atau enggak?” Air mukanya tak begitu menenangkan. Tak berlarut-larut dalam euforia kedatangannya, aku mengiyakan ajakan Mas Yan. Toh, sudah lama juga aku tak menemui Ibu. Mungkin, ini saatnya aku memberanikan diri untuk bicara dengannya.

***

“Ibu, maafkan aku. Semenjak Ibu tidak ada, aku telah membohongi Bapak dan Kinan. Selama ini, aku justru membantu jaringan penjahat untuk mencari tahu cara merakit bahan peledak. Ibu, nyuwun pangapunten…”

Pengakuan Mas Yan membuatku tertegun. Namun, Ibu masih saja terdiam. Apakah ia benar-benar marah?

“Sudahlah, Ibu masih mendengarkan kita. Apa yang ingin kamu sampaikan?” Mas Yan seolah-olah membaca pikiranku. Ia tak tahu bahwa jantungku seperti derap kuda di padang pasir yang sedang berpacu.

“Ibu, maafkan aku. Selama Ibu tidak ada, Bapak menjadikanku sebagai pengganti Ibu. Aku memasak, mencuci, hingga membuatkan kopi tidak pahit. Tapi, Bapak tidak pernah puas. Kopi buatanku tak pernah sesuai keinginannya. Aku pun terlalu pasif saat meladeni Bapak di atas ranjang. Katanya, aku mudah kesakitan. Ia bilang, rasa sakit itu harus kutahan supaya aku belajar agar terbiasa saat menstruasi dan saat meladeni suamiku kelak. Ibu, maafkan aku….”

Seketika itu pula Mas Yan jatuh tersungkur di depan pusara Ibu. Untungnya, sejumlah orang langsung berdatangan untuk memboyongnya. Ya, hari ini banyak orang yang melakukan ritual nyadran, berkunjung ke makam leluhur atau keluarga yang telah meninggal.

Ibu, maafkan aku. Apakah ini cukup mengejutkanmu? Kau masih saja diam.


*Cerita ini saya tulis setelah membaca berita ini. Saya prihatin dan kesal ketika pelecehan seksual terhadap anak-anak oleh orangtuanya sendiri marak terjadi.

**Berdasarkan laporan yang diterima Komisi Nasional Perlindungan Anak, di kawasan Jabodetabek pada 2010 mencapai 2.046 kasus kekerasan pada anak. Pada 2011, naik menjadi 2.462 kasus. Pada 2012, naik lagi menjadi 2.626 kasus dan melonjak menjadi 3.339 kasus pada 2013. Dalam tiga bulan pertama 2014, diterima 252 laporan kekerasan pada anak. Laporan didominasi kejahatan seksual dengan angka berkisar 42–62 persen pada periode 2012–2014. [Kompas]

***Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam kompetisi #ProyekMenulis @nulisbuku Juli 2013 dengan tema “Kejutan Sebelum Ramadhan”. Tetapi, kiriman saya tidak lolos seleksi. Sudah lewat 4 menit dari batas pengiriman karya. Kalaupun tepat waktu, belum tentu juga bisa diterima. Hehehe…

4 thoughts on “Maafkan Aku, Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s