Namaku Jendela, Namamu Siapa?

Seperti biasa. Malam kuhabiskan di bus kota, tempat yang sebenarnya menjadi kasur keduaku. Tak perlu lagi takut akan peringatan Bung Seno tentang menjadi tua di Ibu Kota sebab aku punya cara menikmati hidup usai bekerja: tidur.

Seperti biasa. Aku mulai menyiapkan amunisi sebelum tidur. Memasang earphone. Mendengarkan lagu yang kupilih sendiri, bukan sumbangan dari pengamen. Masker pun membuatku menghirup kecutku sendiri. Tak perlu lagi sumbangan aroma racikan parfum dan keringat penumpang lain. Tidur adalah bentuk perhatian kepada diriku sendiri.

Namun, tak seperti biasanya. Ini sudah 30 menit. Mata tak lekas terpejam. Waktuku tinggal 60 menit lagi sebelum perjalanan terasa mubazir, tidak dimanfaatkan untuk beristirahat. Sosok lelaki yang tak kebagian kursi itu ternyata membuatku risih.

Sudah empat kali aku melihatnya menggaruk-garuk kepala yang barangkali tak benar-benar gatal. Sudah tiga kali aku melihatnya mengecek jam tangan. Selagi tak menggaruk dan mengangkat jam tangan, jemarinya digerak-gerakkan. Mengetuk tiang bus. Seolah-olah mengikuti irama lagu yang ia dengar melalui earphone. Entahlah, apakah benar-benar ada lagu yang mengalun atau gelisah yang berayun.

Tak seperti biasanya. Ini sudah 60 menit. Sandiwaraku gagal. Berpura-pura terpejam justru membuatku tak lekas benar-benar tidur. Kubuka kedua mata. Sosok lelaki itu masih saja berdiri dan tampak risih.

Entah sudah berapa kali ia menggaruk-garuk kepala yang barangkali tak benar-benar gatal. Entah sudah hitungan ke berapa ia mengecek jam tangan. Selagi tak menggaruk dan mengangkat jam tangan, jemarinya kembali mengetuk tiang bus. Seolah-olah mengikuti irama lagu dari ponselnya. Entahlah. Aku kehilangan hitungan sejak berperan menjadi putri tidur tadi.

“Mas, duduk saja. Itu ada kursi kosong. Yang dua,” terdengar suara kondektur menegur lelaki itu.

Tak langsung mengikuti arahan, ia hanya memandang sang kondektur, lalu menunduk. Entahlah. Mungkin, ia tak mendengar dengan jelas akibat lagu yang mendominasi gendang telinganya.

“Mas! Itu ada yang kosong. Duduk saja!” kali ini nadanya lebih keras. Giliran kondektur yang merasa risih. Sementara itu, lelaki itu masih menunduk. Tak lama kemudian, berjalan perlahan-lahan.

“Kalau mau turun dari bus, kaki kiri dulu. Untuk keperluan yang lain, bebas saja. Kiri atau kanan, sama saja. Yang penting, bisa membawamu maju,” aku tak bisa menahan celoteh ini sebelum ia benar-benar tiba di tempat duduk yang kosong. Di sampingku. Ya. Persis.

Aku melepas earphone. Menyimpannya di dalam tas. Masker kubuka.

“Dari tadi menunduk terus. Ada yang dicari?” Semakin tak seperti biasanya, aku memulai percakapan.

“Pintu. Kau tahu? Bisa bantu?” dia tetap menjawab meski earphone masih singgah di telinganya.

“Aku tak bisa menemukan Pintu yang barangkali bisa membawamu keluar. Tapi, aku bisa mengajakmu untuk melihat sisi luar dan dalam, kapan pun kamu siap. Hingga kelak, kamu bisa memutuskan apakah benar-benar ingin keluar atau justru tetap tinggal,” aku menjadi bawel. Kembali seperti biasanya.

“Oh, iya. Kenalkan. Namaku Jendela. Namamu siapa?” aku justru acuh.

“Resah”

#np Payung Teduh – Resah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s