Nyanyian Hujan Rasa Jogja

“Ada yang suka hujan?”

Saya coba mengingat-ingat pertanyaan Mba Rara, salah satu personel Banda Neira, Kamis pada April lalu (15/4/2015). Kira-kira begitu.

Ini bukan pertama kalinya saya menyaksikan penampilan duo musik Banda Neira. Tapi, ini pertama kalinya melihat mereka tampil berkolaborasi dengan musisi lain, Gardika Gigih, Layur, Jeremia Kimosabe, dan Suta Suma Pangekshi.

Pertanyaan tentang hujan tak terdengar aneh. Basa-basi, iya. Tema acara yang saya datangi bertajuk Kita Sama-Sama Suka Hujan (KSSSH). Suasana “kejatuhan hujan” pun sengaja diciptakan. Lantai dua bangunan Rossi Musik yang ada di bilangan Jakarta Selatan dipenuhi dengan awan-awan putih. Melayang-layang. Sesekali bergoyang karena tiupan angin dari mesin pendingin. Tinggal diberi efek gemericik air saja.

IMG_6900-2

Entahlah. Meski Banda Neira berasal dari Bandung, KSSSH justru terasa Jogja. Rekan yang dibawa merupakan musisi (yang berdomisili) Jogja. Sebelumnya, mereka sudah tampil di Jogja lebih dulu dengan tajuk “Suara Awan, Sebuah Pertemuan”. Kala itu, cellist Alfian Aditya ikut serta.

IMG_6931-9

IMG_6930-8

Jogja terasa dengan logat Gigih dan Layur saat berinteraksi. Jogja terasa dengan suasana stasiun dari lagu Gigih. Bahkan, lebih kentara lagi saat respons “ya ngono kae, lah” dilakoni oleh Layur. Saat Mba Rara bertanya tentang latar belakang proses pembuatan lagu, Layur kelimpungan. Entah karena grogi atau memang bukan tipe orang yang banyak bicara.

Gardika Gigih

Gardika Gigih

Layur

Layur

Mengingatkan saya kepada seorang teman Jogja. Kalau ditanya dan diminta penjelasan, ia hanya tersenyum. Haha-hehe. Kalau ditanya sekali lagi, ia akan memberikan satu-dua kalimat. Haha-hehe. Lalu, penutupnya, “Ya ngono kae, lah”. Tapi, akan berbalik 180 derajat jika ia mengutarakannya dalam tulisan.

Jadi, bagaimana ceritanya, Layur?

Jadi, bagaimana ceritanya, Layur?

Mengingatkan saya pula kepada hal yang lain. Pernah mendengar seorang pembuat film. “Ketika film dibuat, lalu disebarkan, itu sudah menjadi hak penonton. Terserah mereka memaknainya.” Pernah juga mengobrol dengan penggiat seni lukis. Ada istilahnya semacam “pengarang sudah mati”. Si pembuat tidak lagi terlibat ketika karya sudah diterima pihak lain.

Di satu sisi, penikmat seni pun juga ingin mengetahui proses kreatif sang pembuat. Siapa tahu bisa menginspirasi dirinya. Tapi, ketika pembuat melepaskan makna kepada penikmat, apakah tidak keberatan ketika orang lain memiliki interpretasi yang berbeda?

Ah. Saya jadi melantur ke mana-mana. Ini karena rasa Jogja yang sering membuat saya melantur, selebihnya menyembunyikan keberanian untuk jujur.

Terima kasih untuk Banda Neira dan kawan-kawan yang sudah membuat saya menikmati hujan rasa Jogja.

IMG_6943-12

Tulisan (yang sempat tersimpan) lama dalam MemoPad, ruang pelarian selama di dalam bus kota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s