Cita-Cita Manis

Salah satu siswa kelas 4B SDN 08 Pancoran meminta ganti daun cita-cita. Katanya, dia keliru menulis nama di bagian samping. Saya bilang, tidak apa-apa. Tapi, dia tetap mau ganti.

Saya berikan daun yang baru. Saya simpan daun lama miliknya. Saya baca apa yang telah ia tulis. Lalu, tersenyum. Sayangnya, saya tak membaca kembali tulisan yang ada di daun baru karena bersiap menuntun anak-anak menuju lapangan, menempel daun cita-cita. Tidak tahu apakah cita-citanya berubah atau tidak.

Kelas 4B, kelas yang pada jam-jam pelajaran sebelumnya begitu “horor” menurut inspirator yang lain. Kelas Berat, kata Ibu Kepala Sekolah. Ada satu inspirator lain yang bisa mengatasinya.

Sempat minder dan takut sebelum masuk kelas. Tapi, saya justru menemukan cita-cita yang tak kalah manis pada sesi jam pelajaran terakhir.

Sampai di lapangan, kaki saya yang keseleo semakin parah. Rasanya tak sanggup kembali ke kelas untuk mengambil tas. Apalagi, ruang kelas berada di gedung yang terpisah dengan gedung utama dekat lapangan. Jalanan penuh kerikil.

“Sudah, nanti biar fasilitator yang bantu ambil,” kata seorang kawan. Sebenarnya, saya juga khawatir kalau-kalau masih ada anak yang ketinggalan di kelas, belum ikut kumpul di lapangan.

Bingung ingin nekad balik kelas atau tidak, tiba-tiba ada suara yang memanggil.

“Ibu, Ibu… Ini tas Ibu…” dua anak kelas 4B membawa tas saya.

“Anakkuuuu… Terima kasih sekali. Kalian baik hati,” saya bahagia. Kawan pun ikut tersenyum. Iya, bahagia itu sederhana ya.

Mereka sungguh perhatian. Manis.
Anak-anak. Selalu penuh kejutan. ❤️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s