Pagi Ini Aku Sendiri

Pagi ini aku sendiri. Istri sedang pergi, tak bisa menemani. Belum ada yang datang lagi. Kemarin, masih ada yang ingin menambal ban, si tukang roti. Sekarang, masih sepi, padahal jalanan di depan mata sudah penuh dengan mobil angkot yang wira-wiri.

Pagi ini aku sendiri. Tak ada istri, aku lebih banyak berdiam diri. Duduk memandangi keriuhan jalanan yang sebenarnya tak berbeda dari hari ke hari. Bisa ditebak dengan pasti. Tapi, tetap ada saja yang tak pasti. Buktinya, belum ada yang menghampiriku lagi. Kalau pun ada, ia hanya sekadar berteduh dari panas, bukan menambal ban kanan atau kiri. Sesudah itu, pergi lagi.

Banyak orang yang berkendara, tetapi mengapa sedikit yang mampir kemari? Apa karena usahaku yang keliru, memakai lahan halte ini? Toh, bertahun-tahun tidak ada lagi yang memanfaatkannya sebagai tempat menunggu bus atau angkutan umum sehari-hari. Ketika mereka bisa memberhentikan angkutan umum di mana saja, untuk apa fungsi halte ini? Malah, lebih bisa mendapatkan kepastian karena mendapatkan angkutan umum lebih dulu dan tidak penuh terisi. Di halte, tidak semua angkutan umum pun berhenti. Halte jadi tempat bermuaranya ketidakpastian, tanpa disadari. Mereka telah sadar, tetapi tidak dengan aku sendiri.

Pagi ini aku sendiri. Tak ada istri, aku lebih banyak berdiam diri. Aku tetap di halte ini. Ketidakpastian justru bisa mengajarkanku agar tetap berani menaruh harapan baik untuk esok hari.

-Untuk kakek penambal ban di Palmerah Utara tadi pagi-

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s